Lampu neon di ruang baca perpustakaan pusat berkedip-kedip ritmis, menciptakan bayangan panjang di atas tumpukan jurnal makroekonomi yang terbuka di hadapanku. Aku memperbaiki letak kacamata—properti wajib untuk mempertahankan citra si "Mahasiswa Teladan"—sambil sesekali mengangguk sopan pada beberapa adik tingkat yang melewatiku dengan tatapan memuja. Di mata mereka, aku adalah Raka: peraih IPK sempurna, asisten dosen kesayangan dekan, dan wajah yang selalu terpampang di brosur penerimaan mahasiswa baru.
Sempurna. Berwibawa. Terjamin masa depannya.
Aku menutup laptop dengan gerakan elegan, mengemas ranselku dengan rapi, lalu melempar senyum tipis yang sudah terlatih ke arah petugas perpustakaan saat melangkah keluar. Namun, begitu pintu kaca tertutup di belakangku dan udara malam yang lembap menyergap, topeng itu retak seketika.
Tanganku merogoh saku celana kain yang disetrika licin, mengeluarkan ponsel yang terus-menerus bergetar sejak satu jam lalu. Sebuah pesan singkat muncul di layar yang retak di sudutnya.
*“Tiga hari lagi, Raka. Jangan buat kami harus menjemputmu di depan gedung rektorat. 20 juta atau ayahmu akan kehilangan lebih dari sekadar martabatnya.”*
Aku memejamkan mata erat, menghirup napas panjang yang terasa mencekik paru-paru. Angka itu berputar-putar di kepalaku seperti burung nasar yang siap mencabik bangkai. Saldo di rekeningku hanya tersisa lima ratus ribu rupiah—uang makan untuk sisa bulan ini yang baru saja kupotong dari hasil menjual jasa pengerjaan skripsi anak pejabat kemarin malam.
Aku melangkah cepat menuju area parkir yang sepi, menjauh dari sorot lampu jalan agar tidak ada yang mengenaliku. Di bawah pohon beringin tua yang gelap, aku melepaskan kemeja flanel luarku, menyisakan kaus hitam polos yang sudah memudar warnanya. Aku mengganti sepatu pantofelku dengan sepatu kets kumal yang kusimpan di bawah jok motor.
Dalam hitungan detik, Raka si Pangeran Kampus menghilang. Yang tersisa hanyalah laki-laki yang harus bergegas menuju gudang ekspedisi di pinggiran kota untuk giliran sif malam sebagai kuli angkut barang.
Pekerjaan ini melelahkan, menguras otot, dan yang paling penting: tersembunyi. Tidak akan ada mahasiswi kedokteran atau anak pemilik korporasi yang akan menemukanku di sini, di tengah bau keringat dan debu kardus.
"Woy, Raka! Telat lima menit kamu!" teriak Bang Jaja, mandor gudang yang mulutnya tak pernah lepas dari lintingan tembakau.
"Maaf, Bang. Ada urusan di kampus," jawabku pendek, langsung meraih palet kayu terdekat.
"Kampus terus. Jadi sarjana nggak bakal bikin utang bapakmu lunas kalau cuma ngandelin ijazah," sindirnya kasar.
Aku tidak membalas. Aku membiarkan otot lenganku menegang saat mengangkat peti-peti berat ke dalam truk. Setiap tetes keringat yang jatuh ke lant** semen adalah pengingat betapa murahnya harga diriku saat ini. Aku benci situasi ini. Aku benci fakta bahwa aku harus bersandiwara setiap pagi di kelas, berdiskusi tentang teori kesejahteraan sementara perutku keroncongan dan pikiranku dipenuhi ancaman preman.
Istirahat jam satu pagi, aku terduduk di emperan gudang dengan sebotol air mineral hangat. Tanganku gemetar karena kelelahan. Saat itulah, aku teringat pada Nara.
Gadis perfeksionis dari Fakultas Ekonomi itu menemuiku tadi sore dengan tawaran yang paling g*** sekaligus paling ma**k akal yang pernah kudengar. *“Jadilah pacarku di hari wisuda. Hanya satu hari. Aku butuh seseorang yang bisa membuat keluargaku bungkam.”*
Awalnya aku ingin tertawa. Gadis sekaya dan secantik Nara, yang selalu terlihat mengendalikan segalanya, ternyata sama rapuhnya denganku. Dia terobsesi dengan citra, persis seperti aku yang harus menjaga nama baik untuk bertahan hidup. Bedanya, dia memiliki uang yang sangat aku butuhkan.
Nominal yang ditawarkannya c**up untuk menutup sisa cicilan utang ayahku kepada rentenir ilegal itu. C**up untuk membuat orang-orang yang mengejarku pergi selamanya. C**up untuk membuatku bisa bernapas lega saat menerima ijazah nanti tanpa takut ada orang yang menodongkan pisau di pinggangku saat prosesi wisuda.
Ponselku bergetar lagi. Bukan pesan ancaman, melainkan pesan dari Nara.
*“Aku sudah mengirimkan DP-nya. Pastikan penampilanmu sempurna. Jangan sampai ada yang curiga ini hanya kontrak.”*
Aku mengecek saldo m-banking. Sebuah notifikasi ma**k. Angka nol di belakang saldo tabunganku bertambah secara ajaib. Jantungku berdegup kencang, campuran antara lega dan rasa hina yang bercampur aduk. Aku baru saja menjual diriku sendiri—setidaknya citra yang selama ini kubangun dengan susah payah—untuk sebuah sandiwara.
"Demi Bapak," bisikku pada kegelapan malam.
Aku bangkit berdiri, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor oleh debu gudang. Aku harus kembali bekerja. Tiga jam lagi sebelum matahari terbit dan aku harus kembali menjadi Raka si Mahasiswa Berprestasi yang bersih, harum, dan tanpa cela.
Namun, saat aku hendak kembali ke dalam gudang, sebuah mobil sedan hitam melintas perlahan di jalan depan. Kaca mobilnya gelap, namun aku bisa merasakan sepasang mata mengawasi dari dalam sana. Mobil itu berhenti sejenak, c**up lama untuk membuat bulu kudukku berdiri, sebelum akhirnya melesat pergi meninggalkan kepulan asap.
Perasaan tidak enak merayap di tengkukku. Apakah orang-orang penagih utang itu sudah mulai mengikutiku sampai ke sini? Atau ada orang lain yang mulai mencium bau busuk di balik kehidupan sempurnaku?
Aku mengepalkan tangan. Jika aku ingin sandiwara dengan Nara berhasil, aku tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun. Satu celah saja terbuka, maka seluruh hidup yang kupalsukan ini akan runtuh dalam sekejap. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya ijazahku, tapi juga nyawaku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!