Dusta di Balik Hijau

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan trauma Laras dan pertemuan 'kebe...

Pengaturan Membaca

Lampu-lampu sorot galeri terasa terlalu menyengat di kulitku, seolah-olah setiap watt-nya dirancang untuk menelanjangi kegelisahan yang kusembunyikan di balik riasan tipis. Aku berdiri di depan sebuah kanvas besar bertajuk *‘Metamorfosis’*. Sebagai seorang ilustrator medis, mataku secara otomatis membedah proporsi tubuh dalam lukisan itu—sudut tulang selangka yang sedikit terlalu tajam, otot deltoid yang tidak simetris. Namun, di galeri ini, bukan akurasi anatomi yang dicari, melainkan emosi. Dan emosi adalah sesuatu yang sudah lama kupendam dalam kotak kedap udara di sudut tergelap pikiranku.

Tiga tahun. Seribu sembilan puluh lima hari sejak Maya menghilang, dan aku masih terjebak dalam labirin yang sama.

"Kau terlalu lama menatap otot trapezius itu, Laras. Ingat, ini pameran seni, bukan meja autopsi," bisik sebuah suara di sampingku.

Aku menoleh dan mendapati Ratna, sahabatku sekaligus kurator pameran ini, sedang memandangku dengan cemas. Aku hanya memaksakan senyum tipis. "Kebiasaan buruk, Rat. Aku hanya mencoba memahami apa yang ingin disampaikan pelukisnya lewat ketegangan leher itu."

"Pelukisnya ingin menyampaikan rasa sakit, bukan kelainan saraf," koreksi Ratna sambil menepuk bahuku. "Coba nikmati suasananya. Minum *champagne*-mu, temui beberapa orang, dan berhenti mencari Maya di setiap sudut ruangan ini."

Kalimat terakhirnya menghantamku seperti godam. Aku ingin memprotes, mengatakan bahwa aku tidak sedang mencari kakaku, tapi lidahku kelu. Ratna benar. Setiap kali aku berada di keramaian, mataku secara tidak sadar memindai tinggi badan, warna rambut, dan cara berjalan setiap wanita yang lewat. Aku mencari sepotong jiwaku yang hilang di tengah lautan orang asing.

Ratna ditarik oleh seorang kolektor, meninggalkanku sendirian dalam riuh rendah percakapan yang terdengar seperti dengung lebah di telingaku. Aku memutuskan untuk berpindah ke ruang belakang yang lebih sepi, tempat karya-karya abstrak dipajang. Di sana, pencahayaannya lebih redup, didominasi oleh gradasi warna hijau hutan yang pekat.

Langkahku terhenti tepat di depan pintu ma**k aula kecil itu.

Di ujung ruangan, membelakangiku, berdiri seorang wanita. Rambutnya hitam legam, jatuh hingga ke tengah punggung dengan gelombang yang sangat kukenal. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud—warna favorit Maya. Cara ia memiringkan kepalanya saat mengamati lukisan, cara jemarinya menyentuh dagu... itu dia.

Jantungku mendadak berhenti berdetak, lalu meledak dalam ritme yang kacau.

"Maya?" bisikku, nyaris tak terdengar.

Wanita itu tidak berbalik. Aku melangkah maju, kakiku terasa seberat timah. Oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis. Paru-paruku menyempit, menciptakan sensasi terbakar di dada. *Ini tidak mungkin. Tapi itu dia. Aku tahu lekuk punggung itu.*

"Maya!" kali ini suaraku lebih keras, pecah oleh keputusasaan.

Wanita itu berbalik. Wajahnya asing. Fitur wajahnya tajam, matanya sipit, dan ia menatapku dengan kening berkerut bingung. Ia bukan Maya. Ia hanya sebuah fatamorgana yang disusun oleh ingatanku yang sakit.

Duniaku mulai berputar. Lant** galeri terasa miring, seolah-olah aku berdiri di atas kapal yang dihantam badai. Aku mundur selangkah, menab**k dinding dingin. Suara orang-orang di aula utama mendadak terdengar seperti guntur yang m****akkan telinga. Tanganku mulai gemetar hebat, dan penglihatanku menyempit menjadi lubang kunci yang gelap. *Panic attack.* Sial, tidak di sini. Jangan sekarang.

Aku merosot, mencoba mencari pegangan, namun jemariku hanya menggapai udara kosong. Aku memejamkan mata, berusaha mengatur napas yang tersangkut di tenggorokan, menunggu kegelapan menelanku sepenuhnya.

"Bernapaslah bersamaku. Ikuti hitunganku."

Sebuah suara rendah dan tenang menembus kabut kepanikanku. Suara itu tidak mendesak, tidak panik. Suara itu terasa seperti jangkar.

"Satu... dua... tiga... buang perlahan," instruksi suara itu lagi.

Aku merasakan sebuah tangan yang hangat namun kokoh diletakkan di bahuku, memberikan tekanan yang c**up untuk membuatku merasa 'menapak' kembali ke bumi. Aku membuka mata dengan susah payah. Di depanku, seorang pria berjongkok sehingga mata kami sejajar. Ia tidak menyentuhku lebih dari yang diperlukan, menghargai ruang pribadiku meski aku sedang kolaps.

