Cermin di hadapanku tidak lagi memantulkan sosok mahasiswi bergaun desainer dengan tatanan rambut yang menelan waktu dua jam untuk diselesaikan. Pagi ini, aku hanya melihat Nara. Rambutku diikat kuda seadanya, wajahku polos tanpa pulasan *foundation* tebal yang biasanya berfungsi sebagai tameng, dan aku hanya mengenakan kaus katun longgar serta celana jins pudar.
Anehnya, aku merasa lebih ringan. Beban tak kasat mata yang selama ini menekan pundakkuβekspektasi Papa tentang menantu yang setara, obsesi Mama tentang citra keluarga yang tanpa celaβseolah menguap bersama uap kopi hitam di meja.
Aku melangkah keluar dari apartemen kecilku menuju sebuah kedai kopi di sudut gang yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Tempat ini tidak *Instagrammable*. Meja-mejanya terbuat dari kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas, dan aromanya bukan wangi *latte* mahal, melainkan aroma biji kopi yang digiling manual secara kasar. Di sana, di sudut paling ujung, Raka sudah menunggu.
Dia tidak lagi mengenakan jas sewaan yang membuatnya tampak seperti pangeran dari negeri dongeng. Raka hanya memakai kaus hitam polos yang sedikit memudar di bagian kerah. Wajahnya tampak lelah, ada kantung mata tipis yang menandakan ia kurang tidur, namun matanya... matanya terlihat lebih jujur daripada saat ia berpura-pura menjadi kekasih sempurnaku di hari wisuda.
"Kamu datang," ucap Raka pelan saat aku menarik kursi di hadapannya. Ia tidak bangkit untuk menarikkan kursi untukkuβsebuah prosedur standar dalam kontrak kami dulu. Kali ini, ia membiarkanku melakukannya sendiri.
"Aku datang bukan sebagai klienmu, Raka," kataku, mencoba menstabilkan debar jantungku yang mendadak liar. "Dan aku tidak membawa amplop cokelat kali ini."
Raka tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya mencapai matanya namun terasa begitu hangat. "Syukurlah. Karena jujur saja, aku tidak tahu bagaimana caranya berakting lagi di depanmu. Maskerku sudah pecah berantakan."
Kami terdiam sejenak. Pelayan mengantarkan pesananku, sebuah kopi tubruk tanpa gula. Raka memperhatikanku menyesap cairan pahit itu tanpa sedikit pun meringis.
"Biasanya kamu hanya memesan *hazelnut latte* dengan *whipped cream* ekstra agar terlihat cantik saat difoto," komentar Raka, nada suaranya menggoda namun mengandung observasi yang tajam.
"Itu Nara yang lama. Nara yang ingin terlihat manis di mata semua orang agar mereka tidak perlu bertanya apakah aku sedang baik-baik saja," jawabku. Aku meletakkan cangkir, merasakan kehangatannya merambat ke telapak tanganku. "Sekarang, aku lebih suka yang pahit tapi nyata."
Raka mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara kami kini tidak lagi dipisahkan oleh klausul kontrak atau nominal rupiah. "Nara, kamu tahu kan ini tidak akan mudah? Papa kamu mungkin tidak akan pernah mengirimkan ucapan selamat ulang tahun padaku. Dan aku... aku masih punya tumpukan hutang yang harus kuselesaikan dengan cara yang legal kali ini."
Aku menatap tangannya yang memegang cangkir, jemarinya kasar karena kerja serabutan. "Aku tahu. Aku juga tidak punya rencana cadangan sekarang. Aku menolak tawaran magang di perusahaan relasi Papa. Aku akan mulai melamar dari bawah, dengan namaku sendiri, bukan karena koneksi keluarga."
"Kita berdua sama-sama memulai dari nol?" tanya Raka, suaranya sedikit serak.
"Dari nol. Tanpa skenario, tanpa latihan dialog, dan tanpa kepastian bahwa ini akan berakhir bahagia," sahutku tegas.
Aku meraih tangannya yang ada di atas meja. Untuk pertama kalinya, kontak fisik ini tidak membuatku merasa seperti sedang melakukan pertunjukan sandiwara di depan penonton. Ini hanya aku dan dia. Aku bisa merasakan denyut nadinya, kehangatan kulitnya, dan sedikit getaran yang memberitahuku bahwa dia pun sama gugupnya denganku.
Raka membalikkan telapak tangannya, menggenggam jemariku erat. "Kalau begitu, perkenalkan. Aku Raka. Aku hanya mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang membayar hutang, suka makan mie instan di tanggal tua, dan tidak punya mobil mewah untuk menjemputmu."
Aku tertawa kecil, tawa yang terasa jujur dan lepas. "Aku Nara. Aku mantan perfeksionis yang baru sadar kalau hidup berantakan itu ternyata tidak semenakutkan itu."
Keheningan yang nyaman menyelimuti kami. Di kedai kopi yang sempit ini, aku merasa telah menemukan ruang paling luas di dunia. Tidak ada mata Dito yang mengint** dengan ancaman, tidak ada bisik-bisik teman kampus yang membanding-bandingkan pencapaian. Hanya ada kejujuran yang mentah.
Namun, kedamaian itu terusik saat ponsel Raka yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah pesan muncul di layar yang retak. Aku bisa melihat ekspresi Raka berubah seketika. Sinar matanya yang hangat meredup, digantikan oleh kilatan kewaspadaan yang tajam.
Raka dengan cepat membalik ponselnya, namun aku sempat membaca sekilas nama pengirimnya: *Bang Jek*.
"Ada apa?" tanyaku, merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkukku.
Raka menarik napas panjang, rahangnya mengeras. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara kasih sayang dan rasa bersalah yang mendalam.
"Nara," suaranya merendah, nyaris berbisik. "Sepertinya 'nol' yang kita bicarakan tadi tidak benar-benar bersih. Ada bagian dari masa laluku yang tidak mau melepaskanku begitu saja hanya karena aku ingin berubah."
Ia melepaskan genggaman tangannya dan berdiri dengan terburu-buru. Di luar jendela kedai, sebuah motor hitam besar berhenti, dan dua pria berjaket kulit tampak sedang mencari-cari seseorang di dalam kedai.
"Tetap di sini, jangan keluar sampai aku menyuruhmu," perintah Raka, suaranya kini berubah dingin dan penuh otoritas yang asing bagiku.
Aku terpaku di kursi, melihat Raka melangkah menuju pintu keluar untuk menghadapi mereka. Ternyata, melepaskan topeng kesempurnaan hanyalah babak awal. Tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, nyawa mungkin menjadi taruhannya.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!