Gelas americano dingin di depanku sudah berembun, meninggalkan lingkaran air yang semakin lebar di atas meja marmer. Aku melirik jam tanganβpukul empat sore lewat lima menit. Nara tipe orang yang akan menganggap keterlambatan satu menit sebagai dosa besar, jadi aku tahu dia akan muncul dalam hitungan detik.
Benar saja, denting lonceng di pintu kafe berbunyi. Nara melangkah ma**k dengan anggun, mengenakan dress terusan berwarna pastel yang tampak mahal dan rambut yang ditata gelombang sempurna. Matanya langsung menyapu ruangan, tajam dan penuh penilaian, sampai akhirnya tertuju padaku. Dia tidak tersenyum; dia hanya menyesuaikan letak tas tangannya dan berjalan menghampiri dengan dagu terangkat.
"Kau sudah pesan?" tanyanya tanpa basa-basi begitu duduk di depanku.
"Hanya untukku. Aku tidak tahu kau mau minum apa hari ini, Tuan Putri," jawabku sambil menyunggingkan senyum miring yang biasanya membuat gadis-gadis di kampus salah tingkah.
Nara hanya mendengus halus. Dia mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya, meletakkannya di meja seolah kami sedang akan melakukan rapat direksi, bukan kencan latihan. "Kita tidak punya banyak waktu, Raka. Wisuda tinggal menghitung hari. Aku butuh transisi yang mulus. Orang-orang harus percaya kita sudah berhubungan selama tiga bulan, bukan tiga hari."
Aku menyandarkan punggung, mengamati jemarinya yang lentik namun bergerak gelisah di atas layar tablet. "Jadi, apa agendanya? Hafalan hari ulang tahun kucingmu? Atau daftar makanan yang kau benci?"
Nara menatapku tajam. "Ini serius. Aku sudah menyusun poin-poin penting: bagaimana kita bertemuβperpustakaan pusat, saat aku kesulitan mencari referensi jurnal ekonomi makroβsiapa namamu lengkap dengan silsilah keluarga singkat yang sudah kubuatkan, dan yang paling penting, bagaimana cara kita... berinteraksi secara fisik."
Aku tertawa pendek. "Berinteraksi fisik? Kau bicara seolah kita akan melakukan prosedur bedah."
"Jangan bercanda," potongnya cepat. Suaranya sedikit meninggi, menarik perhatian sepasang remaja di meja sebelah. Nara langsung merendahkan bahunya, mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi topeng ketenangan yang sempurna. "Aku butuh ini terlihat natural. Dito akan ada di sana. Dan keluargaku... mereka punya mata yang sangat jeli terhadap kebohongan."
Aku memajukan tubuh, menumpu dagu dengan tangan. "Oke. Kalau kau mau terlihat natural, langkah pertama adalah berhenti memperlakukanku seperti karyawan magang yang sedang kau ospek. Di sini, aku pacarmu. Dan pacar tidak melihat pasangannya seolah-olah dia adalah kuman yang perlu disterilkan."
Nara terdiam. Ada kilatan kemarahan di matanya, tapi kemudian menghilang, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih rapuh yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.
"Ulurkan tanganmu," perintahku lembut.
Dia mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Latihan, Nara. Ulurkan saja."
Dengan ragu, dia meletakkan tangan kanannya di atas meja. Tangannya dingin. Aku meraih jemarinya, melingkarkan telapak tanganku yang kasar karena kerja serabutan di atas kulitnya yang halus. Dia tersentak sedikit, refleks ingin menarik diri, tapi aku menahannya.
"Tanganmu gemetar," bisikku.
"Aku hanya... kedinginan. AC kafe ini terlalu kencang," kilahnya, tapi dia tidak bisa membohongiku.
Aku mengabaikan alasannya dan mulai mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, perlahan dan konstan. "Jika kita di depan orang tuamu, atau di depan mantanmu yang terobsesi itu, kau tidak boleh setegang ini. Kau harus terlihat seolah-olah tangan ini adalah tempat paling aman bagimu untuk bersandar."