Pria itu memiliki wajah yang simetris—garis rahang yang tegas, hidung lurus, dan mata berwarna cokelat hangat yang memancarkan ketenangan luar biasa. Ia mengenakan kemeja linen berwarna kelabu yang lengannya digulung hingga siku.

"Pelan-pelan," ucapnya lembut. "Kau aman sekarang. Fokus pada suaraku."

Aku menghirup napas panjang, mencium aroma kayu cendana dan hujan dari pakaiannya. Perlahan, detak jantungku mulai melambat. Gemetar di tanganku mereda.

"Maaf," bisikku setelah beberapa saat, suaraku parau. "Aku... aku hanya..."

"Kau tidak perlu menjelaskan apa pun," potongnya dengan senyum tipis yang menenangkan. "Galeri ini memang bisa terasa menyesakkan bagi sebagian orang. Terlalu banyak emosi yang tumpah di dinding."

Ia berdiri dan mengulurkan tangan, namun ia menunggu sampai aku memberikan tanda persetujuan sebelum ia membantuku berdiri. Gerakannya sangat sopan, hampir seperti seseorang yang sangat terlatih untuk menghadapi situasi rapuh.

"Terima kasih," kataku, mencoba merapikan gaunku yang sedikit kusut. Aku merasa malu sekaligus lega. "Aku Laras."

"Arsen," jawabnya singkat namun mantap. Ia tidak melepaskan tatapannya, seolah ia benar-benar peduli pada kondisiku, bukan sekadar basa-basi formalitas pameran. "Kau terlihat seperti butuh udara segar daripada segelas *champagne* lagi, Laras."

Aku menatapnya, mencoba mencari tanda-tanda kepura-puraan di wajahnya, namun yang kutemukan hanyalah ketulusan yang tampak begitu murni. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan sejak hilangnya Maya, kehadiran Arsen terasa seperti anomali. Ia seperti oasis di tengah gurun traumaku yang gersang.

"Aku biasanya tidak sekacau ini di depan orang asing," aku mencoba membela diri, harga diriku yang terluka mulai bicara.

Arsen terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar seperti melodi rendah yang menyenangkan. "Kalau begitu, aku beruntung bisa melihat sisi 'kacau' itu lebih dulu. Itu jauh lebih menarik daripada topeng yang dipakai orang-orang di aula sana."

Ia mengajakku berjalan menuju balkon galeri yang menghadap ke arah taman kota yang gelap. Angin malam menerpa wajahku, membawa aroma tanah basah. Arsen berdiri di sampingku, tidak terlalu dekat namun c**up untuk membuatku merasa terlindungi. Kami terdiam sejenak, menikmati kesunyian yang langka.

"Kau sering datang ke acara seperti ini?" tanyaku, memecah keheningan.

"Hanya jika aku merasa perlu diingatkan bahwa dunia ini punya banyak perspektif," jawabnya retoris. Ia menoleh padaku, matanya menangkap cahaya bulan. "Laras, apa pun yang kau lihat di dalam tadi... yang membuatmu sesak... itu bukan kesalahanmu."

Aku tersentak. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah raut wajahku begitu mudah dibaca? "Kau bicara seolah kau mengenalku."

Arsen tersenyum, jenis senyum yang tidak mencapai matanya namun terasa sangat dalam. "Aku tidak mengenalmu. Tapi aku tahu rasanya kehilangan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata."

Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan getaran aneh di dadaku. Arsen bukan sekadar pria tampan yang kebetulan lewat. Ada sesuatu di balik ketenangannya yang membuatku merasa... diperhatikan. Seolah-olah pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan yang acak.

"Laras! Ya Tuhan, kau di sini!" Ratna muncul di pintu balkon dengan wajah pucat. "Aku mencarimu ke mana-mana. Kau baik-baik saja?"

Aku mengangguk cepat. "Ya, aku hanya butuh udara. Arsen membantuku."

Ratna menatap Arsen dengan pandangan menyelidik, namun Arsen hanya mengangguk sopan. "Aku harus pergi sekarang," kata Arsen padaku. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kartu nama kecil berwarna krem sederhana. "Jika kau butuh seseorang untuk membantumu 'bernapas' lagi, jangan ragu untuk menghubungi."

Ia menyerahkan kartu itu. Jemarinya sempat bersentuhan dengan jemariku—sebuah kontak singkat yang mengirimkan sengatan listrik aneh ke sekujur tubuhku. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan, meninggalkan aroma cendana yang samar.

Aku menunduk, menatap kartu nama di tanganku. Hanya ada nama *Arsenio* dan sebuah nomor telepon. Tidak ada jabatan, tidak ada alamat kantor.

Saat itu, aku tidak tahu bahwa pria yang tampak seperti malaikat pelindungku ini adalah benang merah yang akan menarikku kembali ke rahasia gelap tentang Maya. Aku juga tidak tahu bahwa di balik senyum tenangnya, Arsen menyimpan alasan yang jauh lebih mengerikan mengapa ia berada di galeri itu malam ini—tepat di saat aku hancur.

Aku mema**kkan kartu itu ke tas, sementara di kejauhan, petir menyambar, membelah langit malam yang mulai menghijau gelap oleh mendung. Petualangan yang akan menghancurkan hatiku baru saja dimulai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca