Lampu gantung kristal di atas meja makan bundar itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah setiap butir kacanya sedang mengawasi gerak-gerikku. Aku menyesap *red wine* perlahan, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokanku yang terasa kering kerontang. Di sebelah kiriku, Raka duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura ketenangan yang membuatku iri. Ia mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru gelap yang membuat bahunya tampak lebih lebar, dan setiap kali ia tersenyum pada ibuku, ia terlihat persis seperti menantu idaman yang selalu mereka dambakan.
"Jadi, Raka, kudengar ayahmu sedang mengurus ekspansi bisnis di Singapura?" Ayahku, Pak Hermawan, bertanya sambil memotong steak wagyu-nya dengan presisi yang mengerikan. Matanya yang tajam menatap Raka dari balik kacamata minusnya.
Aku menahan napas. Ini adalah bagian dari naskah yang kami pelajari semalam. Tanganku di bawah meja meremas serbet kain hingga kusut.
Raka meletakkan garpunya dengan pelan, tidak menimbulkan denting sedikit pun pada piring porselen itu. "Benar, Om. Masih dalam tahap negosiasi awal, jadi Ayah meminta saya untuk tidak terlalu banyak bicara dulu agar tidak mendahului rencana Tuhan," jawabnya dengan suara bariton yang stabil. Senyumnya tipis, sopan, dan sangat meyakinkan.
"Bagus. Kerahasiaan adalah kunci dalam bisnis," sahut Ayah, tampak puas.
Ibuku tersenyum lebar, jemarinya yang dihiasi cincin berlian menyentuh lengan atasku. "Nara, kamu pintar sekali memilih. Raka ini bukan cuma tampan, tapi juga rendah hati. Tidak seperti... ya, kamu tahu siapa."
Aku memaksakan sebuah tawa kecil. "Iya, Bu. Raka memang berbeda."
Baru saja aku mulai merasa bisa bernapas lega, pintu geser ruang privat restoran bintang lima ini terbuka. Seorang pelayan ma**k dengan wajah sungkan, namun ia belum sempat berucap apa pun ketika sesosok pria dengan langkah angkuh menerobos ma**k di belakangnya.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Seluruh otot di tubuhku menegang seketika.
"Maaf saya terlambat, Om, Tante. Macet di Sudirman benar-benar tidak kenal ampun," suara itu berat dan familiar, seperti gema dari mimpi buruk yang coba kukubur dalam-dalam.
Dito berdiri di sana. Ia mengenakan setelan jas abu-abu muda yang sangat kontras dengan suasana formal yang kaku ini. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan matanya yang gelap langsung mengunci pandanganku sebelum beralih ke Raka dengan kilatan penghinaan yang tidak berusaha ia sembunyikan.
"Dito? Oh, syukurlah kamu bisa datang!" Ibuku berseru, wajahnya cerah seolah-olah tidak menyadari bahwa kehadirannya adalah bencana bagiku. "Tadi Tante bilang kalau kamu senggang, mampir saja. Mari, duduk."
"Terima kasih, Tante. Saya tidak mungkin melewatkan perayaan wisuda Nara," ujar Dito. Ia menarik kursi kosong tepat di depan kami berdua, membuat meja itu terasa jauh lebih sempit dari sebelumnya.
Suasana yang tadinya penuh dengan pujian palsu yang nyaman, kini berubah menjadi medan perang yang sunyi. Aku melirik Raka. Rahangnya mengeras, garis wajahnya menegang, meskipun ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
"Nara, kamu tidak keberatan kan kalau Dito bergabung? Ayah dan Papa Dito baru saja menandatangani kerja sama baru pagi ini," Ayah berkata seolah-olah itu adalah penjelasan yang c**up untuk menghancurkan malamku.
"Tentu tidak, Yah," jawabku pendek, nyaris berbisik. Aku merasa keringat dingin mulai membasahi punggungku.
Dito memesan minuman tanpa melihat menu, lalu menyandarkan punggungnya dengan sant**. Ia menatap Raka dengan tatapan menyelidik, seolah sedang membedah lapisan demi lapisan kebohongan yang kami bangun.
"Jadi... ini Raka?" Dito memulai, nada suaranya seperti kucing yang sedang mempermainkan tikus. "Mahasiswa berprestasi yang sering dibicarakan itu? Aku merasa seperti pernah melihatmu di suatu tempat, Raka. Tapi bukan di kampus."
Raka menatap balik Dito, tenang namun tajam. "Dunia ini kecil, Dito. Kita semua mungkin pernah berpapasan di jalan."
Dito tertawa, suara tawanya kering dan tajam. "Mungkin. Tapi ingatan saya c**up kuat untuk tempat-tempat... tidak biasa. Om Hermawan, apa Nara sudah cerita bagaimana mereka bertemu? Pasti cerita yang sangat romantis, kan?"
"Kami bertemu di perpustakaan pusat, Dito. Raka membantuku mencari referensi untuk skripsiku," aku menyambar sebelum Raka sempat menjawab. Suaraku sedikit terlalu tinggi, terlalu defensif.
Dito mengangkat alisnya, lalu menyesap air putihnya pelan. "Oh, benarkah? Menarik sekali. Padahal aku dengar dari beberapa teman di kampus, Raka ini sangat sibuk. Terlalu sibuk sampai-sampai ia punya banyak... pekerjaan sampingan yang tidak diketahui banyak orang."
Aku merasakan tangan Raka di bawah meja meraih tanganku. Ia menggenggam jemariku yang gemetar, memberikan remasan lembut yang seolah berkata, *tenanglah*. Namun, kontak fisik itu justru membuatku semakin sadar betapa rapuhnya posisi kami saat ini.
"Setiap orang punya kesibukan masing-masing untuk mengisi waktu luang, Dito," balas Raka kalem. "Beberapa orang memilih untuk produktif, sementara yang lain mungkin lebih suka mengurusi urusan orang lain."
Mata Dito berkilat marah mendengar sindiran halus itu. Ia memajukan tubuhnya ke arah meja, memperpendek jarak antara dirinya dan Raka. Ayah dan Ibu tampak bingung melihat ketegangan yang mulai merayap naik, namun mereka belum menyadari gravitasi dari apa yang sedang terjadi.
"Ngomong-ngomong soal produktivitas," Dito berkata dengan senyum miring yang membuat perutku mual. "Aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama kemarin. Dia bekerja di sebuah firma finansial... katakanlah, firma yang menangani 'piutang-piutang sulit'. Dia menyebutkan sebuah nama yang sangat mirip denganmu, Raka. Atau mungkin itu hanya kebetulan? Karena tidak mungkin kan, calon menantu Om Hermawan yang sempurna ini berurusan dengan orang-orang kasar seperti mereka?"
Dunia seolah berhenti berputar. Aku menatap Dito dengan ngeri, menyadari bahwa dia tidak hanya datang untuk mengacaukan makan malam ini. Dia datang membawa bom yang siap meledakkan seluruh hidupku.
Dito merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya, dan meletakkannya di atas meja dengan layar menghadap ke atas. Sebuah foto buram tampak di sanaβsosok pria yang sangat mirip Raka sedang berdiri di sebuah gang gelap bersama dua pria berbadan besar yang tampak mengintimidasi.
"Raka," suara Ayah berubah berat, penuh selidik. "Apa maksud semua ini?"
Aku menatap Raka, berharap ia punya jawaban ajaib, namun untuk pertama kalinya sejak sandiwara ini dimulai, aku melihat keraguan yang nyata di matanya yang dalam. Di seberang meja, Dito tersenyum penuh kemenangan, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kaca dengan irama yang menyiksa telingaku.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!