Langit Jakarta pagi ini tidak memberikan ampunan. Warnanya abu-abu keruh, seolah-olah awan sedang menahan beban yang sama beratnya dengan apa yang menghimpit dada Raka. Ia berdiri di depan gerbang besi tinggi itu, menatap papan nama yang terpampang kaku dengan huruf-huruf kapital yang mengintimidasi: POLDA METRO JAYA.
Raka meremas tali ransel hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam tas itu, terdapat segalanya. Sebuah *flashdisk* berisi rekaman suara, catatan transaksi digital yang ia retas dari server internal Bos Gani, dan beberapa lembar salinan kuitansi penagihan paksa yang pernah ia lakukan. Itu adalah tiketnya menuju kebebasan, sekaligus surat pemecatannya dari kehidupan normal yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
"Mas, ada perlu apa?" tanya seorang petugas di pos penjagaan. Suaranya datar, namun c**up untuk membuat jantung Raka melonjak ke tenggorokan.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan segenggam pasir kering. "Saya... saya ingin bertemu dengan penyidik bagian kriminal umum. Saya punya bukti untuk ka**s sindikat penagihan hutang ilegal."
Petugas itu menatap Raka dari ujung kepala hingga ujung kaki. Raka tahu apa yang dilihat pria itu: seorang pemuda dengan kemeja rapi, wajah yang tampak seperti mahasiswa teladan, dan aura yang jauh dari kesan kriminal. Itulah topeng yang selama ini Raka kenakan dengan sempurna di kampus. Topeng yang membuatnya menjadi "Raka si Idola Kampus".
"Silakan isi buku tamu dan tinggalkan identitas," ujar petugas itu akhirnya, sambil menyodorkan sebuah buku besar.
Saat merogoh dompet untuk mengambil KTP, jemari Raka menyentuh kartu lain. Kartu Tanda Mahasiswa miliknya. Ia menariknya keluar sejenak. Foto di kartu itu menampilkan dirinya yang tersenyum tipisβseorang mahasiswa tingkat akhir yang hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju wisuda dan masa depan cerah di perusahaan konsultan ternama.
Satu tanda tangan di ruang penyidik nanti, dan kartu ini mungkin tidak akan berarti apa-apa lagi. Beasiswanya akan dicabut. Rektorat tidak akan sudi meluluskan seorang kriminal. Gelar sarjana yang ia impikan untuk menebus harga diri ayahnya akan menguap begitu saja.
*Nara,* batinnya menyebut nama itu. Wajah Nara yang cemas saat mereka terakhir kali bertemu di parkiran apartemen kembali membayang. Ia bisa saja tetap diam, membiarkan Dito terus mengancamnya, dan berharap sindikat itu tidak pernah tertangkap. Tapi itu berarti Nara akan terus terjebak dalam pusaran bahaya. Dito tidak akan berhenti hingga Nara hancur, dan Raka tidak akan membiarkan itu terjadi.
Raka melangkah ma**k melintasi pelataran parkir yang luas. Suasana di dalam gedung terasa dingin oleh AC, namun keringat dingin tetap mengucur di pelipisnya. Wangi kopi instan dan aroma kertas tua memenuhi udara. Setiap polisi yang lewat dengan seragam cokelatnya membuat Raka merasa seolah-olah borgol sudah melingkar di pergelangan tangannya.
"Saudara Raka?"
Seorang pria paruh baya dengan kemeja putih dan tanda pengenal di saku menyambutnya di depan sebuah ruangan kaca. Ia adalah Kompol Hendra, kontak yang diberikan oleh seorang informan yang diam-diam membantu Raka.
"Iya, Pak," jawab Raka lirih.
"Mari, ma**k ke ruangan saya. Kita bicara secara resmi."
Ruangan itu sempit dan penuh dengan tumpukan berkas. Begitu pintu tertutup, Raka merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Ia duduk di kursi plastik keras yang berdecit saat ia menggesernya.
"Jadi, kamu ingin menyerahkan diri sekaligus menjadi saksi mahkota?" Hendra membuka catatan kecil di meja. "Kamu sadar konsekuensinya? Meskipun kamu kooperatif dan membantu kami membongkar jaringan ini, statusmu tetaplah tersangka di awal. Kamu terlibat dalam aktivitas ilegal mereka selama hampir dua tahun."
