Matahari siang ini terasa seolah tepat berada di atas kepala, memanggang lapangan rektorat yang dipadati ribuan orang berjubah hitam. Namun, bagi saya, hawa panas itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa hangat yang menjalar di dada saat melihat binar di mata Mama. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun hidup saya, saya tidak melihat kerutan kecewa atau tatapan menilai di wajahnya.
"Nara, geser sedikit ke kanan. Nah, Raka, tolong rangkul pinggang Nara ya," instruksi Papa dengan kamera DSLR yang menggantung di lehernya. Senyum Papa lebar, tipe senyum yang biasanya hanya ia berikan saat menerima penghargaan *Manager of the Year*.
Raka bergerak dengan luwes. Telapak tangannya yang hangat mendarat di pinggang saya, memberikan tekanan lembut yang terasa begitu nyata hingga saya hampir lupa bahwa saya membayarnya untuk melakukan ini. Ia mengenakan setelan jas *navy* yang pas di tubuh atletisnya, rambutnya ditata rapi dengan sedikit *pomade*, menonjolkan rahang tegas yang sejak tadi menjadi bahan bisik-bisik mahasiswi lain yang lewat.
"Senyum, Ra. *You’re doing great*," bisik Raka tepat di telinga saya. Aroma parfum *sandalwood* miliknya yang maskulin dan berkelas menyerbu indra penciuman saya, membuat saraf-saraf saya yang tegang sedikit mengendur.
*Cekrek.*
"Sempurna!" seru Tante Lastri, adik Mama yang paling kritis soal urusan bibit, bebet, dan bobot. Ia mendekat, memandangi Raka dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. "Jadi, Raka ini yang tempo hari kamu ceritakan, Nar? Lulusan teknik mesin dan sekarang sudah mulai *trainee* di perusahaan migas itu?"
Saya menelan ludah, baru saja hendak membuka mulut saat Raka memotong dengan nada suara yang begitu tenang dan rendah hati. "Baru tahap awal, Tante. Masih banyak yang harus saya pelajari. Tapi saya beruntung punya Nara yang selalu mendukung saya di masa-masa sulit penyelesaian skripsi kemarin."
Raka menoleh ke arah saya, menatap saya dengan binar mata yang begitu meyakinkan. Jika saya tidak tahu bahwa dia adalah mahasiswa yang sedang kesulitan finansial dan bekerja serabutan, saya pasti sudah jatuh cinta saat itu juga. Sandiwaranya terlalu rapi.
"Duh, beruntungnya kamu, Nar. Sudah cantik, cumlaude, dapat pacar yang mapan dan sopan lagi," puji Tante Lastri sambil menepuk-nepuk lengan saya.
Mama mendekat, merapikan kerah toga saya dengan gerakan yang hampir menyerupai sebuah pelukan. "Mama bangga sama kamu, Nara. Akhirnya, kamu menunjukkan kalau pilihan kamu tidak pernah salah."
Kalimat itu seharusnya membuat saya bahagia, tapi ada rasa pahit yang tersangkut di tenggorokan. Saya memaksakan senyum, mengeratkan pegangan pada buket bunga lili besar yang diberikan Raka tadi pagi. Inilah yang saya inginkan selama ini. Pengakuan. Rasa bangga yang tidak bersyarat dari keluarga besar. Semua drama ini, semua uang tabungan yang saya keluarkan untuk menyewa Raka, terasa sepadan saat melihat wajah Mama yang berseri-seri.
Kami mulai berjalan menuju area parkir untuk melanjutkan perayaan dengan makan siang di sebuah restoran berbintang. Raka tetap berada di sisi saya, tangannya tak lepas menggenggam jemari saya. Gestur yang sederhana, namun c**up untuk membuat saya merasa terlindungi di tengah kerumunan yang menyesakkan.
