Jemari Raka gemetar saat ia berusaha merapikan simpul dasi sutra berwarna biru gelap di depan cermin retak di kamar kosnya. Dasi itu adalah pemberian Nara, bagian dari "seragam" yang harus ia kenakan untuk tampil sebagai kekasih sempurna di hadapan keluarga besar sang mahasiswi berprestasi. Di bawah lampu bohlam yang berkedip-kedip, Raka melihat pantulan dirinya yang tampak asing. Jas mahal ini terasa seperti kulit orang lain yang dipaksakan menempel pada tubuhnya yang penuh lebam tersembunyi.
Ponselnya di atas meja kayu yang reyot bergetar hebat. Nama *Nara* muncul di layar disert** rentetan pesan singkat yang penuh kecemasan.
*“Raka, kamu di mana? Acara makan malam besarnya mulai tiga puluh menit lagi. Ayah sudah mulai bertanya.”*
*“Raka? Tolong angkat. Aku gugup sekali.”*
Raka memejamkan mata erat-erat. Setiap getaran ponsel itu terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke dadanya. Ia ingin sekali menjawab. Ia ingin meyakinkan Nara bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan berdiri di sana, menggenggam tangannya, dan memainkan peran sebagai pangeran idaman sekali lagi. Namun, pesan lain yang ma**k sepuluh menit lalu dari nomor tak dikenal telah mengubah segalanya.
Sebuah foto. Foto Nara yang sedang tertawa di lobi restoran mewah tempat acara berlangsung, diambil dari jarak jauh. Di bawahnya tertulis kalimat singkat yang mematikan: *“Satu langkah ma**k ke ruangan itu, dan aku akan memastikan polisi menjemputmu di depan ayahnya. Pilihannya sederhana: kamu menghilang, atau dia ikut hancur bersamamu.”*
Dito. Raka tahu itu ulah Dito. Ba****** itu tidak hanya sekadar ingin menghancurkan sandiwara mereka, tapi ia tahu titik lemah Raka. Dito memegang bukti keterlibatan Raka dalam sindikat penagihan hutang ilegal—pekerjaan kotor yang terpaksa Raka ambil demi melunasi sisa hutang ayahnya yang menggunung. Jika Raka muncul malam ini, Dito tidak akan ragu menyeret Nara ke dalam pusaran lumpur hitam yang selama ini mati-matian Raka sembunyikan.
"Maafkan aku, Ra," bisik Raka pelan. Suaranya pecah di kesunyian kamar yang pengap.
Ia melepas dasi itu dengan kasar, seolah kain sutra itu tiba-tiba mencekik lehernya. Ia melemparkannya ke atas tempat tidur yang berantakan. Raka melangkah mundur, menjauh dari cermin, menjauh dari citra mahasiswa idola yang ia bangun selama ini. Ia meraih ponselnya, melihat profil Nara yang tersenyum di foto kontak. Begitu ambisius, begitu perfeksionis, namun begitu rapuh di balik topengnya. Nara butuh pengakuan keluarganya lebih dari apa pun di dunia ini, dan jika ia tertangkap bersama seorang kriminal di malam kelulusannya, hancur sudah seluruh hidup yang telah ia susun dengan susah payah.
Ponsel itu berdering lagi. Pangg***n ma**k. Raka menatap layar itu dengan tatapan kosong. Bayangan wajah Nara yang cemas, yang terus-menerus melirik ke pintu ma**k restoran, mulai menghantui benaknya. Ia bisa membayangkan bagaimana Nara akan mondar-mandir di toilet, membetulkan riasannya yang sempurna sambil berusaha menahan tangis karena orang yang ia sewa—dan mungkin mulai ia cint**—tidak kunjung datang.
Dengan gigi terkatup, Raka menekan tombol daya. Ia menahannya selama beberapa detik sampai layar ponsel itu menggelap sepenuhnya. Mati. Seperti harapannya malam ini.
Raka menjatuhkan diri di lant** semen yang dingin, menyandarkan punggungnya pada kaki tempat tidur. Ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya. Di luar, suara klakson kendaraan di jalanan Jakarta terdengar bersahutan, kontras dengan kesunyian mematikan di dalam dirinya. Ia merasa seperti pecundang terbesar. Ia disewa untuk menyelamatkan Nara, tapi sekarang, satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan mengkhianatinya.
Waktu terus berjalan. Jarum jam di dinding seolah berdetak lebih keras, menghitung mundur kehancuran reputasi Nara di restoran sana. Raka tahu, ketidakhadirannya adalah sebuah skandal besar bagi keluarga Nara yang g*** hormat. Nara akan berdiri sendirian di hadapan Ayahnya yang dingin dan Ibunya yang menuntut penjelasan. Ia akan dipermalukan. Ia akan dianggap gagal membawa "pendamping prestisius" yang ia bangga-banggakan.
Air mata frustrasi menetes di pipi Raka. Ia benci Dito, tapi ia lebih membenci dirinya sendiri karena tidak memiliki kekuatan untuk melawan tanpa menyeret Nara ke jurang. Ia adalah bom waktu, dan malam ini ia memutuskan untuk meledakkan dirinya sendiri di tempat terpencil agar serpihannya tidak melukai Nara.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar di pintu kamarnya. Raka tersentak. Apakah itu Dito yang datang untuk memastikan ia tidak pergi? Atau orang-orang dari sindikat yang menagih setoran?
"Raka! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!"
Suara itu bukan milik Dito. Itu suara berat dan parau yang sangat ia kenali. Salah satu orang lapangan dari organisasi ilegal tempatnya bekerja.
Raka berdiri dengan waspada, otot-ototnya menegang. Ia menyadari satu hal: Dito tidak hanya mengancamnya untuk menjauh dari Nara, tapi ba****** itu mungkin sudah menjual informasi keberadaannya malam ini kepada orang-orang yang selama ini ia hindari.
Ia menoleh ke arah jendela kecil yang menuju ke gang sempit di belakang kosnya. Jika ia tetap di sini, ia tertangkap. Jika ia pergi ke restoran, Nara hancur. Raka meraih jaket kulit kusamnya, meninggalkan jas mahal dan dasi biru itu tergeletak tak berdaya di atas ka**r.
Saat gagang pintu mulai bergerak dipaksa dari luar, Raka memanjat keluar jendela, menghilang ke dalam kegelapan gang yang lembap. Di kepalanya hanya ada satu pikiran yang tersisa: Nara sekarang sendirian di tengah pesta itu, menghadapi singa-singa yang siap menerkamnya, sementara satu-satunya orang yang memegang kunci sandiwara mereka telah lenyap tanpa jejak.
Sandiwara ini belum berakhir, namun panggungnya telah runtuh sebelum tirai sempat ditutup. Dan Raka tahu, besok pagi, dunia Nara—dan dunianya—takkan pernah sama lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!