Sepasang sepatu hak tinggi berwarna *nude* yang biasanya menemaniku melangkah anggun di koridor kampus yang bersih, kini harus berjuang keras melewati permukaan aspal yang retak dan becek. Aku mengerutkan kening, secara otomatis menarik ujung rok kain katunku agar tidak menyentuh genangan air berwarna hitam pekat di sisi gang. Bau sampah yang membusuk bercampur dengan aroma gorengan dari warung pinggir jalan menyengat indra penciumanku, membuatku nyaris ingin berbalik arah saat itu juga.
Ini bukan duniaku. Ini bukan tempat di mana "Nara yang Sempurna" seharusnya berada.
Aku menatap secarik kertas di genggamanku, alamat yang aku dapatkan setelah memaksa salah satu teman angkatan Raka yang pernah melihatnya pulang ke daerah ini. Mataku menyisir deretan rumah petak yang berdiri berhimpitan, dipisahkan hanya oleh kabel-kabel listrik yang malang-melintang seperti sarang laba-laba raksasa di atas kepala. Di sini, privasi terasa seperti kemewahan yang mustahil didapat; suara televisi dari satu rumah terdengar jelas hingga ke tengah jalan, bersahutan dengan tangisan bayi dan denting piring yang dicuci.
"Cari siapa, Mbak?" seorang ibu yang tengah menjemur pakaian di atas selokan menyapaku dengan tatapan menyelidik. Ia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah aku adalah alien yang baru saja mendarat di planet yang salah.
"Raka, Bu. Raka Pradipta. Apa benar ini blok C?" suaraku sedikit bergetar, berusaha tetap sopan meski jantungku berdegup kencang karena kegelisahan yang tak terkendali.
Ibu itu menunjuk ke ujung gang dengan dagunya. "Ujung sana, Mbak. Yang pintunya triplek biru. Tapi kalau jam segini biasanya dia lagi... ya, begitu."
"Begitu" apa? Aku tidak sempat bertanya lebih lanjut karena ibu itu sudah kembali sibuk dengan cuciannya.
Aku melangkah maju, tanganku mengepal hingga kuku-kukuku menekan telapak tangan. Selama ini, Raka yang kukenal adalah sosok yang selalu rapiβmeski bajunya sederhana, ia selalu wangi dan terlihat berkelas. Ia adalah pria yang membuat seluruh mahasiswi di fakultas menoleh. Namun, saat aku berdiri di depan pintu triplek berwarna biru yang sudah mengelupas itu, citra Raka yang sempurna mulai retak di kepalaku.
Pintu itu tidak tertutup rapat. Aku hendak mengetuk, namun gerakanku terhenti saat mendengar suara dari dalam.
"Hanya segini?" Itu suara berat seorang pria yang tidak kukenal. "Ayahmu berhutang banyak, Raka. Bunga itu tidak akan berhenti berjalan hanya karena kamu merasa kasihan pada dirimu sendiri."
"Aku akan membayarnya minggu depan. Aku baru saja mendapatkan tambahan dari... proyek kemarin." Itu suara Raka. Tapi nadanya berbeda. Tidak ada kehangatan yang biasanya ia tunjukkan saat bersandiwara menjadi pacarku. Suaranya terdengar lelah, parau, dan penuh beban yang seolah mampu meruntuhkan bahunya yang lebar.
Aku memberanikan diri mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Ruangan itu sempit, mungkin hanya seukuran kamar mandiku di rumah. Tidak ada kursi empuk atau meja m***ni. Yang ada hanya ka**r tipis di lant**, tumpukan buku-buku kuliah di sudut yang lembap, dan sebuah kipas angin kecil yang berderit nyaring. Raka berdiri membelakangiku, mengenakan kaus oblong putih yang sudah menguning di bagian kerah. Di depannya berdiri dua pria berjaket kulit dengan raut wajah sangar yang sedang menghitung beberapa lembar uang ratusan ribu.
Uang itu. Aku tahu persis jumlahnya. Itu adalah bagian dari sisa uang muka yang kuberikan padanya kemarin.
