Listrik mati tepat pukul 00.17.
Unit 17B langsung gelap. AC berhenti, kulkas mengeluarkan dengung terakhir, dan dari balkon terdengar hujan menampar kaca.
Aku keluar kamar dengan senter ponsel. Jati sudah di dapur menyalakan lilin darurat. Dalam cahaya kecil itu, wajahnya tidak memiliki tempat untuk menyembunyikan ekspresi.
“Kinan bilang satu lant** kena,” katanya.
Kami duduk di lant** karena ruang terasa lebih sejuk di dekat pintu balkon. Jati membagi sebungkus biskuit. Aku memakai kaos rumah longgar dan celana pendek selutut; ia mengenakan kaos hitam yang selalu terlihat seperti seragam malamnya. Tidak ada yang sensual secara sengaja. Justru ketidaksiapan kami yang membuat semuanya terasa lebih pribadi.
“Damar datang Sabtu,” kataku.
“Kamu sudah bilang soal saya?”
“Belum.”
“Takut dia marah?”
“Aku takut semua orang akan menganggap keputusan ini bukti aku tidak bisa menjaga diri.”
Jati memandang nyala lilin. “Kadang orang menyebut sesuatu perlindungan ketika sebenarnya mereka hanya ingin memastikan kita tidak bergerak terlalu jauh.”
Jantungku berdenyut keras.
Kalimat itu. Nada itu.
“Apa kita pernah bicara sebelum tinggal di sini?”
Ia menatapku. “Tidak secara langsung.”
“Secara tidak langsung?”
Hujan memenuhi jeda di antara kami.
Aku menyebut sebuah kalimat yang pernah kukirim ke Ruang 00.17: rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi rumah. Wajah Jati berubah sangat sedikit, tetapi c**up.
“Kamu tahu kalimat itu,” kataku.
“Mungkin pernah dengar.”
“Dari mana?”
Ia memutar cincin hitam di jarinya. “Alya—”
Lampu menyala kembali. Kulkas hidup, AC berdengung, dunia modern kembali dengan seluruh tempat persembunyiannya.
Jati berdiri terlalu cepat dan mengumpulkan bungkus biskuit. “Besok kamu kerja.”
“Jangan ubah topik.”
“Saya tidak bisa menjawab sekarang.”
“Tidak bisa atau tidak mau?”
Ia menatapku lama. “Dua-duanya.”
Aku ikut berdiri. Jarak kami kurang dari satu langkah. Tanganku hampir menyentuh lengannya, tetapi aku menahannya. Aku masih bertunangan. Ia masih menyimpan sesuatu. Kedekatan bukan izin.
Jati mundur duluan dan ma**k kamar.
Sebelum pintunya tertutup, aku berkata, “Kalau kamu tahu sesuatu tentangku, aku berhak tahu apa.”
Ia tidak menjawab.
Malam itu aku membuka seluruh episode lama Ruang 00.17. Di bagian kredit yang biasanya hanya menampilkan nama studio, ada satu rekaman arsip dari dua tahun lalu. Nama editor belum dihapus.
Jati Pradana.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!