Lampu jalan yang remang menyapu wajah Raka setiap kali mobil melaju melewati tiang lampu, menciptakan siluet yang tajam dan asing di mata Nara. Di dalam kabin sedan perak itu, keheningan terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang tidak kasat mata. Nara meremas tali tas desainer yang melingkar di pangkuannya, kuku-kukunya yang dipoles rapi menekan kulit sintetis itu hingga meninggalkan bekas.
Pikiran Nara berkecamuk. Kata-kata Dito di pesta tadi terus bergaung seperti kaset rusak di kepalanya. *Sindikat penagihan hutang. Raka bukan pangeran impianmu, Nara. Dia cuma preman berjas.*
Ia melirik Raka dari sudut matanya. Pria itu fokus ke jalanan di depan, tangannya mencengkeram kemudi dengan buku-jari yang memutih. Tidak ada lagi senyum menawan yang biasa ia tunjukkan di depan orang tua Nara. Yang tersisa hanyalah rahang yang mengeras dan sorot mata yang dingin, seolah ia telah memakai topeng baru yang jauh lebih menakutkan.
"Raka," panggil Nara lirih. Suaranya sedikit bergetar, sesuatu yang ia benci karena menunjukkan kerapuhannya.
Raka tidak menoleh. "Kita hampir sampai ke apartemenmu."
"Aku tidak peduli soal jarak rumah kita," sergah Nara, kali ini lebih tegas. Ia memutar tubuhnya menghadap Raka. "Dito bilang sesuatu yang g*** tadi. Dia bilang kamu terlibat dengan orang-orang berbahaya. Dia bilang... soal hutang ayahmu."
Mobil itu tiba-tiba melambat. Raka menepikan kendaraan di bahu jalan yang sepi, lalu menginjak rem dengan sentakan yang membuat tubuh Nara terdorong ke depan. Keheningan kembali menyergap, kali ini terasa lebih mengancam. Raka masih menatap lurus ke depan, napasnya terdengar berat dan teratur, seolah ia sedang berusaha keras menahan sesuatu agar tidak meledak.
"Jangan dengarkan Dito," ucap Raka pendek. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman.
"Bagaimana aku bisa mengabaikannya kalau dia terdengar begitu yakin?" Nara mencondongkan tubuh, mencoba mencari kejujuran di balik ekspresi kaku pria itu. "Raka, aku membayar kamu untuk menjadi pendampingku, untuk menjaga citraku. Tapi kalau kamu ternyata punya masalah kriminal, itu bukan cuma akan menghancurkan aku, tapi juga keluargaku. Kamu tahu betapa perfeksionisnya orang tuaku, kan?"
Raka tertawa kecil, sebuah tawa kering tanpa rasa humor yang membuat bulu kuduk Nara merinding. Ia akhirnya menoleh, menatap Nara dengan tatapan yang membuat gadis itu merasa sangat kecil.
"Citra. Kesempurnaan. Hanya itu yang ada di otakmu, ya?" Raka melepaskan sabuk pengamannya dan bersandar pada kursi. "Kamu tidak benar-benar peduli siapa aku atau apa yang kulalui. Kamu cuma takut kalau mainan mahalnya ini ternyata punya c**** yang bisa bikin kamu malu di depan papamu yang terhormat itu."
Nara tertegun. "Bukan begitu maksudku..."
"Lalu apa?" potong Raka cepat. "Kamu mau tahu kebenarannya? Kamu mau tahu kenapa aku bisa tahu cara menghadapi orang-orang seperti Dito dengan begitu tenang? Kamu mau tahu kenapa aku punya luka lebam di rusukku yang hampir kamu lihat minggu lalu?"
Jantung Nara berdegup kencang. Ia ingin tahu, tapi di saat yang sama, ia takut jawabannya akan meruntuhkan seluruh dunia sandiwara yang telah ia bangun dengan susah payah. "Katakan padaku, Raka. Jangan sembunyi di balik kontrak ini."
