Nama Jati pada kredit lama bukan bukti bahwa ia host. Ia memang sudah mengaku sebagai editor audio. Namun rasa curiga mengubah setiap benda di Unit 17B menjadi petunjuk.
Headphone hitam. Jadwal kerja pukul 00.17. Folder di layar. Cara ia mengetahui kopiku. Cara ia mengucapkan kalimat yang hanya pernah kukirim lewat suara.
Dua hari aku menahan pertanyaan. Pada hari ketiga, laptop Jati tertinggal terbuka di meja makan ketika ia mandi. Layar menampilkan aplikasi audio dan daftar folder. LANGITKECIL_27 ada di sana.
Aku berdiri dua langkah dari laptop. Aturan rumah nomor satu terngiang: tidak ma**k ruang pribadi, tidak membuka perangkat tanpa izin.
Namun itu adalah namaku. Rahasiaku.
Aku menyentuh touchpad.
“Jangan buka laptopku.”
Jati berdiri di lorong dengan rambut basah dan handuk di bahu. Suaranya lebih tajam daripada biasanya.
Aku menarik tangan. “Ada folder dengan nama samaranku.”
Wajahnya kehilangan warna.
“Jadi kamu tahu.”
“Aku tahu ada sesuatu yang seharusnya kamu jelaskan.”
Jati menutup laptop. “Bukan sekarang.”
“Kamu selalu bilang bukan sekarang.”
“Saya perlu memastikan beberapa hal.”
“Hal apa? Berapa banyak rekamanku yang kamu simpan? Sejak kapan kamu tahu aku?”
Ia memegang tepi meja. “Saya tidak pernah menyebarkan apa pun.”
“Aku belum menuduhmu menyebarkan. Aku bertanya mengapa kamu punya folder itu.”
Ponselnya berdering. Nama Bayu muncul. Jati mematikan pangg***n.
“Alya, saya akan jelaskan. Tapi saya ingin melakukannya dengan benar.”
“Kejujuran yang ditunda sampai kamu merasa nyaman tetap kebohongan bagi orang yang menunggu.”
Kalimat itu keluar sebelum kupikirkan. Jati menunduk, seolah aku baru saja menggunakan kata-katanya sendiri untuk melukainya.
Aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Nisa menelepon. Aku menceritakan semuanya kecuali isi rekaman paling pribadi.
“Jangan menyelidiki sendirian,” katanya. “Dan jangan biarkan rasa suka membuatmu menganggap ini romantis.”
“Aku tidak bilang aku suka.”
“Kamu menyebut det**l kaos hitamnya dua kali.”
Aku menutup wajah dengan bantal.
Malamnya, aku mencari arsip web Ruang 00.17. Di halaman lama yang tersimpan otomatis, nama Jati muncul sebagai editor dan pengisi suara sementara. Satu file teaser memiliki metadata: JP_HOST_FINAL.
Di luar kamar, Jati mengetuk satu kali.
“Aku tidak akan ma**k,” katanya. “Saya taruh makan di depan pintu.”
Aku menunggu langkahnya menjauh, lalu membuka pintu. Ada semangkuk sup dan kertas kecil.
Kamu berhak marah. Kamu juga berhak mendapat jawaban. Besok pukul tujuh, saya akan menjelaskan semuanya.
Di bawahnya, satu kalimat ditulis lebih kecil.
Tolong jangan percaya pada apa pun yang Bayu kirim sebelum kamu mendengar dari saya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!