Udara di dalam apartemenku terasa seberat timah, seolah oksigen telah dipompa keluar dan digantikan oleh kecurigaan yang menyesakkan. Aku duduk di tepi tempat tidur, jemariku gemetar saat memegang sebuah buku sketsa tua yang permukaannya sudah mulai menguning. Itu adalah buku yang kukira hilang di taman kota hampir setahun yang laluβenam bulan sebelum Arsen ma**k ke dalam hidupku dengan senyum tenangnya yang memabukkan.
Namun, buku itu tidak hilang. Tadi malam, saat aku secara tidak sengaja menyenggol tumpukan album foto di rak buku bawah milik Arsen, buku sketsa ini terselip di sana. Bukan sekadar terselip, tapi dirawat dengan sangat baik.
Aku membuka halaman demi halaman dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Mataku yang terlatih sebagai ilustrator medis tidak bisa membohongi penglihatanku sendiri. Di sela-sela gambarku tentang anatomi jantung dan paru-paru, terdapat selipan beberapa lembar foto polaroid. Jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging saat melihat subjek dalam foto-foto itu.
Aku.
Ada foto saat aku sedang duduk sendirian di bangku taman, bahuku merosot karena duka yang belum usai. Ada foto saat aku sedang mengantre kopi di kedai dekat kantorku. Foto-foto itu diambil dari jarak jauh, melalui celah pepohonan atau dari dalam mobil. Tanggal yang tertera di pojok bawah foto itu membuat bulu kudukku berdiri: Juli, Agustus, Septemberβsemuanya diambil berbulan-bulan sebelum "pertemuan tidak sengaja" kami di galeri seni pada bulan Desember.
"Dia sudah di sana," bisikku pada kesunyian kamar yang mendadak terasa asing. "Dia sudah mengawasiku bahkan sebelum dia tahu namaku."
Atau mungkin dia sudah tahu segalanya tentangku sejak awal.
Logikaku mencoba memberontak. Mungkin Arsen menemukannya dan berniat mengembalikannya tapi lupa? Tidak. Itu alasan yang terlalu naif, bahkan untuk orang yang sedang jatuh cinta sekalipun. Sudut pengambilan gambar dalam foto-foto ini adalah sudut seorang predator yang sedang memetakan mangsanya. Arsen bukan sekadar pria yang jatuh cinta; dia adalah kurator yang menyusun setiap detik pertemuan kami seolah-olah itu adalah takdir.
Rasa mual naik ke kerongkonganku. Aku teringat bagaimana Arsen selalu tahu kapan aku merasa sedih, bagaimana dia selalu muncul dengan teh kamomil hangat tepat saat aku merindukan Maya. Aku pikir itu adalah koneksi batin. Ternyata, itu adalah hasil dari observasi yang dingin dan terencana.
Tiba-tiba, bunyi klik pelan dari arah pintu depan membuatku tersentak hingga buku sketsa itu jatuh ke lant**.
Suara itu sangat halus, hampir tertutup oleh desis pendingin ruangan, tapi memoriku menangkapnya dengan jelas. Itu adalah suara kunci yang diputar. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku melirik jam dinding. Pukul delapan malam. Arsen seharusnya sedang berada di pertemuan bisnis di luar kota sampai besok pagi.
Aku mematikan lampu meja dengan gerakan cepat, membuat kamar seketika tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Aku meringkuk di sudut dekat lemari, memeluk lututku, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar.
Langkah kaki itu terdengar sangat ringan, namun penuh percaya diri. Langkah kaki seseorang yang sangat mengenal tata letak ruangan ini. Seseorang yang memiliki akses penuh. Aku teringat dua minggu lalu, ketika aku dengan riangnya memberikan kunci cadangan kepadanya, berpikir bahwa berbagi ruang adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan. Betapa bodohnya aku.
Lampu di ruang tengah menyala, menyelinap melalui celah di bawah pintu kamarku. Aku melihat bayangan sepasang kaki berhenti tepat di depan pintuku.
"Laras?"
Suaranya rendah, lembut, dan memiliki nada menenangkan yang selama ini selalu menjadi jangkar keselamatanku. Namun sekarang, suara itu terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Itu suara Arsen.
Aku tidak menjawab. Tanganku menutup mulut rapat-rapat. Keringat dingin mengucur di pelipisku.
