Sandiwara Sang Sarjana

Bab 3: Bab 3 - Melakukan negosiasi kontrak dengan Raka

Pengaturan Membaca

Ujung sepatu hak tinggiku mengetuk-ngetuk lant** ubin kedai kopi tua di pinggiran kota ini dengan irama yang kacau. Aku sengaja memilih tempat ini—jauh dari jangkauan mahasiswa universitas kami yang biasanya berkumpul di kafe-kafe estetik pusat kota. Di sini, bau apek kayu tua dan aroma kopi tubruk yang tajam lebih mendominasi daripada aroma *latte* mahal.

Aku melirik jam tangan Rose Gold di pergelangan tanganku untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit. Pukul 19.15. Dia terlambat lima belas menit. Jemariku tanpa sadar merapikan helai rambut yang sebenarnya sudah tertata sempurna. Aku harus terlihat terkendali. Aku harus terlihat seperti seseorang yang sedang menawarkan peluang bisnis, bukan seorang pecundang yang sedang membeli harga diri.

Pintu kedai berderit. Seorang pria dengan jaket *hoodie* hitam dan topi yang ditarik rendah melangkah ma**k. Meskipun wajahnya setengah tertutup, postur tegak dan cara berjalannya yang tenang itu mustahil salah kukenali. Itu Raka. Sang pangeran kampus, mahasiswa berprestasi dengan senyum yang bisa meluluhkan dosen paling killer sekalipun, sekaligus pria yang kini memegang nasib citra keluargaku.

Raka menarik kursi di hadapanku tanpa suara. Ia melepas topinya, menampakkan rambut yang sedikit berantakan dan kantung mata tipis yang entah mengapa justru membuatnya terlihat lebih "manusiawi" daripada biasanya.

"Maaf, ada urusan yang tidak bisa ditinggal," ucapnya singkat. Suaranya berat, jauh lebih dingin dibandingkan saat ia berbicara di podium pidato bulan lalu.

Aku berdehem, mencoba menelan kegugupanku. "Tak masalah. Langsung saja ke intinya."

Aku mengeluarkan sebuah map transparan dari dalam tas kulitku. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas yang sudah kususun dengan format rapi, layaknya kontrak profesional. "Ini draf kesepakatan kita. Aku sudah mencantumkan jadwal, aturan main, dan tentu saja, kompensasi yang kita bicarakan kemarin."

Raka meraih kertas itu. Matanya menyisir baris demi baris dengan teliti. Keheningan menyelimuti meja kami, hanya interupsi suara mesin kopi yang menderu di kejauhan. Aku memperhatikan ekspresinya, mencari tanda-tanda persetujuan, namun wajahnya tetap sedatar tembok beton.

"Pesta wisuda, makan malam keluarga besar, dan dua kali acara kumpul kerabat di hari berikutnya," Raka membacakan poin-poin itu dengan nada datar. "Kau ingin aku berperan sebagai kekasih yang baru pulang dari magang di firma hukum bergengsi di Singapura?"

"Keluargaku menyukai latar belakang yang kuat," sahutku cepat, berusaha mempertahankan nada suara yang mantap. "Kau punya otaknya, kau punya tampangnya. Hanya perlu sedikit bumbu pada resume-mu agar terlihat... sebanding."

Raka meletakkan kertas itu kembali ke meja. Ia menyandarkan punggungnya, menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menembus lapisan bedak mahal di wajahku. "Angka yang kau tawarkan di sini... tidak c**up, Nara."

Jantungku berdegup kencang. "Tidak c**up? Itu sudah dua kali lipat dari gaji rata-rata staf administrasi per bulan untuk pekerjaan yang hanya memakan waktu tiga hari."

Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Itu sebelum aku menyadari siapa lawan mainku. Kau bukan sekadar mahasiswi biasa yang ingin pamer. Orang tuamu adalah pemilik jaringan rumah sakit, bukan? Dan sepupu-sepupumu... mereka semua tipe orang yang akan mencariku di LinkedIn dalam waktu lima menit setelah kita bersalaman."