Dadaku terasa sesak. Aku menyadari bahwa uang yang bagiku hanyalah cara untuk membeli "citra" di depan orang tuaku, bagi Raka adalah alat untuk bertahan hidup dari kejaran orang-orang ini. Sandiwara kami bukan sekadar permainan baginya; itu adalah nyawa.
Setelah kedua pria itu pergi melewati pintu belakang, aku memberanikan diri mendorong pintu depan. Bunyi derit pintu yang memilukan membuat Raka tersentak dan berbalik dengan cepat.
"Raka..."
Ia mematung. Untuk sesaat, aku melihat ekspresi yang belum pernah kutemukan di wajahnya: rasa malu yang amat dalam. Ia secara refleks menarik tangannya ke belakang punggung, seolah ingin menyembunyikan realitas kumuh ini dariku. Matanya yang biasanya tenang kini membelalak penuh keterkejutan.
"Nara? Bagaimana bisa kamu..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya yang mengenaskan, lalu kembali menatapku yang masih berdiri membeku dalam balutan pakaian bermerek.
"Dito tahu, Raka," bisikku, suaraku hampir hilang. "Dito tahu soal sandiwara kita. Dia juga tahu soal... mereka." Aku melirik ke arah pintu tempat kedua pria tadi keluar.
Wajah Raka seketika berubah pucat. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang biasanya kami jaga di depan umum. "Dia bilang apa padamu?"
"Dia mengancam akan menghancurkanmu. Dia bilang kamu terlibat dalam sindikat penagihan hutang ilegal untuk menutupi hutang ayahmu. Dia punya bukti, Raka." Aku melangkah maju, tidak peduli lagi dengan debu yang mengotori sepatuku. "Kenapa kamu tidak bilang padaku seberapa parah situasinya?"
Raka tertawa getir, sebuah tawa yang tidak sampai ke matanya. "Bilang apa, Nara? Bahwa pangeran sewaanmu ini sebenarnya hanya sampah dari pinggiran kota yang sedang berusaha tidak mati tenggelam? Kamu menyewa aku untuk menjadi sempurna, bukan untuk mendengar keluh kesah tentang hutang judi ayahku."
Ia membuang muka, dan saat itulah aku melihatnya. Di sudut bibirnya ada luka memar yang baru, dan di lengan bawahnya terdapat bekas cakaran yang masih merah. Hatiku mencelos. Selama ini aku hanya peduli pada reputasiku sendiri, pada bagaimana orang tuaku akan memandangku, tanpa menyadari bahwa pria di depanku ini sedang bertarung di tengah neraka setiap harinya.
Tiba-tiba, ponsel Raka yang tergeletak di atas ka**r bergetar hebat. Sebuah pesan ma**k. Raka menyambarnya, dan aku bisa melihat rahangnya mengeras seketika.
"Ada apa?" tanyaku panik.
Raka menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara ketakutan dan keputusasaan yang murni. "Dito. Dia tidak hanya ingin menghancurkanku, Nara."
Raka membalikkan layar ponselnya ke arahku. Di sana terlihat sebuah foto diam-diam yang diambil beberapa menit lalu. Foto aku, yang sedang berdiri di depan pintu rumah petaknya yang kumuh.
Di bawahnya tertulis pesan singkat: *'Gadis perfeksionis di sarang penyamun. Menurutmu, apa yang akan dikatakan ibunya jika melihat putri kesayangannya ada di sini bersama seorang kriminal?'*
Belum sempat aku merespons, suara deru motor besar terdengar berhenti tepat di depan pintu. Bukan hanya satu, tapi beberapa motor. Jantungku seolah berhenti berdetak saat pintu triplek itu ditendang kasar dari luar hingga nyaris terlepas dari engselnya.
"Raka! Keluar sekarang atau kami bakar tempat ini!"
Raka langsung menarik lenganku, membawaku ke belakang tubuhnya. Dunianya yang keras baru saja bertab**kan dengan duniaku, dan kali ini, tidak ada naskah sandiwara yang bisa menyelamatkan kami.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!