Nara menunduk, menatap tautan tangan kami. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, keangkuhan di wajahnya luruh. Sudut bibirnya yang biasanya kaku kini sedikit bergetar. Aku bisa melihat urat nadi di lehernya berdenyut cepat. Di balik segala kesempurnaan dan tuntutan g*** yang ia buat, ada seorang gadis yang ketakutan setengah mati akan kegagalan.
"Kenapa kau begitu terobsesi dengan apa yang mereka pikirkan?" tanyaku, suaraku kini lebih rendah, kehilangan nada sarkasme biasanya.
Nara menarik napas panjang, matanya masih terpaku pada tangan kami. "Kau tidak akan mengerti, Raka. Di keluargaku, 'c**up baik' itu sama dengan 'gagal'. Aku adalah anak perempuan satu-satunya. Kakak-kakakku sudah sukses, mereka punya pasangan yang... yang sebanding. Jika aku datang ke wisuda sendirian, atau membawa seseorang yang tidak memenuhi standar mereka, aku akan menjadi noda dalam foto keluarga tahun ini."
Dia mendongak, dan aku melihat lapisan tipis air di pelupuk matanya yang segera ia kedipkan hingga hilang. "Aku hanya ingin sekali saja dianggap berhasil oleh ayahku. Tanpa tapi. Tanpa kritik."
Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadaku. Aku bekerja untuk uang, melakukan segala hal ilegal dan melelahkan demi melunasi hutang-hutang si**** ayahku, tapi di sini ada gadis yang memiliki segalanya secara materi namun hidup dalam penjara yang ia bangun sendiri. Kami berdua sama-sama sedang berakting, hanya saja panggungnya berbeda.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri," kataku pelan. Aku melepaskan tangannya, lalu beralih merapikan sehelai rambut yang jatuh di wajahnya. Gerakanku kali ini bukan bagian dari latihan. Itu spontan.
Nara membeku. Tatapannya terkunci pada mataku. Keheningan di antara kami mendadak terasa berat, bukan oleh kecanggungan, tapi oleh sesuatu yang belum bisa kunamakan. Wangi parfum floralnya yang elegan merayap ma**k ke indra penciumanku, dan untuk sesaat, aku lupa kalau aku sedang dibayar untuk melakukan ini.
Tiba-tiba, ponsel Nara yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Aku sempat membaca nama pengirimnya sebelum Nara menyambarnya dengan panik: *Dito*.
Wajah Nara seketika pucat pasi. Dia buru-buru mematikan layar ponselnya, tapi tangannya yang memegang perangkat itu kini bergetar lebih hebat dari sebelumnya.
"Ada apa?" tanyaku, insting waspadaku langsung aktif.
"Bukan apa-apa," jawabnya cepat, suaranya naik satu oktav. Dia mulai membereskan tablet dan tasnya dengan gerakan kacau. "Kita c**upkan latihannya hari ini. Aku... aku ada urusan lain."
"Nara, kalau ini soal Ditoβ"
"Aku bilang bukan apa-apa!" potongnya tajam, kembali ke mode defensifnya yang dingin. Dia berdiri, menghindari tatapanku. "Ingat jadwal besok. Jangan terlambat. Dan Raka... tolong berpakaianlah yang sedikit lebih layak."
Dia berbalik dan berjalan cepat keluar kafe tanpa menoleh lagi. Aku memperhatikannya dari balik kaca besar, melihatnya ma**k ke dalam mobilnya dengan terburu-buru, seolah-olah dia sedang melarikan diri dari hantu.
Aku merogoh saku jaket kusamku, merasakan tumpukan tagihan yang belum terbayar dan sebuah pesan singkat dari orang suruhan rentenir yang menagih setoran malam ini. Aku menghela napas panjang. Aku dikontrak untuk menjadi pahlawannya di pesta wisuda, tapi melihat bagaimana cara dia menatap ponselnya tadi, aku mulai merasa bahwa ancaman Dito jauh lebih berbahaya dari sekadar membongkar sandiwara kami.
Satu hal yang pasti: kencan latihan ini baru saja berubah menjadi permainan yang mempertaruhkan lebih dari sekadar reputasi Nara. Dan aku, entah bagaimana, mulai merasa tidak rela jika topeng kesempurnaannya dihancurkan oleh orang lain selain diriku.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!