"Aku tahu kau di dalam, Sayang. Mobilmu ada di bawah," lanjutnya. Ada jeda sejenak, sebuah keheningan yang lebih mengerikan daripada teriakan. "Aku pulang lebih awal karena merindukanmu. Aku membawakan martabak manis kesukaanmu dari tempat langgananmu di Jalan Veteran."
Bagaimana dia tahu itu tempat langgananku? Aku belum pernah memberitahunya. Sekali lagi, det**l-det**l kecil yang selama ini kuanggap sebagai bentuk perhatian kini bermutasi menjadi bukti pengint**an.
Gagang pintu kamarku bergerak. Perlahan. Sangat perlahan.
*Cklek.*
Pintu tidak terkunci. Aku lupa menguncinya karena pikiranku terlalu kalut dengan buku sketsa tadi. Pintu itu terbuka sedikit, membiarkan seberkas cahaya dari ruang tengah membelah kegelapan kamar. Sosok Arsen berdiri di sana, siluetnya tampak tinggi dan mendominasi di ambang pintu. Dia tidak ma**k, hanya berdiri diam.
"Kenapa gelap-gelapan, Laras?" tanyanya. Nadanya masih sama, sangat tenang, tapi aku bisa merasakan intensitas tatapannya meski aku tidak bisa melihat matanya dengan jelas.
Aku memaksa diriku untuk berdiri, meskipun kakiku terasa seperti jeli. Aku harus bersikap normal. Aku tidak boleh membiarkannya tahu bahwa aku sudah melihat buku itu. "Arsen? Kau mengejutkanku. Aku... aku tadi sedang sakit kepala dan mencoba tidur."
Arsen melangkah ma**k, tangannya meraba dinding dan menyalakan lampu kamar. Cahaya yang tiba-tiba membuatku mengerjap. Dia berdiri di sana, mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung hingga siku, tampak seperti pria sempurna yang kucint** kemarin. Tapi matanya beralih ke lant**, tepat ke arah buku sketsa yang tergeletak terbuka di dekat kakiku.
Hening yang menyakitkan kembali melanda. Aku melihat rahang Arsen mengeras sejenak sebelum sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
"Kau menemukannya," ucapnya lirih. Dia melangkah maju, satu langkah yang membuat jarak di antara kami mengecil secara berbahaya. "Aku sebenarnya ingin menunjukkannya padamu di waktu yang tepat, Laras. Tapi sepertinya kau memang selalu lebih teliti daripada yang kubayangkan."
Dia tidak meminta maaf. Dia tidak terlihat malu. Dia justru menatapku dengan tatapan penuh kepemilikan yang membuatku merasa seperti sebuah spesimen di bawah mikroskopnya.
"Kenapa kau mengawasiku, Arsen? Sejak sebelum kita bertemu?" suaraku bergetar, meski aku berusaha keras untuk terdengar berani.
Arsen berjalan mendekat, begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum kayu cendananya yang kini terasa mencekik. Dia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang menyentuh helaian rambutku dengan kelembutan yang sangat kontras dengan situasi ini.
"Bukan mengawasi, Laras," bisiknya, suaranya kini tepat di samping telingaku. "Aku melindungimu. Kau tidak tahu betapa bahayanya dunia ini bagi seseorang yang memiliki apa yang kau miliki."
"Apa maksudmu?"
Arsen tidak menjawab secara langsung. Dia justru merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kunci perak yang berkilau di bawah lampu kamar. Bukan kunci apartemenkuβaku tahu bentuk kunci apartemenkuβtapi sebuah kunci tua yang bentuknya sangat kukenal.
Itu adalah kunci liontin milik Maya yang hilang bersama dengannya tiga tahun lalu.
"Kita perlu bicara jujur sekarang, Larasati," katanya sambil menggenggam kunci itu erat-erat hingga buku jarinya memutih. "Tentang kakakmu, dan tentang alasan sebenarnya mengapa aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Suara kunci yang berputar di pintu utama terdengar lagi dari arah depan, tapi kali ini bukan dari kunci Arsen. Ada suara gaduh di luar, seperti seseorang yang sedang mencoba mendob**k ma**k dengan paksa. Arsen menoleh ke arah pintu dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah dingin dan waspada.
"Sial," umpatnya rendah. Dia mencengkeram lenganku, tarikannya kuat dan tidak menyisakan ruang untuk melawan. "Kita harus pergi sekarang. Mereka sudah menemukanmu."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!