Lampu gantung kristal di langit-langit *ballroom* hotel bintang lima itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah mengejek kegelisahan yang merayap di balik gaun satin yang kukenakan. Aku menggenggam gelas sampanye kosong hingga buku-buku jariku memutih. Di sebelahku, Raka berdiri tegak, mengenakan setelan jas yang pas di tubuhnya, memberikan senyum sopan kepada setiap rekan alumni yang menyapa. Ia terlihat seperti pangeran, persis seperti citra yang kubayar mahal untuk ia perankan.
Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.
Suara denting notifikasi ponsel yang serempak memenuhi ruangan. Satu, dua, lalu puluhan ponsel menyala hampir bersamaan. Suara bisik-bisik yang semula hanya sayup-sayup, tiba-tiba berubah menjadi gelombang gumaman yang tajam dan menusuk.
Aku merasakan firasat buruk saat melihat beberapa orang mulai melirik ke arah kami, lalu kembali menatap layar ponsel mereka dengan ekspresi tidak percaya. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku. Dengan tangan gemetar, aku merogoh tas tangan dan mengambil ponselku.
Grup WhatsApp alumni angkatanku meledak.
Ratusan pesan ma**k dalam sekejap. Aku menggulir layar dengan napas tertahan. Di sana, di antara obrolan basa-basi pesta, bertebaran foto-foto yang tidak seharusnya ada di sana. Foto Raka mengenakan jaket kulit hitam yang kusam, berdiri di gang sempit yang gelap, sedang mencengkeram kerah baju seorang pria tua. Ada foto lain yang memperlihatkan Raka memegang tumpukan uang tunai di depan sebuah ruko kumuh, wajahnya tampak keras dan dingin—sangat jauh dari sosok mahasiswa berprestasi yang selama ini ia tampilkan di depanku.
*“Jadi ini cowok idaman Nara? Penagih hutang kelas teri?”*
*“G***, tampang doang oke, ternyata preman sindikat.”*
*“Kasihan Nara, kena tipu atau emang seleranya yang sampah?”*
Darahku terasa membeku. Dunia seolah berhenti berputar. Aku melirik Raka. Wajahnya yang semula tenang kini pucat pasi. Ia menatap layar ponsel salah satu tamu di dekatnya, dan aku bisa melihat rahangnya mengeras. Ia tidak terkejut. Ia hancur.
“Sangat mengesankan, bukan?”
Suara bariton yang sangat kukenali itu memecah keheningan di sekitar kami. Dito melangkah keluar dari kerumunan, kedua tangannya dima**kkan ke dalam saku celana kainnya yang mahal. Ia mengenakan senyum kemenangan yang membuat mual. Matanya berkilat penuh kebencian yang dibalut dengan rasa puas yang sadis.
“Dito, apa yang kamu lakukan?” suaraku keluar seperti bisikan yang pecah.
“Aku? Aku hanya melakukan pelayanan publik, Nara,” Dito berhenti tepat di depan kami, suaranya c**up keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitar yang kini mulai membentuk lingkaran. “Aku tidak ingin teman-teman kita tertipu oleh sandiwara murahanmu. Kamu selalu ingin terlihat sempurna, kan? Ayahmu yang sukses, ibumu yang elegan... dan pacar prestisiusmu yang ternyata hanya seorang tukang pukul penagih hutang ilegal.”
“Hentikan,” kataku, suaraku bergetar karena amarah dan malu yang bercampur aduk.
Dito tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. Ia menoleh ke arah Raka, lalu menepuk bahu Raka dengan gerakan yang merendahkan. “Berapa Nara membayarmu untuk memakai jas ini, Ka? Apa uangnya c**up untuk menutupi hutang ayahmu yang memuakkan itu? Atau kamu butuh tambahan pekerjaan malam ini? Kebetulan aku punya beberapa orang yang butuh diberi 'pelajaran'.”
Raka tidak bergerak. Ia berdiri kaku seperti patung, namun aku bisa melihat keringat dingin menetes di pelipisnya. Matanya tertuju pada lant**, menghindari setiap pasang mata yang kini menatapnya seolah ia adalah sampah yang baru saja ditemukan di tengah pesta mewah.
“Jangan diam saja, Raka!” Dito berteriak, memancing perhatian lebih banyak orang. “Beri tahu mereka! Beri tahu Nara betapa kotornya tangan yang biasa memegang tangannya itu. Katakan pada mereka bahwa kamu adalah sampah yang dia pungut dari jalanan hanya demi gengsi!”