Raka menunduk, menatap sepatu ketsnya yang sedikit kotor. "Saya sadar, Pak. Saya siap menanggungnya."
"Masa depanmu masih panjang, Nak. Kamu mahasiswa berprestasi, kan? Saya sudah melihat latar belakangmu sekilas sebelum kamu datang." Hendra menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikanβantara kasihan dan profesionalisme.
Raka mengepalkan tangan di atas lututnya. "Justru karena saya ingin punya masa depan, saya harus mengakhiri ini sekarang. Jika saya terus lari, saya tidak akan pernah benar-benar hidup. Saya hanya akan terus bersandiwara."
Raka mengeluarkan *flashdisk* dan tumpukan kertas dari tasnya. Ia meletakkannya di atas meja dengan tangan yang gemetar hebat. Saat ia mulai menjelaskan satu per satu metode penagihan mereka, intimidasi yang mereka lakukan, hingga bagaimana Bos Gani mencuci uangnya melalui perusahaan cangkang, Raka merasa seperti sedang menguliti dirinya sendiri. Setiap kata yang keluar adalah pengakuan dosa yang menghancurkan citra sempurna yang ia rawat selama ini.
Dua jam berlalu. Mulut Raka terasa pahit. Ia telah membeberkan semuanya, terma**k keterlibatan Dito dalam membiayai beberapa operasi sindikat untuk menekan para pengusaha kecil.
"Ini c**up untuk kami mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Gani dan memanggil Dito untuk pemeriksaan," ujar Hendra sambil merapikan berkas. "Tapi Raka, mulai saat ini, kamu berada dalam pengawasan kami. Kamu tidak boleh meninggalkan kota, dan kamu harus siap kapan pun kami panggil untuk rekonstruksi atau kesaksian di pengadilan."
Raka mengangguk lemah. "Terima kasih, Pak."
"Kamu boleh pulang sekarang, tapi ingat, badai yang sebenarnya baru akan dimulai begitu Gani tahu siapa yang mengkhianatinya."
Raka berdiri, merasa kakinya seperti jeli. Saat ia berjalan keluar dari ruang penyidik, ia merasa dunia di luar sana sudah tidak sama lagi. Ia berjalan menuju lobi, mengambil ponselnya yang sempat ia matikan. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi ma**k.
Hampir semuanya dari Nara. Ada satu pesan terakhir yang dikirim sepuluh menit lalu.
*Raka, kamu di mana? Dito barusan meneleponku. Dia bilang dia punya bukti baru yang bisa membuatmu membusuk di penjara seumur hidup kalau aku tidak menemuinya sekarang di gudang lama dekat kampus. Raka, aku takut. Dia bilang dia tidak main-main.*
Jantung Raka berhenti berdetak sejenak. Ia melihat ke arah pintu keluar, lalu ke arah ruang penyidik yang baru saja ia tinggalkan. Ia sudah memberikan semuanya kepada polisi, tapi hukum butuh waktu, sementara Dito tidak.
Raka tahu ini adalah jebakan. Dito pasti sudah menyadari bahwa Raka mulai bergerak. Dan sekarang, pria itu menggunakan satu-satunya kelemahan Raka yang tersisa: Nara.
Tanpa pikir panjang, Raka berlari menuju pintu keluar. Ia mengabaikan pangg***n petugas piket. Masa depan akademisnya mungkin sudah hancur, tapi ia tidak akan membiarkan hidup Nara ikut hancur bersamanya.
Saat ia menghidupkan mesin motornya di parkiran, sebuah pesan baru ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Hanya berupa sebuah foto: Nara yang sedang duduk di kursi dengan tangan terikat, di sebuah ruangan gelap yang sangat ia kenali sebagai markas operasional bawah tanah milik kelompok Gani.
Di bawah foto itu tertulis sebuah pesan singkat: *Satu langkah salah ke polisi, dan wajah cantik ini akan kehilangan senyumnya selamanya. Datang sendiri, atau dia tamat.*
Raka meremas kemudi motornya. Ia sudah terlambat. Sandiwara ini telah berubah menjadi pertaruhan nyawa yang sesungguhnya. Dan kali ini, tidak ada naskah yang bisa menyelamatkannya.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!