Ia memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara kami. Bau parfum maskulin yang bercampur dengan aroma samar keringat dan sesuatu yang tajam—seperti logam—menusuk indra penciumanku.

"Risiko identitasku terbongkar sangat besar, Nara. Jika mereka tahu aku bukan 'calon pengacara masa depan' melainkan hanya mahasiswa yang bekerja serabutan untuk membayar bunga hutang bank, namaku hancur. Bukan cuma di depan keluargamu, tapi di seluruh kampus. Beasiswaku bisa terancam jika pihak kampus tahu aku terlibat sandiwara berbayar seperti ini."

Aku mengepalkan tangan di bawah meja, kuku-kukuku menusuk telapak tangan. "Lalu berapa yang kau minta?"

Raka menyebutkan sebuah angka. Napasku tertahan di tenggorokan.

"Itu g***! Itu hampir seluruh tabungan daruratku," bisikku dengan nada tertahan, takut ada pengunjung lain yang mendengar.

"Maka cari orang lain," Raka bersiap berdiri, gerakannya sant** namun penuh tekanan. "Cari orang yang tidak keberatan mempertaruhkan reputasi 'Golden Boy'-nya demi sandiwara wisudamu. Tapi ingat, wisudamu tinggal tiga hari lagi. Dan aku tahu persis betapa paniknya kau saat melihat Dito pamer pacar barunya di grup alumni kemarin."

Aku terpaku. Bagaimana dia bisa tahu soal Dito? Rasa malu menyengat pipiku, membuat wajahku terasa panas. Raka tahu titik lemahku. Dia tahu aku sedang di ujung tanduk. Bayangan wajah mama yang kecewa dan cibiran Dito yang merendahkan berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak.

"Tunggu," panggilku, suaranya sedikit bergetar.

Raka berhenti, tangannya masih memegang topi. Ia menungguku bicara dengan sabar yang menyebalkan.

"Oke. Angka itu. Aku setuju," kataku akhirnya, merasa seolah baru saja menandatangani perjanjian dengan i****. "Tapi aku punya syarat tambahan. Tidak boleh ada satu pun kesalahan. Kau harus tahu det**l masa kecilku, hobi favoritku, sampai warna kesukaan kucing peliharaanku yang sudah mati. Kita harus terlihat sangat... jatuh cinta."

Raka kembali duduk. Kali ini, ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang tidak bisa kubaca. Ia meraih pulpen dari saku jaketnya dan menandatangani kertas di hadapanku dengan coretan yang tegas.

"Sepakat," ujarnya. Ia menyodorkan tangannya untuk menjabat tanganku.

Saat jemariku menyentuh kulit tangannya yang kasar, sebuah sensasi aneh menjalar ke lenganku. Dingin dan keras. Aku baru menyadari ada bekas luka kecil di punggung tangannya, seolah ia baru saja terlibat perkelahian atau melakukan pekerjaan fisik yang berat.

"Sandiwara dimulai sekarang, Sayang," bisiknya dengan nada sarkastik yang membuat bulu kudukku berdiri.

Tepat saat itu, ponselku di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan singkat muncul di layar yang terkunci. Namanya membuat jantungku seolah berhenti berdetak: *Dito.*

*“Aku dengar kau bawa pacar baru ke wisuda nanti? Jangan harap sandiwaramu berhasil, Nara. Aku tahu siapa 'pangeran' itu sebenarnya.”*

Aku menatap layar ponsel dengan pucat pasi. Raka memperhatikanku, alisnya bertaut melihat reaksiku. Aku mendongak, menatap pria di hadapanku yang baru saja kubayar mahal. Apakah aku baru saja membeli penyelamat, atau justru menggali lubang kuburku sendiri?

Raka meraih ponselku sebelum aku sempat menjauhkan benda itu. Ia membaca pesan singkat itu, lalu kembali menatapku dengan seringai yang kini terlihat jauh lebih berbahaya.

"Sepertinya," Raka bergumam sambil mengembalikan ponselku, "masalah kita jauh lebih mahal daripada angka yang baru saja aku tulis di sana."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca