Detik jam dinding di ruang tamu kediaman keluarga Adiningrat terdengar seperti dentum martil yang menghantam kepalaku. Ruangan yang biasanya menjadi simbol kemewahan dan kesuksesan itu kini terasa seperti ruang interogasi yang menyesakkan. Papa duduk tegak di sofa kulit Italia-nya, kedua tangannya tertaut di atas lutut, sementara Mama sibuk merapikan tumpukan karangan bunga wisuda yang memenuhi meja sudut, meski tangannya gemetar.
Aku masih mengenakan kebaya wisuda yang indah, namun rasanya seperti mengenakan baju zirah yang terlalu berat. Kain jarit yang melilit pinggangku seolah mencekik napasku setiap kali aku mencoba menghirup oksigen.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Nara?" suara Papa memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti mata pisau. "Tadi di pesta, Dito menghampiri Papa. Dia bicara hal-hal yang tidak ma**k akal tentang Raka. Katanya, kamu harus memberikan 'penjelasan'."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti terbakar pasir kering. Selama dua puluh dua tahun, aku telah menjadi proyek terbaik orang tuaku. Nilai A, organisasi bergengsi, dan sekarang, seorang kekasih yang tampak seperti pangeran dari keluarga terpandang. Semua itu adalah konstruksi yang kubangun dengan keringat dan ketakutan.
"Raka bukan kekasihku, Pa. Ma," ucapku. Suaraku kecil, namun di ruangan sesunyi ini, ia terdengar seperti ledakan granat.
Mama berhenti menyentuh kelopak bunga lili. Ia berbalik, menatapku dengan kening berkerut. "Maksud kamu apa, Sayang? Kamu sedang bercanda karena lelah, kan? Raka tadi begitu sopan, dia mahasiswa teladan, dia—"
"Aku menyewanya," potongku lebih keras, kali ini dengan nada yang lebih stabil meski jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. "Aku membayar Raka untuk berpura-pura menjadi pacarku di hari wisuda ini. Dia bukan anak pengusaha, dia bukan orang yang selama ini aku ceritakan. Dia hanya mahasiswa yang sedang butuh uang, dan aku... aku hanya wanita yang terlalu takut dianggap gagal oleh kalian karena tidak punya pendamping yang 'pantas'."
Hening. Kali ini benar-benar hening yang mematikan.
Aku melihat wajah Papa berubah dari kebingungan menjadi kemarahan yang tertahan. Gurat-gurat di dahinya menegang. Sementara Mama, dia mundur selangkah, tangannya menutup mulut seolah-olah aku baru saja memuntahkan kata-kata kotor di depan altar suci.
"Kamu... menyewa orang?" Papa berdiri. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang menyelimutiku. "Kamu menipu kami? Kamu mempermalukan nama keluarga ini demi sebuah sandiwara murah?"
"Aku melakukannya karena aku takut!" teriakku, air mata mulai mendesak keluar. "Kalian selalu menuntut kesempurnaan. Setiap kali aku membawa pulang sesuatu yang kurang dari angka seratus, Papa hanya diam, dan Mama akan membandingkanku dengan anak teman-teman Mama. Aku tidak mau hari kelulusanku menjadi hari di mana kalian menatapku dengan kasihan karena aku 'sendirian' sementara Dito sudah bertunangan dengan anak relasi Papa!"
"Jangan berani-berani menyalahkan kami atas ketidakjujuranmu, Nara!" bentakan Papa membuatku tersentak. "Kami memberimu segalanya. Pendidikan terbaik, fasilitas, koneksi. Dan ini balasanmu? Menciptakan kebohongan publik yang jika sampai tercium media atau kolega Papa, akan menghancurkan reputasi kita?"
Mama mulai terisak, tapi bukan isak tangis kesedihan, melainkan kecemasan. "Nara, bagaimana kalau tante-tantemu tahu? Bagaimana kalau mereka tahu pacar tampanmu itu hanya orang bayaran? Mama mau taruh di mana muka Mama, Nara?"
