Keheningan di dalam apartemen Arsen selalu terasa seperti pelukan yang menenangkan, tetapi malam ini, atmosfer itu terasa berbeda. Udara di sekitarku seolah menebal, menekan paru-paruku hingga setiap tarikan napas terasa berat. Arsen baru saja berpamitan sepuluh menit yang lalu untuk membelikan martabak manis kesukaanku di ujung jalan—sebuah gestur kecil yang biasanya membuat hatiku menghangat. Namun, sejak ia pergi, mataku tak bisa berhenti menatap lemari buku jati yang berdiri kokoh di sudut ruang kerjanya.
Sebagai seorang ilustrator medis, mataku terlatih untuk menangkap anomali. Aku terbiasa memperhatikan simetri tulang dan distorsi jaringan. Dan malam ini, ingatanku yang sialnya terlalu tajam menangkap sesuatu yang janggal: deretan buku ensiklopedia kedokteran itu bergeser dua milimeter lebih maju dari biasanya.
Tanganku gemetar saat aku melangkah mendekat. "Jangan lakukan ini, Laras," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar asing, parau di tengah sunyinya ruangan. Arsen adalah pria yang memulihkan kepingan jiwaku. Dialah yang memegang tanganku saat aku terbangun berteriak karena mimpi buruk tentang Maya. Meragukannya terasa seperti mengkhianati keselamatanku sendiri.
Namun, rasa penasaran itu seperti infeksi yang menjalar cepat. Aku menyentuh pinggiran rak, dan jemariku merasakan sebuah celah kecil. Dengan satu tarikan napas panjang, aku mendorong bagian belakang rak tersebut. Suara gesekan kayu yang halus terdengar, dan rak itu berputar perlahan, memperlihatkan sebuah b**nkas baja kecil yang tertanam di dinding.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dada seperti burung yang terperangkap. Aku tahu kode apartemennya—tanggal pertemuan pertama kami. Aku mencoba angka itu pada panel digital b**nkas. *0-9-1-1*.
*Klik.*
Pintu kecil itu terbuka dengan desisan pelan. Aku tertegun sejenak, berharap hanya akan menemukan akta tanah atau perhiasan keluarga. Namun, benda pertama yang kulihat adalah sebuah paspor berwarna biru gelap. Aku membukanya dengan ujung jari yang dingin.
Foto itu jelas milik Arsen. Wajahnya yang tegas, rahangnya yang kuat, dan tatapan matanya yang selalu tampak penuh rahasia. Namun, nama yang tertera di sana bukan Arsen.
*Adrian Mahardika.*
Darahku seolah berhenti mengalir. Napas yang tadi tertahan kini keluar dalam satu embusan gemetar. Siapa Arsen yang selama ini tidur di sampingku? Siapa pria yang membisikkan kata-kata cinta setiap malam jika identitasnya saja sebuah kebohongan yang dijahit dengan rapi?
Aku meraih lebih dalam ke dalam b**nkas. Di balik paspor itu, terdapat sebuah map kulit berwarna cokelat tua. Di sampulnya, tertempel sebuah label kecil dengan tulisan tangan yang sangat kukenali—tulisan tangan Arsen yang rapi dan presisi.
*M. L.*
Inisial kakakku. Maya Larasati.
Tanganku gemetar hebat saat membuka map tersebut. Di dalamnya bukan hanya sekadar berkas, melainkan sebuah kronologi kehancuran hidupku. Ada foto-foto Maya yang diambil dari jarak jauh—saat ia sedang di kampus, saat ia menunggu bus, bahkan foto terakhirnya di hari ia menghilang. Foto yang bahkan polisi pun tidak pernah memilikinya.
Ada pula catatan medis Maya, rincian jadwal hariannya, dan yang paling mengerikan: sebuah foto polaroid yang memperlihatkan Maya sedang tertidur di sebuah ruangan yang tidak kukenali. Di bawah foto itu tertulis tanggal: *Tiga hari setelah laporan kehilangan.*
"Tidak mungkin..." Isak tangis tertahan keluar dari tenggorokanku. Maya masih hidup setelah ia dinyatakan hilang, dan Arsen—atau Adrian—mengetahuinya. Dia tidak hanya tahu, dia mengawasinya.
Seluruh dinding kepercayaan yang kubangun selama setahun terakhir runtuh seketika. Setiap ciuman, setiap perhatian, setiap dukungan yang ia berikan untuk kesembuhan traumaku... semuanya terasa seperti racun yang dilapisi gula. Dia tidak sedang menyembuhkanku; dia sedang memantau sejauh mana aku tahu. Dia adalah serigala yang menyamar menjadi gembala bagi domba yang terluka.
Aku baru saja hendak mengambil ponselku untuk memotret berkas itu ketika telingaku menangkap suara yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.
Bunyi *beep* digital dari pintu depan. Kunci apartemen terbuka.
Langkah kaki yang tenang dan berirama itu menggema di lorong menuju ruang kerja. Itu langkah kaki Arsen. Dia kembali lebih cepat dari yang kubayangkan.
Panik menguasai diriku. Aku mencoba menutup map itu dengan terburu-buru, tetapi beberapa lembar foto terjatuh ke lant**. Aku berlutut, mencoba meraihnya dengan tangan yang tak lagi bisa diajak kompromi. Bayangan seseorang kini muncul di ambang pintu, memanjang menutupi lant** ruang kerja yang remang-remang.
"Laras?"
Suaranya tetap lembut, tenang, dan dalam. Suara yang biasanya membuatku merasa aman, kini terdengar seperti lonceng kematian. Aku mematung di lant**, masih memegang paspor bertuliskan nama Adrian, sementara foto Maya yang hilang menatapku dari bawah meja.
Aku mendongak perlahan. Arsen berdiri di sana, masih memegang kantong plastik berisi martabak manis. Matanya yang tajam tidak menatapku, melainkan langsung ke arah b**nkas yang terbuka lebar. Kehangatan yang biasanya terpancar dari wajahnya menguap, digantikan oleh ekspresi dingin yang datar—sebuah topeng yang akhirnya terlepas sepenuhnya.
"Aku sudah bilang padamu, Sayang," katanya dengan nada suara yang nyaris seperti bisikan, sembari menutup pintu ruang kerja di belakangnya dan memutar kunci. "Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur demi kebaikanmu sendiri."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!