Lampu kristal di langit-langit ballroom ini memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah sengaja dirancang untuk mengekspos setiap retakan kecil pada topeng yang kupakai. Aku menyesuaikan letak dasi kupu-kupuku, merasa kerah kemeja ini perlahan mencekik leherku. Di sebelahku, Nara berdiri dengan anggun, senyumnya terpahat sempurna seperti porselen mahal, meski aku bisa merasakan jemarinya yang melingkar di lenganku bergetar halus.
Aku harus tetap menjadi "Raka si Mahasiswa Berprestasi," bukan "Raka yang dikejar lintah darat." Aku harus menjadi pria yang layak bersanding dengan putri keluarga terpandang ini.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik," bisik Nara, nyaris tak terdengar di antara denting gelas sampanye dan riuh rendah percakapan tamu.
Aku menoleh, memberikan senyum miring yang selama ini menjadi senjataku di kampus. "Aku dibayar untuk menjadi yang terbaik, Ra. Jangan khawatir."
Namun, ketenanganku menguap saat kulihat sesosok pria melangkah membelah kerumunan. Dito. Ia mengenakan setelan jas yang harganya mungkin setara dengan cicilan hutang ayahku selama setahun. Tatapannya tidak tertuju pada kemegahan dekorasi pesta, melainkan terkunci padaku dengan binar kebencian yang sulit disembunyikan.
"Nara, pesta yang luar biasa," suara Dito mengalun, berat dan penuh percaya diri yang berlebihan. Ia mengabaikan uluran tangan Nara dan langsung menatapku. "Dan Raka... kita bertemu lagi. Aku tidak menyangka akan melihatmu di lingkungan seperti ini. Biasanya, orang-orang sepertimu lebih suka bersembunyi di gang gelap, bukan?"
Nara menegang. Aku bisa merasakan kuku-kukunya sedikit menekan kulit lenganku di balik kain jas. "Dito, ini hari bahagiaku. Tolong jangan mulai," ucap Nara dengan suara yang diusahakan tetap tenang.
Dito terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telingaku. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang mahal bercampur bau alkohol tipis. "Aku hanya kagum, Ra. Kagum pada betapa hebatnya kekasihmu ini bersandiwara. Dia terlihat sangat... bersih. Sangat terpelajar."
Dito kemudian mencondongkan tubuh ke arahku, suaranya merendah menjadi bisikan yang tajam. "Katakan padaku, Raka. Apakah tangan yang tadi menyalami ayah Nara adalah tangan yang sama yang minggu lalu menjambak kerah baju seorang pedagang pasar di pinggiran kota?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan ritme yang menyakitkan. Bayangan wajah Pak tua yang ketakutan saat aku menagih bunganya terlintas di benakku. Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, berusaha keras agar rahangku tidak mengeras. Aku tidak boleh terpancing. Tidak di depan orang tua Nara. Tidak di depan para kolega bisnis yang bisa menghancurkan reputasi Nara dalam sekejap.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Dito," jawabku datar. Aku mempertahankan kontak mata, membiarkan tatapanku sedingin es. "Mungkin kamu terlalu banyak minum. Efek halusinasi bisa sangat berbahaya."
Dito tertawa lebih keras, menarik perhatian beberapa tamu di sekitar kami. Nara mulai terlihat panik; matanya bergerak gelisah mencari keberadaan orang tuanya.
"Halusinasi? Menarik," Dito mengambil sebuah gelas dari nampan pelayan yang lewat tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Lalu bagaimana dengan memar di tulang rusuk kirimu? Apa itu juga halusinasi? Atau mungkin itu 'hadiah' dari klien yang tidak puas dengan cara kerjamu yang... ilegal?"
Darahku seolah membeku. Bagaimana dia bisa tahu? Memar itu kudapat dua malam lalu saat salah satu penagih hutang lain mengujiku. Rasa perih di lambungku tiba-tiba terasa nyata kembali, berdenyut seiring dengan tekanan yang diberikan Dito.
Nara menatapku, ada kilat keraguan dan ketakutan di matanya. "Raka?" bisiknya lirih, meminta penjelasan yang tidak bisa kuberikan saat ini.
"Dia hanya sedang melantur, Ra," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap stabil meski tenggorokanku terasa kering. Aku kembali menatap Dito. "Pekerjaan sampinganku sebagai asisten riset memang melelahkan, tapi aku tidak tahu kalau itu dianggap 'kotor' oleh orang sepertimu."
Dito menyeringai, sebuah ekspresi kemenangan yang membuatku ingin melayangkan tinju ke wajahnya. Ia menyesap minumannya pelan, lalu berbisik tepat di telingaku, c**up keras untuk didengar oleh Nara.
"Asisten riset? Itu istilah baru untuk 'penagih hutang jalanan'? Wah, kreatif sekali. Tapi hati-hati, Raka. Orang tua Nara sangat benci dengan... kotoran. Sekali mereka tahu siapa yang sebenarnya tidur di samping putri mereka, kamu bukan hanya akan kehilangan pekerjaan ini, tapi mungkin juga kebebasanmu."
Dito kemudian menepuk bahuku dengan kasar, seolah kami adalah kawan lama. "Nikmati pestanya, Sang Sarjana. Aku punya kejutan kecil yang akan membuat malam ini tak terlupakan. Mungkin sebuah foto atau... rekaman suara? Kita lihat saja nanti."
Ia berlalu begitu saja, meninggalkan aroma ancaman yang pekat di udara. Nara melepaskan pegangannya pada lenganku, melangkah mundur satu tahap. Ia menatapku seolah aku adalah orang asing yang tiba-tiba muncul di tengah pestanya.
"Raka... apa yang dia maksud dengan penagih hutang?" suaranya bergetar, dan kali ini bukan karena akting.
Aku ingin berbohong. Aku ingin merengkuhnya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, di ujung ruangan, aku melihat Dito sedang merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya sambil menatap ke arah meja utama tempat orang tua Nara duduk.
Waktu seolah melambat. Rahasiaku bukan lagi sekadar ancaman; itu adalah bom waktu yang jarumnya baru saja diputar lebih cepat oleh Dito. Dan aku hanya punya beberapa menit sebelum seluruh dunia Nara hancur karena kehadiranku.
"Nara, dengarkan aku," kataku, meraih jemarinya yang dingin. "Kita harus pergi dari sini. Sekarang."
Namun, sebelum Nara sempat menjawab, suara mikrofone yang berdenging keras memotong suasana. Di atas panggung kecil, Dito sudah berdiri dengan senyum liciknya, memegang sebuah map cokelat yang tampak sangat familiar di mataku. Itu adalah dokumen kontrak kerjaku dengan agensi penagihan ilegal itu.
"Hadirin sekalian, mohon perhatiannya sebentar," suara Dito menggema di seluruh ballroom, membungkam musik klasik yang sedari tadi mengalun. "Sebelum kita merayakan keberhasilan Nara, ada baiknya kita mengenal lebih dekat siapa sosok hebat di balik kesuksesannya malam ini."
Nara memandangku dengan mata membelalak, wajahnya pucat pasi. Aku tahu, detik ini juga, sandiwara ini telah mencapai babak terakhirnya yang paling berdarah.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!