Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku karena jemariku yang tak kunjung berhenti gemetar. Aku menggenggam gelas kopi plastik yang isinya sudah mendingin, duduk di bangku taman belakang apartemen yang sepi. Di hadapanku, Raka berdiri bersandar pada pagar pembatas, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti berlian yang tumpah di atas beludru hitam.
Wajahnya terlihat lelah. Sinar lampu jalan yang temaram mempertegas garis rahangnya dan kantung mata yang mulai menghitam. Raka, sang idola kampus yang selalu dipuja karena ketampanan dan kecerdasannya, kini terlihat seperti pria biasa yang memikul beban dunia di pundaknya. Dan akulah yang menambah beban itu.
"Nara? Kamu manggil aku ke sini bukan cuma buat liatin lampu kota, kan?" Suara Raka memecah keheningan. Ia menoleh, senyum tipis yang biasanya menenangkan kini terasa getir di mataku.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti disumbat kerikil. "Dito datang menemuiku tadi siang."
Gerakan Raka terhenti. Ia tidak lagi memandangi kota. Matanya kini terkunci padaku, tajam dan waspada. "Apa yang dia mau kali ini?"
"Dia tahu segalanya, Raka," bisikku. Suaraku bergetar, hampir hilang ditelan angin malam. "Dia tahu soal kontrak kita. Dia tahu aku menyewamu untuk wisuda itu."
Raka terdiam. Aku bisa melihat jakunnya bergerak saat ia menelan ludah. Namun, ia tidak terlihat terkejut seperti yang kubayangkan. Ia hanya menghela napas panjang, seolah-olah pengakuan itu adalah sesuatu yang sudah lama ia tunggu untuk jatuh.
"Hanya itu?" tanyanya pelan.
Aku meremas gelas plastik di tanganku hingga menimbulkan bunyi derit yang memilukan. "Tidak. Bukan hanya itu." Aku menjeda, mencari keberanian di sela detak jantungku yang kian kencang. "Dia tahu tentang keterlibatanmu dengan... sindikat penagihan hutang itu. Dia bilang dia punya bukti kalau kamu bekerja untuk mereka. Dia mengancam akan membongkar semuanya ke orang tuaku, ke kampus, ke polisi."
Hening yang mengikuti kata-kataku terasa mencekam. Aku berharap Raka akan tertawa. Aku berharap dia akan bilang kalau Dito hanya membual, kalau itu semua adalah fitnah kejam dari seorang mantan yang sakit hati. Aku ingin dia menyangkalnya agar citra sempurna yang selama ini kubangunβdan yang ia perankanβtetap utuh.
Namun, Raka tidak tertawa. Ia malah membuang muka, menatap kegelapan di bawah sana.
"Raka, katakan sesuatu," desakku. Air mata mulai menggenang di sudut mataku. "Katakan kalau Dito bohong. Katakan kalau kamu nggak mungkin melakukan hal serendah itu. Kamu mahasiswa berprestasi, Raka. Kamu punya masa depan."
Raka berbalik perlahan. Ekspresinya kini kosong, tidak ada lagi topeng ramah yang biasa ia pakai. "Nara, kamu pikir kenapa aku butuh uang itu? Kenapa aku mau menerima tawaran konyolmu untuk jadi pacar bayaran?"
"Karena... hutang ayahmu?" jawabku ragu.
"Hutang ayahku bukan cuma angka di atas kertas, Nara. Itu adalah lubang hitam yang menghisap nyawa kami," suaranya merendah, terdengar parau dan penuh luka. "Bunga bank, rentenir... mereka nggak peduli aku mahasiswa teladan atau bukan. Mereka hanya mau uangnya kembali. Dan saat aku nggak punya apa-apa lagi untuk dijual, aku menjual tenagaku. Apa pun itu."
Aku terpaku. Hatiku mencelos. "Jadi... itu benar? Kamu benar-benar jadi bagian dari mereka?"
Raka melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami. Ia menunjukkan telapak tangannya yang kasar, ada bekas luka kecil di sana yang baru kusadari. "Dito nggak bohong. Aku memang pernah berdiri di depan pintu rumah orang-orang, menagih uang yang mereka nggak punya, dengan cara yang nggak akan pernah berani kamu bayangkan. Aku melakukannya supaya ayahku nggak habis dihajar, supaya adikku bisa tetap makan."
