Sandiwara Sang Sarjana

Bab 5: Bab 5 - Menjalani gladi resik wisuda bersama Raka

Pengaturan Membaca

Gedung auditorium universitas siang ini terasa seperti oven raksasa yang dipenuhi oleh ribuan pasang ambisi. Aroma pembersih lant** yang tajam bercampur dengan bau parfum mahal dari para mahasiswi yang sibuk membenarkan tatanan rambut mereka. Aku meremas tali tas tanganku, merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangan. Ini hanya gladi resik, Nara. Hanya latihan. Tapi bagiku, ini adalah panggung sandiwara pertama yang menentukan hidup dan matiku.

Aku menoleh ke samping, tepat ke arah pria yang berdiri dengan sant** di sebelahku. Raka mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan perak yang terlihat berkelas—padahal aku tahu itu hanya bagian dari properti yang ia siapkan. Ia tampak sangat tenang, seolah-olah berpura-pura menjadi kekasih seorang mahasiswi ambisius adalah makanan sehari-harinya.

"Tanganmu gemetar," bisik Raka tanpa menoleh ke arahku. Suaranya rendah, bariton yang menenangkan namun sekaligus mengingatkanku pada kenyataan bahwa aku sedang membayar pria ini.

"Aku tidak gemetar. Aku hanya kedinginan karena AC-nya terlalu kencang," bantahku cepat, mencoba menegakkan punggung.

Raka terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat tulus di telinga orang asing, namun terasa seperti ejekan bagiku. "AC-nya bahkan tidak terasa sampai ke barisan belakang ini, Nara. Rileks. Kau terlihat seperti sedang menunggu hukuman gantung, bukan menunggu prosesi wisuda."

Sebelum aku sempat membalas, sebuah pekikan nyaring membelah kebisingan auditorium.

"Nara! Ya ampun, akhirnya kau muncul juga!"

Aku memaksakan sebuah senyum lebar—senyum 'Nara yang Sempurna' yang sudah kulatih di depan cermin selama bertahun-tahun. Siska dan beberapa teman satu gengku berjalan mendekat dengan mata yang langsung tertuju pada Raka. Mereka seperti sekumpulan predator yang baru saja menemukan mangsa baru yang menggiurkan.

"Jadi... ini dia?" Siska bertanya dengan nada menggoda, matanya memindai Raka dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Pria misterius yang membuatmu menolak semua ajakan kencan buta selama setahun terakhir?"

"Kenalkan, ini Raka," kataku dengan suara yang sedikit terlalu tinggi. Aku berdeham, mencoba mengontrol nada bicaraku. "Raka, ini Siska dan teman-temanku."

Raka mengulurkan tangan dengan gerakan luwes yang membuat Siska tersipu. "Raka. Senang akhirnya bisa bertemu teman-teman Nara. Dia banyak bercerita tentang kalian."

Kebohongan pertama keluar dengan begitu lancar dari mulutnya. Aku bahkan tidak pernah menceritakan apa pun padanya selain skenario dasar yang harus ia hafalkan.

"Wah, Raka, kau benar-benar seperti yang digosipkan," sahut teman yang lain, Amel. "Tapi tunggu dulu, kalian sudah berapa lama pacaran? Kok kami tidak pernah melihat kalian jalan bareng di kampus?"

Jantungku berdegup kencang. Ini dia. Pertanyaan jebakan pertama. "Kami... kami lebih suka privasi. Raka sibuk dengan proyek risetnya, dan kalian tahu sendiri aku bagaimana kalau sudah di depan laptop."

"Tapi masa tidak ada foto berdua sama sekali di Instagram?" Siska menyipitkan mata, mulai menunjukkan bakat detektifnya yang menyebalkan. "Nara yang perfeksionis biasanya selalu memamerkan setiap pencapaiannya. Dan memiliki pacar seperti Raka jelas sebuah pencapaian, kan?"

