Suara denting alat makan yang beradu dengan piring porselen di aula hotel ini mendadak terdengar seperti suara palu yang menghantam paku peti mati. Aku berdiri di sudut balkon yang remang-remang, menjauh dari hingar-bingar pesta kelulusanku yang seharusnya menjadi malam kemenangan. Namun, di hadapanku, kemenangan itu terasa seperti abu yang siap ditiup angin.
Dito berdiri terlalu dekat. Ia menyesap sisa sampanye di gelasnya dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sengaja ingin menyiksaku dengan keheningan ini. Aroma parfumnya yang berat dan maskulin—aroma yang dulu sempat kubanggakan saat kami masih bersama—kini justru membuat perutku mual.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini, Nara," ucapnya pelan, suaranya halus namun tajam. "Kebaya itu, sanggul itu... kau benar-benar definisi putri kesayangan keluarga terpandang."
Aku mengeratkan pegangan pada tas kecil di tanganku hingga buku-buku jariku memutih. "Apa maumu, Dito? Aku tidak punya waktu untuk nostalgia sampah."
Dito terkekeh. Ia meletakkan gelas kosongnya di pagar balkon, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan ponsel, mengotak-atik layarnya sebentar, lalu menyodorkannya ke arahku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu adalah foto Raka—bukan Raka yang memakai setelan jas rapi di sampingku tadi, melainkan Raka yang memakai jaket hitam lusuh, berdiri di depan sebuah ruko tua bersama dua pria berwajah sangar. Di tangan Raka ada sebuah map tebal yang aku tahu betul isinya: daftar tunggakan hutang.
"Pahlawanmu ini... ternyata bukan pangeran berkuda putih, ya?" Dito melangkah satu tindak lebih maju, memaksaku mundur hingga punggungku menab**k pagar balkon yang dingin. "Dia hanya seorang pesuruh sindikat penagih hutang. Seorang preman berkedok mahasiswa idola. Dan oh, jangan lupakan bagian terbaiknya: dia disewa, bukan?"
Darah serasa surut dari wajahku. Paru-paruku mendadak mengecil, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha yang sia-sia. "Kau... dari mana kau..."
"Jangan remehkan obsesiku, Sayang," potongnya. Ia menyentuh ujung rambutku, namun aku segera menepis tangannya dengan kasar. Dito tidak marah, ia justru tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Bayangkan wajah ayahmu yang terhormat itu kalau dia tahu putri kebanggaannya membawa pulang seorang penjahat kerah biru untuk membohongi seluruh keluarga besar. Karir politik ayahmu, reputasi ibumu... hancur dalam semalam karena satu sandiwara konyol."
"Jangan bawa-bawa keluargaku!" desisku, suaraku bergetar hebat meskipun aku berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegas.
"Maka berikan apa yang kuinginkan," suara Dito berubah menjadi perintah yang mutlak. "Putuskan hubungan konyol ini sekarang juga. Depak pria sampah itu dari hidupmu sebelum malam ini berakhir. Dan kembalilah padaku. Kita akan berpura-pura bahwa semua ini tidak pernah terjadi. Aku akan membungkam mulutku, dan kau akan tetap menjadi putri sempurna di mata dunia."
Aku menatap matanya yang gelap, mencari sedikit saja sisa empati, namun yang kutemukan hanyalah ego yang haus akan kekuasaan. Dito tidak menginginkanku karena cinta; dia menginginkanku karena dia tidak tahan melihat miliknya—objek yang dianggapnya properti—dimiliki orang lain, apalagi oleh seseorang seperti Raka.
"Kau g***," bisikku. "Kau memintaku untuk kembali padamu setelah semua yang kau lakukan?"
"Aku memintamu untuk menyelamatkan dirimu sendiri, Nara," Dito memperbaiki kerah jasnya dengan sant**. "Pilihannya sederhana. Kau kembali padaku dan menjaga mahkotamu tetap tegak, atau kau tetap membela 'pacar sewaanmu' itu dan kita lihat seberapa cepat dunia menghancurkanmu. Aku punya bukti keterlibatan Raka dalam pemerasan ilegal minggu lalu. Satu klik, dan pangeranmu itu akan berakhir di balik jeruji besi, dan namamu akan terseret ke lumpur yang paling dalam."
Aku menoleh ke arah dalam aula melalui pintu kaca. Di sana, di tengah kerumunan, aku bisa melihat Raka. Dia sedang berbicara dengan tanteku, tersenyum sopan, menunjukkan tata krama yang luar biasa meski aku tahu betapa lelahnya dia. Dia bekerja sangat keras demi melunasi hutang ayahnya, mempertaruhkan nyawanya di jalanan yang gelap, sementara aku di sini, sibuk mengkhawatirkan citra yang bahkan tidak nyata.
Raka sempat menoleh ke arah balkon, seolah merasakan pandanganku. Ia memberiku anggukan kecil dan senyum tulus yang membuat dadaku sesak. Dia adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah semua kepalsuan ini.
"Waktumu tidak banyak, Nara," suara Dito memecah lamunanku. Ia memeriksa jam tangan Rolex-nya. "Sepuluh menit. Jika kau tidak mengumumkan perpisahan kalian atau setidaknya memberinya alasan untuk pergi malam ini, foto-foto ini dan laporan tentang keterlibatan Raka akan sampai ke meja redaksi berita kampus dan ponsel ayahmu."
Dito kemudian berbalik, meninggalkanku sendirian di kegelapan balkon. Angin malam menusuk kulitku, namun rasa dingin yang kurasakan berasal dari dalam diriku sendiri.
Aku menatap tanganku yang gemetar. Seluruh hidupku, aku telah berlari dari kegagalan. Aku telah memakai topeng kesempurnaan hingga aku lupa seperti apa wajah asliku. Sekarang, harga dari topeng itu adalah menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar melihatku tanpa peduli pada semua embel-embel prestasiku.
Aku melangkah perlahan menuju pintu kaca, kembali ma**k ke dalam aula yang hangat. Musik masih mengalun, tawa masih terdengar, namun bagiku, semuanya terasa seperti latar belakang dari sebuah kecelakaan yang sedang terjadi dalam gerak lambat.
Aku mendekati Raka. Dia menyadari ada yang salah dari raut wajahku. Ia segera berpamitan pada lawan bicaranya dan menghampiriku dengan raut cemas.
"Nara? Kamu pucat sekali. Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lembut, tangannya terulur ingin menyentuh bahuku namun ia ragu karena posisi kami yang masih di depan umum.
Aku menatap mata cokelatnya yang dalam, mencari kekuatan di sana, namun yang terbayang justru bayangan jeruji besi yang dikatakan Dito. Aku mencint**nya. Kesadaran itu menghantamku seperti godam tepat di ulu hati. Dan karena aku mencint**nya, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk melindunginya, meski itu berarti aku harus menjadi penjahat dalam ceritaku sendiri.
"Raka," suaraku serak, hampir tidak terdengar. "Ada yang harus kubicarakan. Sekarang."
Aku menoleh ke sudut ruangan, di mana Dito berdiri dengan gelas sampanye baru di tangannya, menatapku dengan seringai kemenangan yang memuakkan. Aku tahu, satu langkah salah akan menghancurkan segalanya. Dan saat ini, aku sedang berjalan tepat menuju jurang itu.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!