Aku melihat tangan Raka mengepal di samping tubuhnya. Aku tahu dia bisa menghancurkan wajah Dito dalam satu pukulan. Tapi dia tidak melakukannya. Dia menelan semua hinaan itu karena dia tahu posisinya. Dan melihatnya seperti itu—melihat pria yang selama ini melindungiku, mendengarkanku, dan berbagi luka denganku harus dihina di depan publik—membuat sesuatu di dalam dadaku patah.
“C**up, Dito!” Aku melangkah maju, memposisikan diriku di depan Raka, menghalangi pandangan Dito darinya.
Dito menatapku dengan sorot mata meremehkan. “Kamu masih mau membelanya, Nara? Citramu sudah hancur. Orang-orang ini tidak akan pernah melihatmu dengan cara yang sama lagi. Kamu sudah gagal menjadi 'Nara yang Sempurna'.”
“Aku memang tidak sempurna,” kataku, suaraku kini lebih stabil, meski air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. “Tapi aku lebih baik daripada pengecut yang menggunakan rahasia orang lain untuk menghancurkan hidup mereka hanya karena ego yang terluka.”
Aku menoleh ke arah kerumunan, melihat teman-temanku, dosen-dosenku, dan mungkin beberapa rekan bisnis ayahku yang hadir. Aku bisa merasakan tatapan menghakimi mereka membakar kulitku. Pikiranku berteriak untuk lari, untuk bersembunyi di balik kebohongan lain, untuk menyangkal segalanya.
Namun, aku justru meraih tangan Raka. Tangannya dingin dan gemetar, tapi aku menggenggamnya erat, menjalin jemariku di sela-sela jemarinya.
“Dia memang bekerja untuk melunasi hutang,” kataku dengan lantang, menantang setiap mata di ruangan itu. “Dia bekerja lebih keras dari kalian semua digabung menjadi satu. Dan ya, aku menyewanya awalnya. Tapi pria yang kalian lihat di foto itu adalah pria yang berjuang demi keluarganya. Sedangkan pria yang berdiri di depanku sekarang,” aku menunjuk Dito dengan daguku, “hanyalah pria kesepian yang tidak punya apa-apa selain uang ayahnya untuk menyombongkan diri.”
Wajah Dito memerah padam. “Kamu g***, Nara. Kamu menghancurkan dirimu sendiri demi orang ini?”
“Aku menyelamatkan diriku sendiri dari kebohongan yang kamu buat, Dito,” balasku tajam.
Raka menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, rasa terima kasih, dan ketakutan yang mendalam. Ia mencoba menarik tangannya, seolah ingin melindungiku dari kehancuran yang ia bawa, tapi aku menahannya.
Dito menyeringai jahat, seringai yang menandakan bahwa ia belum selesai. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.
“Oh, Nara manis. Kamu pikir membela si tukang pukul ini akan berakhir seperti film romantis?” Dito melambaikan amplop itu di depan wajahku. “Kamu lupa satu hal. Foto-foto di grup chat itu hanya pembuka. Di dalam sini, ada bukti keterlibatan Raka dalam penggelapan dana yang dilaporkan minggu lalu. Dan jika aku menyerahkan ini ke polisi sekarang, pacar kontrakmu ini tidak akan pulang ke rumah malam ini.”
Dunia di sekitarku mendadak senyap. Aku melihat wajah Raka yang tadinya pucat kini berubah menjadi benar-benar tak bernyawa. Ia menatap amplop itu seolah-olah itu adalah surat kematiannya.
Dito mendekatkan wajahnya ke telingaku, berbisik dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri. “Pilihan ada di tanganmu, Nara. Tinggalkan dia sekarang, ikut aku keluar dari ruangan ini dan katakan pada semua orang ini hanya eksperimen sosialmu... atau saksikan dia diborgol di depan orang tuamu yang sebentar lagi sampai di sini.”
Aku menoleh ke arah pintu ma**k *ballroom*. Di sana, aku melihat sosok ayah dan ibuku baru saja melangkah ma**k dengan senyum bangga yang segera luntur saat melihat kekacauan di tengah ruangan.
Tanganku yang menggenggam Raka mulai berkeringat. Aku terjepit di antara dua tebing yang siap runtuh. Pilihanku bukan lagi soal citra, tapi soal kebebasan Raka. Dan saat mataku bertemu dengan mata ayahku yang mulai memancarkan kemarahan, aku tahu sandiwara ini telah mencapai titik puncaknya.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!