Aku merasakan dorongan untuk menghilang dari tempat itu. Raka sepertinya menyadari kegugupanku. Ia tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku mendekat hingga bahu kami bersentuhan. Tubuhnya hangat, dan aroma parfumnya yang segar—campuran antara *citrus* dan kayu—langsung menyerbu indra penciumanku.

"Aku yang melarangnya," ujar Raka tenang, menatap Siska dengan tatapan yang intens namun ramah. "Aku tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Lagipula, hubungan kami bukan untuk konsumsi publik, kan, Sayang?"

Ia menatapku, menungguku memberikan reaksi. Aku membeku. Kata 'Sayang' itu terasa begitu asing sekaligus berbahaya. Aku memaksakan diri untuk bersandar pada tubuhnya, meski setiap serat di tubuhku berteriak untuk menjauh karena kecanggungan yang luar biasa.

"Iya, begitulah Raka," kataku sambil tertawa kaku. Aku mencoba membalas rangkulannya dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya, tapi tanganku terasa seperti kayu yang mati rasa.

Siska tidak melepaskan pandangannya dari kami. Ia melihat caraku memegang kemeja Raka—bukan memeluknya dengan sant**, melainkan mencengkeram kain kemejanya seolah aku takut ia akan lari.

"Kalian... terlihat agak aneh," celetuk Siska tiba-tiba. Suasana yang tadinya ceria mendadak mendingin.

"Aneh bagaimana?" tanyaku, berusaha menjaga nada suaraku agar tidak terdengar defensif.

"Entahlah. Seperti ada yang tidak pas," Siska melipat tangan di dada, kepalanya miring ke satu sisi. "Chemistry kalian seperti... dua orang yang sedang melakukan simulasi tanggap darurat. Kaku sekali. Nara, kau biasanya sangat ekspresif, tapi sekarang kau terlihat seperti sedang menahan napas."

"Aku hanya lelah, Sis. Kurang tidur karena mengurus berkas yudisium," kilahku, merasa sudut-sudut topeng kesempurnaanku mulai retak.

Raka tertawa lagi, kali ini lebih keras, sambil mengacak rambutku pelan—sebuah gestur yang sangat intim yang membuat jantungku hampir melompat keluar. "Dia memang begini kalau sedang gugup. Sifat perfeksionisnya keluar semua. Bahkan untuk gladi resik saja dia sampai tidak s****an."

Raka menunduk, menatap mataku dengan cara yang membuatku hampir percaya bahwa sandiwara ini nyata. "Tenang saja, Ra. Aku di sini. Jangan terlalu dipikirkan."

Untuk sesaat, aku terpaku. Tatapan matanya tidak terasa seperti akting. Ada sesuatu yang dalam dan penuh rahasia di sana. Namun, saat aku baru saja akan menghela napas lega, mataku menangkap sosok yang berdiri di dekat pintu ma**k auditorium.

Seorang pria dengan jaket kulit hitam, berdiri diam sambil memperhatikanku dan Raka dengan tatapan yang tajam dan dingin. Dito.

Dito tidak bergerak, namun kehadirannya terasa seperti badai yang siap menghantam. Ia mengangkat ponselnya, jempolnya bergerak di atas layar seolah sedang mengetik sesuatu, lalu ia menatapku lagi dengan senyum tipis yang mematikan.

Ponsel di saku rokku bergetar. Dengan tangan gemetar, aku membukanya.

Satu pesan baru dari nomor yang sangat kukenal:

*Sandiwara yang bagus, Nara. Tapi sayang, aku tahu berapa harga yang kau bayar untuk 'kekasih' idamanmu itu. Kita perlu bicara, atau semua orang di ruangan ini akan tahu siapa Raka sebenarnya.*

Duniaku serasa runtuh. Aku menatap Raka yang masih tersenyum pada teman-temanku, tidak menyadari bahwa bom waktu yang kami bawa baru saja mulai berdetak.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca