Suara gesekan ujung pena di atas kertas putih terdengar seperti detak jam dinding yang memburu. Di hadapanku, Nara tidak terlihat seperti mahasiswi yang baru saja menyelesaikan skripsi. Dia lebih mirip seorang jaksa penuntut yang sedang menyusun berkas ka**s pembunuhan berencana. Sebuah map biru tebal diletakkan di atas meja kafe yang terlalu kecil untuk ambisinya.
Aku menghela napas, menyesap kopi hitamku yang sudah mendingin. Kafe ini terlalu tenang, kontras dengan gemuruh di kepala gadis di depanku.
"Raka, fokus," tegurnya tanpa mengangkat kepala. Jemarinya yang rampingβyang aku perhatikan sedikit gemetarβmenunjuk pada poin ketiga di halaman kedua. "Papaku tidak suka orang yang menjawab 'ya' atau 'siap' terus-menerus. Itu terkesan menjilat. Kamu harus punya opini, tapi jangan sampai mendebatnya terlalu keras. Kamu harus terlihat berwibawa, tapi tetap menghormati posisinya."
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Kita sedang membicarakan ayahmu, atau sedang latihan untuk wawancara kerja di perusahaan multinasional?"
Nara mendongak. Matanya yang tajam memicing di balik bingkai kacamatanya yang elegan. "Bagi Papaku, keduanya sama saja. Setiap orang yang ma**k ke lingkaran keluargaku adalah aset atau liabilitas. Dan sekarang, kamu adalah asetku. Jangan sampai kamu berubah jadi liabilitas hanya karena kamu terlalu malas menghafal det**l kecil."
Aku meraih map itu, membolak-balik halamannya dengan malas. Isinya g***. Ada profil lengkap ayahnya, ibunya, hingga bibinya yang konon hobi mengomentari berat badan orang lain. Bahkan ada daftar pencapaian 'palsu' yang harus aku akui sebagai prestasiku sendiri: juara debat tingkat nasional, IPK 3.9, dan rencana mengambil gelar master di luar negeri.
"IPK 3.9?" Aku terkekeh sinis. "Kamu tahu sendiri aslinya aku jarang ma**k kelas karena harus kerja sampingan. Kamu tidak takut kebohongan ini terlalu tinggi untuk digapai?"
Nara merampas map itu kembali, wajahnya memerah. Bukan karena malu, tapi karena frustrasi. "Justru karena itu! Dito akan ada di sana, Raka. Dia tahu standar keluargaku. Kalau kamu terlihat 'biasa saja', dia akan langsung mengendus ada yang tidak beres. Dia itu seperti hiu yang mencium darah."
Aku terdiam sejenak. Nama Dito selalu membuat suasana hatinya keruh. Aku bisa melihat ketakutan yang terselip di balik sikap perfeksionisnya. Nara bukan sekadar ingin pamer; dia sedang berusaha bertahan hidup di dalam rumahnya sendiri.
"Oke," kataku, mencoba menurunkan tensi. "Lanjutkan. Apa lagi yang harus aku tahu?"
Nara menarik napas panjang, sedikit menenangkan diri. "Sepupu-sepupuku. Mereka akan bertanya tentang silsilah keluargamu. Aku sudah menuliskan narasi singkat tentang orang tuamu. Katakan saja ayahmu pengusaha properti di luar kota yang sedang ekspansi, jadi dia jarang terlihat."
Aku merasakan denyut nyeri di pelipisku. Pengusaha properti. Jika Nara tahu bahwa ayahku saat ini mungkin sedang bersembunyi di gudang kumuh untuk menghindari kejaran penagih hutang, dia pasti akan pingsan. Dunia yang ia bangun dari kertas-kertas ini sangat jauh dari realitasku yang berdebu dan penuh peluh.
"Kenapa tidak jujur saja kalau aku mahasiswa biasa?" tanyaku pelan.
Nara tertawa, tawa yang kering dan tanpa humor. "Di keluargaku, 'biasa' adalah kata lain untuk 'gagal'. Aku sudah menghabiskan empat tahun berpura-pura menjadi mahasiswa teladan tanpa cela agar mereka tidak punya alasan untuk mengatur hidupku lebih jauh. Wisuda ini adalah puncaknya. Jika aku membawa pria 'biasa', mereka akan menjodohkanku dengan relasi bisnis Papa dalam sekejap."