Duniaku rasanya berputar. Citra Raka yang sempurna hancur berkeping-keping di depanku. Namun, anehnya, yang kurasakan bukan hanya kekecewaan, melainkan rasa sakit yang luar biasa melihat pria yang mulai kucint** ini harus melalui neraka demi bertahan hidup.
"Kenapa kamu nggak cerita?" tanyaku dengan suara serak.
"Cerita padamu?" Raka tertawa getir, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Nara, kamu adalah orang yang paling terobsesi dengan kesempurnaan yang pernah kutemui. Kamu menyewaku supaya kamu nggak terlihat gagal di mata keluargamu. Bagaimana mungkin aku bisa bilang kalau 'aksesori' yang kamu sewa ini sebenarnya adalah seorang kriminal?"
Aku berdiri, membiarkan gelas kopiku jatuh ke lant**. "Tapi sekarang Dito memegang kartu itu, Raka! Dia akan menghancurkanmu. Dia akan menghancurkan kita berdua!"
Raka meraih bahuku, genggamannya kuat namun terasa gemetar. "Dia memang akan melakukannya. Dito nggak akan berhenti sampai dia melihatku hancur dan kamu kembali merangkak padanya."
"Lalu kita harus apa?" isakku. Air mata kini mengalir deras membasahi pipiku. "Aku nggak mau kehilangan semuanya, tapi aku juga nggak bisa membiarkan dia menyakitimu."
Raka menatapku dalam-dalam, matanya memancarkan keputusasaan yang sama besarnya dengan miliku. "Nara, kamu punya pilihan. Kamu bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Pergi ke orang tuamu, bilang kalau aku yang menipumu, kalau aku yang memerasmu. Lempar semua kesalahannya padaku sebelum Dito bergerak. Mereka akan percaya padamu. Kamu akan tetap jadi putri mereka yang sempurna."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Aku nggak bisa melakukan itu."
"Kenapa tidak? Itu yang selalu kamu lakukan, kan? Menjaga citra?"
"Karena kali ini bukan cuma soal citra!" teriakku di depannya. "Karena aku peduli padamu, bodoh!"
Raka tertegun. Genggamannya di bahuku mengendur. Sebelum ia sempat membalas, ponsel di saku mantelku bergetar hebat. Sebuah pesan ma**k. Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Itu dari Dito. Sebuah foto Raka yang sedang berdiri di depan sebuah gudang tua bersama dua pria berbadan besar yang terlihat sangat mengancam. Di bawahnya, ada pesan singkat: *'Sepuluh menit dari sekarang, foto ini akan sampai ke email dekan dan grup WhatsApp keluargamu. Kecuali, kamu datang ke tempat biasa sekarang juga. Sendiri.'*
Aku menatap Raka dengan wajah pucat pasi. Waktu kami sudah habis. Sandiwara ini bukan lagi sekadar pura-pura bahagia di depan orang tua, melainkan sebuah pertaruhan nyawa dan masa depan yang sesungguhnya.
"Raka..." aku menyerahkan ponselku padanya dengan tangan lemas.
Saat Raka membaca pesan itu, raut wajahnya berubah menjadi sesuatu yang sangat dingin, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia tidak lagi terlihat seperti mahasiswa idola. Ia terlihat seperti seseorang yang siap melakukan hal paling berbahaya di dunia untuk melindungi apa yang tersisa darinya.
"Jangan pergi, Nara," desisnya, suaranya mengandung ancaman yang bukan ditujukan padaku. "Kalau kamu pergi menemuinya, dia nggak akan pernah melepaskanmu. Biar aku yang selesaikan ini dengan caraku."
Aku menarik ujung jaketnya. "Caramu yang mana, Raka? Cara yang ilegal itu? Kamu bisa ma**k penjara!"
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatapku sekilas sebelum berbalik dan berjalan cepat menuju parkiran, meninggalkanku dalam kedinginan malam yang mencekam. Aku tahu, jika aku membiarkannya pergi sendirian, malam ini tidak hanya akan menghancurkan reputasiku, tapi mungkin juga akan merenggut nyawa Raka untuk selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!