Raka menatapnya tajam, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Kontrak ini ada karena kamu butuh aku untuk terlihat sukses, dan aku butuh uangmu untuk bertahan hidup. Itu saja. Tidak ada ruang untuk sesi curhat atau penyelidikan latar belakang. Kamu sudah melampaui batas, Nara."
"Aku berhak tahu dengan siapa aku bekerja sama!" seru Nara, suaranya mulai meninggi. "Aku mempertaruhkan reputasiku padamu!"
"Dan aku mempertaruhkan nyawaku setiap hari, tapi aku tidak mengeluh padamu!" Raka membentak, membuat Nara tersentak mundur hingga punggungnya menempel pada pintu mobil.
Raka memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya dengan kasar. Ketika ia membuka mata kembali, emosi yang tadi meluap seolah telah membeku menjadi es. "Dengar. Jika kamu mulai mencoba menggali hal-hal yang bukan urusanmu, atau jika kamu merasa reputasi 'sempurnamu' itu terancam hanya karena rumor dari mantan kekasihmu yang g*** itu, lebih baik kita berhenti sekarang."
Nara terperangah. "Apa maksudmu?"
"Kita batalkan kontraknya," ujar Raka dingin. "Cari orang lain. Cari sarjana sungguhan yang tidak punya hutang darah. Aku akan mengembalikan sisa uangmu besok, dan kamu bisa bilang ke orang tuamu kalau kita putus karena aku tidak c**up baik untukmu. Itu narasi yang mudah, bukan? Kamu tetap jadi korban yang sempurna."
"Raka, jangan konyol. Wisuda besok lusa. Pesta makan malam dengan rekan kerja Papa tinggal tiga hari lagi. Aku tidak bisa mencari pengganti secepat itu!"
"Kalau begitu berhenti bertanya," ancam Raka. Ia menyalakan mesin mobil dengan kasar. "Ma**k ke area pribadiku berarti melanggar kesepakatan. Sekali lagi kamu bertanya soal urusan pribadiku di luar jadwal sandiwara kita, aku pergi. Aku tidak peduli seberapa hancur citramu setelah itu."
Mobil itu kembali melaju dengan kecepatan tinggi, membelah malam yang kian larut. Nara memalingkan wajah ke jendela, memandang pantulan dirinya yang terlihat pucat di kaca. Ia merasa terjebak dalam jaring yang ia tenun sendiri. Di satu sisi, ia takut pada kegelapan yang menyelimuti Raka. Namun di sisi lain, ada rasa sakit yang aneh saat menyadari bahwa Raka rela melepaskannya begitu saja demi menjaga rahasianya.
Saat mereka sampai di lobi apartemen Nara, Raka tidak turun untuk membukakan pintu seperti biasanya. Ia tetap di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan dingin.
"Turunlah," perintahnya singkat.
Nara membuka pintu mobil, namun ia berhenti sejenak sebelum melangkah keluar. "Raka, aku hanya tidak ingin kamu terluka."
Raka tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Begitu Nara menutup pintu, mobil itu langsung melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan aroma ban yang terbakar.
Nara berdiri mematung di pinggir jalan, memeluk dirinya sendiri yang kedinginan. Saat ia merogoh tasnya untuk mengambil kunci akses, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras di saku kecil tasnyaβsebuah kartu nama usang yang terjatuh dari dompet Raka saat pria itu mengambil kunci mobil tadi.
Dengan tangan gemetar, Nara mengangkat kartu itu ke bawah lampu lobi. Di sana tertulis sebuah nama perusahaan logistik yang tidak pernah ia dengar, namun di bagian belakangnya, terdapat coretan tangan kasar: *βSelesaikan dalam minggu ini, atau bunga bertambah. Jangan buat kami mendatangi gadismu.β*
Darah Nara seolah membeku. Gadismu? Apakah yang dimaksud adalah dirinya? Atau Raka punya rahasia lain yang jauh lebih berbahaya dari sekadar hutang?[]
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!