Pipa di kamar Alya pecah sebelum saya sempat menjelaskan apa pun.
Air menetes dari plafon lalu berubah menjadi aliran kecil yang mengenai ranjangnya. Kami mengangkat ka**r, kardus, dan mug kuning ke ruang tamu. Kinan berjanji teknisi datang pagi. Sampai saat itu, Alya harus tidur di sofa.
“Saya bisa menginap di studio,” kata saya.
“Jangan. Ini juga rumahmu.”
Kata rumah terdengar terlalu lembut untuk situasi kami.
Saya memberikan selimut dan bantal, lalu menggelar matras tipis di lant**. Alya duduk di sofa, rambutnya tergerai karena ikatannya basah. Ia memandang laptop saya yang sudah saya simpan di kamar.
“Kamu berjanji menjelaskan.”
“Saya host Ruang 00.17.”
Kata-kata itu akhirnya keluar, tetapi belum semuanya. “Saya salah satu pendirinya. Saya mengenali cara bicaramu beberapa hari lalu.”
“Beberapa hari lalu kapan?”
Saya seharusnya menjawab Bab 3 dalam bahasa kehidupan nyata: malam pertama. Namun ketakutan menang lagi. “Belum lama.”
Alya memeluk lutut. “Kamu mendengar semua rekamanku?”
“Yang dikirim ke kanal kami, iya. Tapi saya tidak tahu identitasmu saat itu.”
“Itu membuatnya lebih baik?”
“Tidak. Hanya fakta.”
Ia menatap saya dengan mata lelah. Saya ingin duduk di sampingnya, tetapi memilih lant**. Jarak adalah satu-satunya bentuk tanggung jawab yang masih mampu saya lakukan.
“Kenapa tidak langsung bilang?”
“Karena ruang itu anonim. Saya pikir mengaku akan merampasnya dari kamu.”
“Lalu diam tidak merampas apa-apa?”
Saya tidak punya jawaban.
Hujan turun di luar. Air dari plafon menetes ke ember dengan bunyi berulang. Alya berbaring membelakangi saya, tetapi beberapa menit kemudian ia berkata, “Duduklah sampai aku tidur.”
Saya bersandar pada sisi sofa. Selimutnya turun sedikit. Saya menarik ujungnya hanya sampai menutup kakinya, tidak lebih. Tangan kami hampir bertemu di tepi sofa.
“Jati.”
“Ya?”
“Kalau aku tidak bertunangan dan kamu tidak menyimpan rahasia, apakah semua ini akan lebih mudah?”
Pertanyaan itu membuat seluruh ruang mengecil.
“Saya tidak tahu,” jawab saya. “Tapi saya tidak ingin kamu membuat keputusan besar karena malam yang buruk.”
Ia menutup mata. “Kamu selalu memilih jawaban yang benar.”
“Tidak. Saya hanya tahu jawaban yang paling aman.”
Pukul enam pagi, bel berbunyi berkali-kali. Saya membuka pintu.
Damar berdiri di luar dengan kemeja rapi dan sekantong s****an. Di belakang saya, Alya bangun di sofa dengan selimut saya di kakinya.
Wajah Damar berubah sebelum siapa pun sempat menjelaskan.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!