Aku menatap mereka berdua, dan untuk pertama kalinya, aku melihat dengan jelas apa yang selama ini kusembah. Mereka bukan mencint**ku karena aku adalah putri mereka. Mereka mencint** citra yang kupantulkan.
"Raka bukan sekadar orang bayaran sekarang," bisikku sambil menghapus air mata dengan kasar. "Dia dalam bahaya karena Dito. Dito tahu segalanya dan dia mengancam akan melibatkan Raka dalam masalah hukum yang tidak dia lakukan. Aku harus membantunya."
Papa tertawa pendek, tawa yang kering dan meremehkan. "Membantunya? Dengan uang siapa? Dengan pengaruh siapa? Kamu pikir kamu siapa tanpa nama Adiningrat di belakangmu?"
Papa melangkah mendekat, matanya menatapku tanpa ampun. "Dengarkan baik-baik, Nara. Jika kamu tidak segera memutuskan hubungan dengan pemuda itu dan membersihkan kekacauan ini—katakan pada semua orang bahwa kamu putus dengannya karena dia bersalah, atau apa pun terserah kamu—maka Papa tidak akan tinggal diam."
Aku menahan napas. "Apa maksud Papa?"
"Mulai detik ini, semua fasilitasmu Papa cabut. Tabungan atas namamu akan dibekukan. Apartemenmu akan Papa ambil alih minggu depan. Dan jangan harap ada dana untuk studi lanjutmu ke London bulan depan," suara Papa sedingin es. "Pilihlah. Kamu bisa menjadi putri keluarga ini lagi dengan mengikuti aturan Papa, atau kamu bisa pergi mengejar 'pahlawan bayaranmu' itu dengan tangan kosong. Kamu tidak akan punya sepeser pun untuk membantunya, bahkan untuk makanmu sendiri."
Duniaku serasa runtuh. London adalah impianku sejak remaja. Kebebasan finansial yang selama ini kunikmati adalah fondasi dari rasa amanku. Tanpa itu semua, aku hanyalah seorang sarjana baru yang tidak punya apa-apa.
"Papa tidak bisa melakukan ini..." lirihku.
"Papa sudah melakukannya," jawab Papa sambil berbalik membelakangiku. "Pergi ke kamarmu. Renungkan. Kalau besok pagi Papa tidak mendengar kabar bahwa hubunganmu dengan orang itu sudah berakhir sepenuhnya, jangan pernah panggil Papa lagi."
Aku berdiri mematung di tengah ruangan yang kini terasa asing. Mama hanya menunduk, tidak berani menatap mataku, seolah-olah aku adalah noda yang harus segera dihapus dari kain putih.
Aku melangkah gont** menuju tangga, namun langkahku terhenti saat kurasakan getaran di saku kebayaku. Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal, tapi aku tahu persis itu dari siapa.
*Sebuah foto terlampir.*
Jantungku seakan berhenti berdetak. Foto itu menunjukkan Raka yang tersungkur di sebuah gang gelap dengan sudut bibir berdarah. Di belakangnya, tampak bayangan seseorang yang sangat kukenali: Dito.
Di bawah foto itu, sebuah teks terbaca: *“Pilihan yang sulit, kan, Nara? Reputasi keluargamu atau nyawa pacar sewaanmu? Datanglah ke gudang lama di dermaga utara dalam satu jam, atau foto ini—bersama dengan kontrak sewa Raka—akan menjadi headline di grup WhatsApp kolega Papamu besok pagi.”*
Aku menoleh ke arah punggung Papa yang kaku dan Mama yang masih terisak. Aku baru saja kehilangan segalanya dalam satu malam, dan sekarang, nyawa orang yang kucint** berada di ujung tanduk karena keegoisanku.
Waktu tidak pernah terasa sesingkat ini. Aku harus memilih: tetap diam di rumah yang mewah ini dan membiarkan Raka hancur, atau melangkah keluar ke kegelapan tanpa tahu apakah aku bisa kembali lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!