Ia kemudian mulai merincikan det**l-det**l yang menurutku absurd. Bagaimana aku harus memegang gelas anggur (meskipun ini hanya pesta wisuda), bagaimana aku harus berdiri sedikit di belakangnya saat ia berbicara dengan ibunya, hingga parfum apa yang harus aku pakai agar terkesan 'mahal'.
"Raka, kamu mendengarkan?" Nara mengetuk meja dengan ujung kukunya yang dipoles rapi. "Aku bilang, jangan pernah menyebutkan bahwa kamu suka makan di warteg dekat kampus. Itu merusak citra."
Aku memutar bola mata. "Nara, dengar. Aku bisa akting jadi pangeran mahkota kalau itu yang kamu mau. Tapi kalau kamu terus mendikte caraku bernapas, aku akan terlihat seperti robot di depan orang tuamu. Orang akan tahu itu sandiwara kalau tidak ada sisi manusianya."
"Sisi manusia itu berisiko, Raka!" suaranya naik satu oktav, memancing perhatian beberapa pengunjung kafe. Ia segera merendahkan suaranya, matanya berkaca-kaca karena tekanan yang ia buat sendiri. "Satu kesalahan kecil, dan semuanya hancur. Aku tidak boleh terlihat gagal. Tidak di depan mereka. Tidak di depan Dito."
Aku memperhatikan jemarinya yang sekarang meremas pinggiran map hingga kertasnya agak lecek. Ada kerapuhan yang begitu nyata di balik topeng perfeksionis ini. Untuk sesaat, aku merasa kasihan padanya. Kami berdua sama-sama berbohong pada dunia, hanya saja alasan kami berbeda. Aku berbohong untuk menyambung hidup, dia berbohong untuk diakui.
"Tenanglah," kataku, suaraku melunak. Aku memberanikan diri menyentuh punggung tangannya, mencoba menghentikan gemetar itu. Kulitnya dingin. "Aku akan hafal semua ini. Aku akan jadi pria paling prestisius yang pernah dilihat keluargamu."
Nara terdiam, menatap tanganku yang menyentuhnya. Ia tidak menarik tangannya, tapi ia juga tidak membalas genggamanku. Untuk beberapa detik, ada keheningan yang berbeda di antara kami. Bukan keheningan yang penuh tuntutan, melainkan sesuatu yang lebih... mentah.
Tiba-tiba, ponsel Nara yang terletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Aku bisa melihat nama 'Dito' di sana.
Ekspresi Nara langsung berubah drastis. Wajahnya yang tadi sedikit melunak kini memucat pasi. Ia segera menyambar ponselnya, jemarinya bergerak cepat membuka pesan itu. Aku melihat rahangnya mengeras, dan ketakutan yang tadi sempat mereda kini kembali dengan intensitas ganda.
"Ada apa?" tanyaku, firasatku mulai memburuk.
Nara tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya padaku dengan tangan gemetar. Di sana, sebuah foto terlampir. Itu adalah foto candid aku saat sedang bekerja shift malam di sebuah pasar induk dua hari yang lalu, memanggul peti kayu dengan kaos lusuh yang basah oleh keringat.
Di bawah foto itu, ada pesan singkat: *'Calon pendamping wisudamu punya hobi yang unik ya, Nara? Aku jadi tidak sabar ingin memperkenalkan "pengusaha properti" ini kepada Papamu besok.'*
Duniaku terasa berhenti berputar. Kartu as itu sudah diletakkan di atas meja sebelum permainan bahkan dimulai. Dito tidak hanya tahu siapa aku, dia sudah memegang tali yang bisa menjerat leher kami berdua kapan saja dia mau.
"Raka," suara Nara nyaris menghilang, "apa yang harus kita lakukan?"
Aku menatap foto itu, lalu menatap Nara. Sandiwara ini baru saja berubah dari sekadar akting menjadi medan perang yang sesungguhnya. Dan aku baru menyadari bahwa dalam perang ini, akulah yang menjadi titik terlemahnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!