Namun, perasaan kemenangan itu mendadak menguap saat saya merasakan sebuah tatapan yang tidak biasa. Bukan tatapan kagum seperti yang diberikan orang-orang sejak tadi, melainkan tatapan yang menusuk, dingin, dan penuh kebencian.
Saya menoleh ke arah barisan pohon m***ni di sisi kiri jalan setapak. Di sana, bersandar pada salah satu batang pohon dengan tangan terlipat di dada, berdirilah Dito.
Jantung saya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Dito mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya berantakan, dan matanya yang merah menunjukkan dia mungkin tidak tidur semalaman. Saat mata kami bertemu, ia menyeringai—sebuah seringai yang mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh saraf saya.
"Nara? Ada apa?" Raka menyadari perubahan langkah saya yang tiba-tiba kaku.
"Nggak... nggak ada apa-apa," jawab saya cepat, mencoba mengalihkan pandangan. Namun, Dito tidak membiarkan saya lolos. Ia mulai berjalan searah dengan kami, menjaga jarak sekitar sepuluh meter, namun tetap berada dalam jangkauan pandangan saya.
Setiap kali saya melirik, Dito ada di sana. Di balik kerumunan orang tua yang sedang berfoto, di dekat penjual es krim, terus mengikuti seperti bayangan hitam yang enggan lepas. Ia tidak meneriakkan nama saya, tidak juga mencoba mendekat secara fisik, tapi kehadirannya terasa seperti bom waktu yang siap meledak di tengah pesta kemenangan saya.
"Dia mengikuti kita, kan?" bisik Raka. Suaranya tidak lagi terdengar seperti kekasih yang lembut, melainkan lebih tajam dan waspada.
"Jangan menoleh, Raka. Tolong, jangan buat orang tuaku curiga," pinta saya dengan suara gemetar. Saya mempercepat langkah, berusaha mengimbangi langkah Papa yang sudah jauh di depan menuju mobil.
"Dia nggak akan berani macam-macam di depan keluargamu, Ra. Tenanglah," Raka mencoba menenangkan, namun saya bisa merasakan otot lengannya mengeras.
Tepat saat kami sampai di depan mobil Camry milik Papa, Dito berhenti di jarak lima meter. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel, dan mengangkatnya tinggi-tinggi seolah sedang mengambil foto kami. Kemudian, ia melakukan gerakan menggorok leher dengan ibu jarinya sambil menatap tepat ke arah Raka.
Wajah Raka seketika berubah pucat. Ada kilatan ketakutan yang melintas di matanya—sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya pada pria yang selalu terlihat tenang ini.
"Nara, ayo ma**k," suara Papa memecah ketegangan.
Saya segera ma**k ke dalam mobil, sementara Raka duduk di samping saya. Saat mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area kampus, saya memberanikan diri melirik ke kaca spion samping. Dito masih berdiri di sana, di tengah kepulan asap knalpot dan debu, menatap mobil kami dengan senyum yang tidak pernah hilang.
Ia tidak hanya ingin menghancurkan reputasi saya. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap di matanya, sesuatu yang tampaknya juga diketahui oleh Raka.
"Raka," panggil saya pelan saat mobil sudah melaju di jalan raya. "Kenapa tadi kamu kelihatan takut melihat Dito?"
Raka terdiam, matanya menatap lurus ke arah jalanan di depan, namun jemarinya meremas kain celananya dengan sangat kuat. "Ada hal-hal tentang Dito yang belum sempat kukatakan padamu, Nara. Dan kurasa, sandiwara kita ini baru saja berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar membohongi orang tuamu."
Ponsel di dalam tas saya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor yang sangat saya kenal muncul di layar kunci.
*“Aktor yang bagus, Nar. Tapi sayang, dia punya hutang yang belum lunas sama bosku. Mau tahu berapa harga kepala 'pacar' kesayanganmu itu?”*
Darah saya serasa membeku. Sandiwara ini belum berakhir, dan harga yang harus saya bayar ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah saya bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!