Aku bisa merasakan jemari Nara yang bergetar di balik lenganku. Gadis itu berdiri tegak, dagunya terangkat dengan angkuh, tapi napasnya yang pendek-pendek memberitahuku bahwa benteng pertahanannya sedang retak. Di depan kami, Dito berdiri dengan seringai yang membuat perutku mual. Ia tampak seperti predator yang baru saja menemukan celah pada pagar mangsanya.
"Pesta yang luar biasa, Nar," suara Dito terdengar halus, tapi ada nada meremehkan yang kental di sana. Ia mengayunkan gelas sampanye di tangannya, membiarkan cairan keemasan itu berguncang-guncang. "Orang tuamu pasti bangga sekali. Lulus dengan predikat *cum laude*, dan sekarang... punya pendamping sesempurna Raka."
Aku mempererat rangkulanku di pinggang Nara, sebuah gestur posesif yang seharusnya menjadi bagian dari aktingku, tapi entah kenapa terasa begitu mendesak untuk kulakukan secara nyata. Aku bisa mencium aroma parfum Naraβlembut, seperti melati di pagi hariβyang kini bercampur dengan bau keringat dingin yang samar.
"Terima kasih, Dito," suara Nara stabil, meski aku tahu dia sedang mengerahkan seluruh energinya untuk tidak gemetar. "Kami sedang ingin menikmati malam ini. Jadi, kalau kau permisiβ"
"Oh, jangan terburu-buru," potong Dito, langkahnya maju satu tindak, memperpendek jarak yang membuatku secara otomatis menggeser tubuh untuk menutupi Nara. Tatapan Dito beralih padaku, tajam dan penuh selidik. "Raka, bukan? Kau benar-benar berbakat. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu pas memerankan peran 'pangeran impian' seperti ini."
Aku membalas tatapannya tanpa berkedip. Aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang kasar di gang-gang gelap saat menagih utang, tapi Dito berbeda. Dia adalah tipe ancaman yang memakai jas mahal dan tersenyum di balik lampu kristal.
"Aku tidak sedang memerankan apa pun, Dito," ujarku dingin, suaraku rendah dan terkontrol. "Mungkin kau hanya sulit menerima kenyataan bahwa Nara sudah menemukan seseorang yang jauh lebih baik darimu."
Dito tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak sampai ke mata. Ia memiringkan kepalanya, matanya berkilat jahat. "Seseorang yang lebih baik? Atau seseorang yang lebih... profesional?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dadaku seperti genderang perang. Aku tahu arah pembicaraan ini.
"Kau tahu, Nar," Dito kembali menatap Nara, mengabaikanku seolah aku hanya benda mati. "Dunia ini kecil. Terutama dunia bagi mereka yang butuh uang cepat. Aku sempat bertemu dengan beberapa 'teman' lama ayahmu, Raka. Mereka bercerita tentang seorang pemuda berbakat yang sangat efisien dalam mengejar orang-orang yang lari dari kewajiban mereka. Sangat disiplin. Sangat... berdedikasi pada tugasnya."
Aku merasakan tubuh Nara menegang seketika. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan bingung yang mulai diwarnai ketakutan. Aku tetap memasang wajah datar, meskipun di dalam kepala, aku sedang memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana Dito bisa tahu tentang pekerjaan sampinganku dengan sindikat itu?
"Apa maksudmu, Dito?" tanya Nara, suaranya kini benar-benar bergetar.
"Maksudku?" Dito menyeringai lebih lebar, matanya kini terkunci padaku. "Aku hanya mengagumi etos kerja Raka. Dia tipe orang yang akan melakukan apa saja asalkan bayarannya cocok. Benar kan, Raka? Apakah malam ini ma**k dalam tarif lembur, atau ini adalah paket 'layanan penuh' untuk menyenangkan klien kesayanganmu?"
"C**up," geramku. Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga wajah kami hanya terpaut beberapa inci. Aku bisa mencium aroma alkohol dari napasnya. "Kau sedang mabuk. Sebaiknya kau pergi sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali di depan semua tamu terhormat ini."
Dito tidak mundur. Ia justru mendekatkan bibirnya ke telingaku, berbisik c**up pelan agar hanya aku yang bisa mendengar, namun c**up jelas untuk menusuk jantungku. "Jangan main-main denganku, penagih utang. Aku tahu berapa harga sewa tubuhmu malam ini. Dan aku tahu apa yang kau lakukan di gang-gang gelap itu setelah melepas jas mahalmu. Jika kau tidak ingin Nara tahu bahwa pahlawannya adalah seorang kriminal rendahan, sebaiknya kau menjauh darinya saat aku memintanya nanti."
Ia menarik diri, menepuk bahuku dua kali dengan gerakan yang merendahkan, lalu mengedipkan mata pada Nara yang tampak pucat pasi.
"Sampai jumpa nanti, Nar. Kita masih punya urusan yang belum selesai," ucap Dito dengan nada sant** sebelum berbalik dan menghilang di balik kerumunan tamu.
Suasana pesta yang tadinya meriah tiba-tiba terasa mencekik. Musik klasik yang mengalun lembut di latar belakang kini terdengar seperti suara denging yang menyakitkan telinga. Aku menoleh ke arah Nara. Ia menatapku, matanya yang besar kini penuh dengan pertanyaan yang belum sempat ia ucapkan.
"Raka... apa yang dia bicarakan?" bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk pesta.
Aku melihat tangan Nara yang memegang gelas kokt**l; jari-jarinya memutih karena memegang terlalu kencang. Aku tahu aku harus berbohong. Aku harus mempertahankan sandiwara ini demi keselamatannya, dan juga demi keselamatanku. Tapi melihat sorot matanya yang rapuh, kebohongan itu mendadak terasa pahit di lidahku.
"Jangan dengarkan dia, Nara. Dia hanya ingin mengacaukan kepalamu," kataku, mencoba memberikan senyum yang meyakinkan, meski aku tahu mataku tidak bisa menipu. "Ayo, kita cari tempat yang lebih tenang. Kau butuh udara segar."
Aku menuntunnya keluar menuju balkon, menjauh dari keramaian, namun aku tahu ancaman Dito tidak akan berhenti di sana. Pria itu baru saja menaburkan racun di dalam hubungan kontrak kami, dan aku bisa merasakan bagaimana racun itu mulai bekerja, perlahan-lahan menggerogoti topeng sempurna yang selama ini kubangun dengan susah payah.
Di bawah cahaya bulan yang pucat, aku menatap profil wajah Nara dari samping. Ia tampak begitu cantik, namun juga begitu ringkih. Pikiranku berputar hebat. Dito bukan hanya tahu tentang kontrak kami; dia tahu tentang sisi gelap hidupku yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat. Jika dia membongkarnya sekarang, Nara tidak hanya akan kehilangan citranyaβdia akan terseret ke dalam lubang hitam yang selama ini kutinggali.
"Raka," suara Nara memecah keheningan balkon. Ia berbalik menghadapku, matanya menatap langsung ke dalam mataku. "Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu yang berbahaya dariku, kan?"
Aku terdiam. Di kejauhan, aku melihat Dito berdiri di dekat pintu kaca balkon, sedang menyesap minumannya sambil menatap kami dengan tatapan penuh kemenangan. Ia mengangkat gelasnya ke arahku, seolah-olah memberikan salam perpisahan bagi sandiwara yang sebentar lagi akan berakhir tragis.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!