Toga yang kukenakan terasa seberat baju zirah. Kain satin berwarna biru tua itu mendadak mencekik leherku, sementara topi wisuda yang bertengger di kepala terasa miring setiap kali aku bernapas. Di cermin besar lobi gedung pertemuan, aku melihat seorang wanita muda yang tampak sukses: riasan wajah *flawless*, senyum yang telah dilatih beratus kali, dan sebuah ijazah dengan predikat *cum laude* di tangan. Namun, di balik itu semua, jantungku berdegap seperti genderang perang.
"Nara, tenanglah. Kau gemetar," bisik sebuah suara berat di sampingku.
Aku menoleh. Raka berdiri di sana, tampak sangat berbeda dari mahasiswa yang biasanya memakai kaos oblong lusuh saat bekerja serabutan. Hari ini, ia menjelma menjadi pria idaman setiap orang tua. Jas *slim-fit* berwarna abu-abu gelap membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis rahang yang tegas. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang memancarkan kepercayaan diri tanpa terkesan sombong.
"Aku tidak gemetar," dustaku, meski jemariku meremas buket bunga mawar putih pemberiannya hingga plastiknya berderit. "Aku hanya... memastikan semuanya sempurna."
"Semuanya akan sempurna," Raka melangkah lebih dekat, c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum *sandalwood* yang maskulinβbukan parfum murah yang biasa ia pakai. "Ingat kesepakatan kita. Aku adalah anak pemilik firma hukum di Surabaya, baru saja menyelesaikan tesis magister hukum, dan kita bertemu di sebuah simposium ekonomi. Jangan sampai tertukar."
Aku mengangguk cepat. Sebelum aku sempat membalas, aku melihat sosok itu. Ayah dan Ibu berjalan menembus kerumunan wisudawan dengan langkah yang berwibawa. Ayah, dengan kemeja batik sutra dan kacamata berbingkai emas, memandang sekeliling dengan tatapan menilai yang tajam. Ibu berjalan di sampingnya, dagunya terangkat tinggi, menyapa beberapa kolega bisnis dengan anggukan formal yang aristokrat.
"Itu mereka," bisikku, suaraku nyaris hilang.
Raka tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun. Ia justru membetulkan letak kerah jasnya dan mengulurkan lengan padaku. "Ayo. Saatnya pertunjukan dimulai."
Saat kami mendekat, mata Ayah langsung tertuju pada Raka. Tidak ada pelukan hangat atau ucapan selamat yang meluap-luap untuk keberhasilanku lulus dengan nilai tertinggi. Tatapan Ayah adalah sebuah pemindaian, sebuah audit terhadap sosok pria yang berdiri di samping putrinya.
"Pagi, Ayah, Ibu," sapaku sambil mencium tangan mereka. "Kenalkan, ini Raka. Pria yang pernah kuceritakan di telepon."
Raka mengulurkan tangan dengan mantap. "Selamat pagi, Pak Hadi, Bu Ratna. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda berdua. Saya Raka Ardiansyah."
Ayah menjabat tangan Raka, tidak terlalu lama, namun c**up kuat untuk menguji ketahanan seseorang. "Raka. Nara bilang kamu sedang menyelesaikan S2. Di mana?"
"Universitas Airlangga, Pak. Saya mengambil spesialisasi Hukum Bisnis Internasional," jawab Raka lancar, suaranya tenang dan terkontrol. "Sembari membantu operasional di kantor hukum Ayah saya jika ada waktu luang."
Ibu tampak terkesan, senyumnya mulai merekah sedikit lebih lebar. "Oh, jadi mengikuti jejak Ayah? Itu bagus. Dunia hukum butuh regenerasi yang kuat."
Namun, Ayah belum selesai. Ia melipat tangan di depan dada, mengabaikan kerumunan orang yang ingin berfoto di sekitar kami. "Ardiansyah... nama yang c**up umum. Kantor hukum ayahmu, apa namanya? Mungkin saya pernah mendengar atau bekerja sama dengan mereka."
Udara di sekitarku mendadak menipis. Ini adalah bagian yang paling kutakuti. Ayah memiliki ingatan seperti gajah jika menyangkut relasi bisnis. Aku melirik Raka, merasakan telapak tanganku mulai berkeringat dingin.
Raka tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat alami. "Kantor kecil, Pak. *Ardiansyah & Associates*. Kami lebih banyak menangani litigasi korporat di wilayah Jawa Timur, jarang merambah ke Jakarta kecuali untuk ka**s-ka**s khusus. Ayah saya tipe orang yang lebih suka bekerja di balik layar, mirip dengan filosofi yang Nara ceritakan tentang cara Bapak memimpin perusahaan."
