Ujung jemariku gemetar saat merapikan lipatan toga yang tergantung kaku di pintu lemari. Kain hitam itu tampak seperti bayangan besar yang siap menelanku hidup-hidup. Besok adalah hari yang seharusnya menjadi puncak kejayaan setelah empat tahun penuh air mata dan kafein, namun bagiku, besok terasa seperti panggung eksekusi.
Ponsel di atas meja rias bergetar hebat. Nama ‘Ibu’ berkedip di layar, memancarkan aura tuntutan yang bahkan bisa kurasakan dari jarak dua meter. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyum di depan cermin—sebuah latihan rutin untuk memastikan topengku tidak retak—sebelum menggeser tombol hijau.
"Nara, Ibu sudah memesan meja di *The Grand* untuk makan malam setelah prosesi besok," suara Ibu langsung menyambar tanpa salam. Dingin dan presisi, seperti pisau bedah. "Tante Mira akan datang membawa putranya yang baru pulang dari London. Dan tentu saja, Kak Maya serta suaminya akan duduk di meja utama."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti tersumbat gumpalan kapas. "Iya, Bu. Nara tahu."
"Satu hal lagi," jeda di seberang sana terasa mencekam. "Pastikan pendampingmu besok setara dengan kita, Nara. Ibu tidak mau melihatmu berdiri sendirian di foto keluarga sementara Maya terlihat begitu sempurna dengan suaminya. Kamu tahu betapa pentingnya citra keluarga kita di mata kolega Ayah, kan? Jangan membuat Ibu malu seperti saat kamu membawa pria berkaus oblong itu ke ulang tahun pernikahan kami tahun lalu."
Kalimat itu bukan pertanyaan, melainkan titah. Aku bisa membayangkan Ibu sedang menyesap tehnya dengan anggun, sementara di sini, duniaku seolah runtuh perlahan.
"Tentu, Bu. Dia... dia sedang sibuk dengan urusan kantornya, tapi dia pasti datang besok," dustaku lancar, sebuah bakat alami yang kupupuk demi bertahan hidup di keluarga ini.
"Bagus. Ibu tunggu di lobi universitas jam delapan pagi. Jangan terlambat."
Sambungan terputus. Aku jatuh terduduk di pinggir tempat tidur, memegangi kepala yang mulai berdenyut. Kebohongan itu meluncur begitu saja karena aku tidak sanggup membayangkan raut kecewa atau—yang lebih buruk—tatapan kasihan dari Ibu. Kenyataannya, aku tidak punya siapa-siapa. Dito, pria yang kupikir akan menemaniku selamanya, pergi meninggalkan luka dan kekosongan yang membuatku enggan membuka diri pada siapa pun selama enam bulan terakhir.
Aku melirik jam dinding. Kurang dari dua puluh empat jam.
Aku membuka laptop dengan gerakan panik, jemariku menari di atas *keyboard*, mencari nama-nama teman lama, kenalan jauh, atau siapa pun yang sekiranya bisa 'dipamerkan'. Namun, setiap nama yang muncul hanya menyisakan keputusasaan. Si A terlalu berantakan, Si B sedang di luar kota, Si C... tidak, dia tidak akan terlihat c**up 'bergengsi' di mata Ibu.
Standar Ibu bukan sekadar tampan, tapi prestisius. Seseorang yang memancarkan aura kesuksesan, kecerdasan, dan kelas sosial yang tinggi. Seseorang yang bisa membuat Tante Mira berhenti memamerkan menantunya yang lulusan Oxford itu.
Frustrasi, aku melempar ponsel ke tumpukan bantal. "Bodoh, Nara. Benar-benar bodoh," maki ku pada diri sendiri.
Aku berjalan menuju jendela apartemen, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkedip seperti ejekan. Di tengah keputusasaan itu, aku teringat sebuah percakapan singkat di kantin fakultas hukum minggu lalu. Beberapa mahasiswi berbisik tentang sebuah 'jasa unik' yang tersedia bagi mereka yang butuh citra instan. Sebuah akun anonim di forum kampus yang menawarkan jasa pendamping untuk acara-acara formal.
*Professional Partner for High-End Events,* begitu bunyi iklannya.
Awalnya aku tertawa mendengarnya. Siapa yang c**up menyedihkan sampai harus menyewa orang untuk berpura-pura peduli? Ternyata, jawabannya adalah aku. Saat ini juga.
Dengan tangan gemetar, aku meraih kembali ponselku dan mencari jejak digital akun tersebut. Butuh waktu tiga puluh menit sampai aku menemukan sebuah nomor WhatsApp di forum privat. Tanpa berpikir panjang, aku mengirim pesan singkat: *Aku butuh pendamping untuk wisuda besok pagi. Kriteria: Berkelas, cerdas, mampu berbaur dengan kalangan atas. Biaya bukan masalah.*
Hanya dalam hitungan detik, ponselku berbunyi. Sebuah profil dikirimkan kepadaku.
Mataku membelalak saat melihat foto yang tertera. Pria itu adalah Raka. Raka Sangkara. Siapa yang tidak mengenalnya? Mahasiswa berprestasi dari Fakultas Teknik yang wajahnya sering menghiasi poster promosi kampus. Dia adalah perwujudan sempurna dari kata 'idaman'. Senyumnya yang tenang dan tatapannya yang tajam selalu membuat koridor kampus terasa lebih sempit setiap kali ia lewat.
Namun, di bawah foto itu tertulis catatan kecil dari sang penyedia jasa: *Raka adalah aset terbaik kami. Tarifnya tiga kali lipat dari yang lain, dan dia punya kontrak kerahasiaan yang ketat. Apakah Anda setuju?*
Jantungku berdegup kencang. Raka? Mahasiswa emas itu menjual jasanya? Ada bagian dari diriku yang merasa muak dengan kenyataan bahwa kesempurnaan yang ia tampilkan hanyalah komoditas. Namun, bagian lain dari diriku—bagian yang paling ketakutan—merasa baru saja menemukan pelampung di tengah badai.
Aku mengetik balasan dengan cepat: *Setuju. Kirimkan kontraknya sekarang.*
Aku tahu ini adalah awal dari sebuah sandiwara berbahaya. Aku sedang mempertaruhkan integritasku demi sebuah foto keluarga yang tidak akan pernah jujur. Namun, saat bayangan wajah ketus Ibu kembali melintas, aku sadar bahwa aku lebih takut pada kenyataan daripada kebohongan ini.
Ponselku berdenting lagi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal ma**k.
*Besok jam 07.30 di depan gerbang utama. Aku akan memakai setelan abu-abu tua dan membawa buket bunga lily. Jangan terlihat gugup, Nara. Sandiwara ini hanya akan berhasil jika kamu percaya pada ceritamu sendiri.*
Aku melepaskan napas yang sejak tadi tertahan. Namaku tertulis di sana. Dia sudah tahu siapa aku. Besok, aku tidak akan menjadi Nara yang gagal. Besok, aku akan menjadi Nara yang memiliki segalanya.
Setidaknya, sampai pesta perayaan itu berakhir.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!