Matahari siang ini seolah tidak punya belas kasihan. Panasnya menyengat tengkukku, membuat kemeja biru muda yang kupakaiβsalah satu dari sedikit pakaian "berkelas" yang kupunyaβmulai terasa lembap oleh keringat. Aku berdiri di balik gedung perpustakaan lama, area yang jarang dilalui mahasiswa karena aromanya yang apek dan jajaran rak besi berkarat yang menumpuk tak beraturan.
Tanganku merogoh saku, meremas segepok uang yang dibungkus amplop cokelat. Itu hasil jerih payahku selama dua minggu terakhir; hasil dari sandiwara sebagai pendamping wisuda Nara, ditambah lembur di bengkel dan beberapa pekerjaan serabutan yang tidak ingin kusebutkan namanya.
"Tepat waktu seperti biasa, Raka. Memang tidak salah Ayahmu punya anak jenius sepertimu."
Suara berat itu muncul dari balik bayangan pilar beton. Beni keluar dengan puntung rokok yang masih menyala di sela jarinya. Di belakangnya, seorang pria bertubuh gempal dengan tato naga yang mengintip dari balik kaus oblongnya berdiri bersedekap. Mereka berdua tampak sangat kontras dengan lingkungan kampus yang penuh dengan ambisi anak muda dan aroma parfum mahal.
"Ini sisanya untuk bulan ini," kataku pendek, menyodorkan amplop itu tanpa ingin berbasa-basi.
Beni mengambilnya, menghitung lembaran uang di dalamnya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menguji kesabaranku. "Kurang, Raka. Bunga yang kemarin belum kau hitung."
Aku mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Kita sudah sepakat soal angkanya bulan lalu, Ben. Jangan mencoba memeras lebih banyak lagi."
Beni tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas. Ia melangkah maju, meniupkan asap rokok tepat ke wajahku. "Kesepakatan bisa berubah kalau Bos besar sedang butuh dana segar. Kau tahu sendiri bisnis penagihan ini tidak selamanya mulus. Kalau kau tidak bisa bayar dengan uang, kau tahu apa yang kami inginkan."
Ia menepuk bahuku dengan kasar. "Kami butuh orang dalam untuk melacak target di perumahan elite Menteng. Anak-anak kuliah seperti kalian punya akses ma**k yang lebih gampang, kan? Tinggal pasang wajah memelasmu itu, atau gunakan koneksi gadis kaya yang sering bersamamu itu."
Darahku mendidih saat ia menyebut Nara. Bayangan wajah Nara yang tersenyum bangga saat wisuda tadi melintas di kepalaku. Aku tidak akan membiarkan dunianya yang bersih dicemari oleh kotoran yang menempel padaku.
"Jangan libatkan dia. Urusan ini antara aku, Ayahku, dan kalian," desisku dengan suara rendah yang penuh ancaman.
"Oh, jadi si pangeran kampus sudah menemukan tuan putrinya?" Beni menyeringai, matanya berkilat jahat. "Ingat, Raka. Kau masih berhutang nyawa padaku karena tidak melaporkan Ayahmu ke polisi saat dia membawa kabur uang setoran. Kalau kau tidak mau bekerja sama untuk misi minggu depan, jangan salahkan aku kalau identitas aslimu sebagai tukang pukul dan penagih hutang bocor ke seluruh kampus. Bayangkan apa yang akan dikatakan orang tua gadis itu."
Aku hanya bisa terdiam, rahangku mengeras hingga terasa sakit. Rasa sesak di dadaku bukan karena panas udara, melainkan karena kenyataan bahwa seberapa keras pun aku berlari, masa lalu Ayahku selalu berhasil menjegal langkahku. Aku merasa seperti penipu ulung; di depan Nara aku adalah Raka yang sempurna, namun di sini, aku hanyalah pion dalam permainan ilegal yang bisa menghancurkan masa depanku kapan saja.
Beni akhirnya berbalik setelah memberikan satu tepukan lagi di dadaku, tanda bahwa percakapan selesai. Mereka berjalan menuju motor besar yang diparkir di balik semak, meninggalkan aroma nikotin yang menyesakkan.
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungku yang tidak beraturan. Aku harus segera pergi dari sini sebelum ada yang melihat. Namun, saat aku hendak melangkah menuju jalan utama, sebuah bunyi klik yang sangat halusβhampir tak terdengarβtertangkap oleh telingaku.
Aku menoleh dengan cepat ke arah deretan mobil yang terparkir sekitar sepuluh meter di sebelah kiriku. Di sana, di balik kaca gelap sebuah sedan hitam yang sangat kukenal, aku menangkap kilatan lensa kamera ponsel.
Jantungku seolah berhenti berdetak selama satu detik.
Kaca mobil itu perlahan turun, memperlihatkan wajah Dito yang sedang menyeringai puas. Ia memegang ponselnya dengan posisi horizontal, jempolnya masih berada di atas tombol shutter. Tatapannya penuh kemenangan, seolah dia baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya.
"Menarik sekali, Raka," teriak Dito dari dalam mobil, suaranya mengandung nada ejekan yang kental. "Siapa sangka mahasiswa teladan kebanggaan rektorat sedang bertransaksi dengan lintah darat di pojokan kampus? Dan kulihat tadi ada sedikit 'kontak fisik' yang c**up intim. Apa itu bagian dari kontrak kerjamu juga?"
Aku melangkah maju dengan emosi yang meluap, namun Dito dengan cepat menghidupkan mesin mobilnya.
"Jangan mendekat, atau foto-foto ini akan terkirim ke grup chat keluarga Nara dalam hitungan detik," ancamnya sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Aku punya semua sudutnya. Wajahmu, wajah preman itu, dan amplop cokelat itu. Sangat artistik untuk sebuah skandal."
"Dito, hapus foto itu!" teriakku, namun ia hanya membalas dengan tawa keras yang menggema di area parkir yang sepi itu.
"Ini lebih baik dari yang kubayangkan. Nara ingin punya pacar yang prestisius, kan? Mari kita lihat bagaimana reaksinya saat tahu pacar sewanya ini sebenarnya adalah bagian dari sindikat kriminal."
Tanpa menunggu jawabanku, Dito menginjak gas. Ban mobilnya mencit cit keras, meninggalkan jejak hitam di aspal dan kepulan asap yang membuat mataku pedih. Aku berdiri mematung, melihat mobilnya menjauh dan menghilang di belokan.
Keringat dingin kini benar-benar membasahi punggungku. Ponsel di sakuku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari Nara.
*Nara: Raka, kamu di mana? Mama dan Papa sudah menunggumu di restoran untuk makan siang perayaan. Cepat ya, mereka sangat ingin mengobrol lebih banyak denganmu!*
Aku menatap layar ponsel itu dengan tangan gemetar. Sandiwara ini baru saja berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Dito tidak hanya memegang buktiku sebagai pacar sewaan, dia memegang sesuatu yang jauh lebih mematikan: fakta tentang sisi gelap hidupku yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat.
Satu langkah salah, dan aku tidak hanya akan kehilangan pekerjaan ini, tapi aku akan menyeret Nara ma**k ke dalam lubang hitam yang selama ini berusaha kuhindari. Aku harus melakukan sesuatu sebelum Dito meledakkan bom itu di depan wajah Nara.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!