Pujian terselubung itu mendarat tepat sasaran. Aku melihat ketegangan di bahu Ayah sedikit mengendur, meski matanya tetap tajam. "Begitu ya? Nara bilang kalian bertemu di simposium. Topik apa yang dibahas saat itu?"
Pertanyaan itu seperti jebakan batman. Aku baru saja akan membuka mulut untuk membantu, tapi Raka lebih cepat.
"Dampak regulasi perpajakan baru terhadap *startup* teknologi," jawab Raka tanpa jeda sedetik pun. "Sebenarnya saya sedikit bosan saat itu, sampai saya melihat Nara melontarkan pertanyaan yang sangat kritis kepada pembicara. Saya langsung tahu, wanita ini bukan sekadar mahasiswi biasa."
Raka menatapku dengan binar di matanya yang terlihat begitu nyata hingga aku nyaris lupa bahwa semua ini adalah kebohongan yang kubayar mahal. Ia menyentuh punggungku dengan lembut, sebuah gestur posesif yang sopan.
"Nara memang selalu kritis. Kadang terlalu keras kepala untuk kebaikannya sendiri," sahut Ayah, namun kali ini nada suaranya sedikit lebih lunak. "Jadi, apa rencanamu setelah lulus magister, Raka? Apakah akan menetap di Surabaya atau mencoba peruntungan di Jakarta?"
"Saya sedang mempertimbangkan untuk membuka cabang di Jakarta, Pak. Tapi tentu saja, ada banyak pertimbangan... terma**k di mana Nara akan meniti kariernya nanti," Raka melirikku penuh arti.
Aku tersenyum malu-malu, memainkan peran "putri penurut" dengan sempurna. "Ayah, Raka sudah banyak membantuku menyiapkan mental untuk wisuda ini. Dia bahkan rela menyetir jauh-jauh hanya untuk hadir di sini."
Ibu menyentuh lengan Ayah. "Sudahlah, Mas. Ini hari bahagia Nara. Jangan diinterogasi terus calon menantunya. Mari kita cari tempat untuk makan siang, saya sudah memesan meja di hotel."
Ayah menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. "Baiklah. Tapi Raka, kita akan bicara lebih banyak nanti. Saya ingin tahu lebih det**l tentang visi bisnismu."
"Dengan senang hati, Pak," jawab Raka sopan.
Saat Ayah dan Ibu berjalan lebih dulu menuju tempat parkir, aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Rasanya seperti baru saja lolos dari eksekusi mati. Aku menoleh ke arah Raka, hendak membisikkan terima kasih, namun ekspresi Raka tiba-tiba berubah.
Ia tidak lagi tersenyum. Matanya menatap lurus ke arah gerbang keluar gedung wisuda. Aku mengikuti arah pandangnya dan seketika itu juga darahku serasa membeku.
Di dekat tiang besar, berdiri seorang pria dengan kemeja hitam yang tidak rapi. Tangannya memegang sebatang rokok yang menyala, dan matanya menatap kami dengan seringai yang menyebalkan. Dito. Mantan kekasihku yang tidak pernah tahu kata menyerah.
Dito tidak melihatku. Matanya tertuju lurus pada Raka, dan ia mengangkat tangannya, membentuk simbol telepon dengan ibu jari dan kelingking, lalu menunjuk ke arah ponselnya.
Wajah Raka mengeras. Rahangnya mengatup rapat, dan ada gurat kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik topeng tenangnya.
"Nara, jalan terus," bisik Raka, suaranya kini dingin dan mendesak. "Jangan menoleh. Ikuti orang tuamu sekarang."
"Raka, ada apa? Siapa dia?" tanyaku panik.
"Bukan siapa-siapa. Cepat jalan!"
Raka mendorongku pelan agar segera menyusul Ayah dan Ibu, sementara ia sendiri melambat, membiarkan jarak di antara kami melebar. Aku menoleh sekali lagi dan melihat Dito melangkah mendekati Raka. Keamanan yang baru saja kurasakan runtuh seketika. Aku tahu, sandiwara ini baru saja mema**ki babak yang jauh lebih berbahaya dari sekadar interogasi Ayah.
Dito tidak datang untuk memberikan selamat. Ia datang membawa bom waktu yang siap diledakkan di depan orang tuaku.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!