Udara di dalam kantor sempit itu terasa pengap, berbau campuran kertas tua dan sisa asap rokok yang mengendap bertahun-tahun di dindingnya yang menguning. Aku meremas tali tas bahuku hingga buku-buku jariku memutih, berusaha meredam getaran di tanganku. Di depanku, seorang pria paruh baya dengan kemeja flanel kusam bernama Pak Baskoro tengah menatap layar monitor tabungnya dengan kening berkerut dalam.
"Namanya Arsen Pratama. Setidaknya, itu yang dia katakan padaku selama enam bulan ini," suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—serak dan penuh keraguan.
Aku mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari tas, lalu meletakkannya di atas meja kayu yang permukaannya penuh dengan bekas lingkaran gelas kopi. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan salinan foto identitas yang kutemukan di b**nkas tersembunyi tempo hari. Kartu identitas itu mencantumkan nama yang berbeda: Adrian Baskara. Namun, wajah yang menatap dari foto itu tidak salah lagi adalah wajah pria yang setiap pagi mencium keningku dan menjanjikan masa depan.
Pak Baskoro mengambil foto itu, menyesuaikan letak kacamata bacanya, lalu terdiam c**up lama. Detak jam dinding di ruangan itu seolah melambat, berdentang dengan ritme yang menyiksa di dadaku.
"Kamu bilang dia mendekatimu setelah ka**s hilangnya kakakmu meredup di berita?" tanya Pak Baskoro tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu.
"Iya. Dia seolah muncul dari antah berantah. Sangat pengertian, sangat sabar... dia membantuku melewati masa-masa paling kelam," jawabku, sementara memoriku memutar ulang bayangan Arsen—atau Adrian—yang sedang menyeduh teh camomile untukku saat aku terbangun karena mimpi buruk tentang Maya.
Pak Baskoro menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan rasa prihatin. Ia memutar monitornya ke arahku. Di sana, terbuka sebuah database lama yang tampak seperti arsip kepolisian yang tidak dipublikasikan.
"Larasati, aku ingin kamu mendengarkanku baik-baik," suaranya merendah, berubah menjadi nada peringatan yang membuat bulu kudukku meremang. "Pria yang kamu kenal sebagai Arsen ini bukan sekadar pria dengan identitas ganda. Nama Adrian Baskara muncul dalam tiga penyelidikan berbeda di luar kota dalam sepuluh tahun terakhir. Semuanya memiliki pola yang sama: hilangnya seorang wanita muda dari keluarga menengah ke atas, tanpa jejak, tanpa tebusan."
Duniaku seolah berputar. "Maksud Bapak... dia seorang penculik berant**? Tapi Maya... Maya tidak punya apa-apa. Kami hanya punya satu sama lain."
"Bukan penculikan untuk uang, Laras," potong Pak Baskoro cepat. Ia mencondongkan tubuh, matanya menatapku tajam. "Ini jauh lebih gelap. Adrian dikenal di kalangan 'bawah' sebagai seorang pembersih, atau terkadang, seorang kolektor. Dia mendekati targetnya bukan karena impulsif, tapi dengan perencanaan yang sangat matang. Dia membangun narasi, menjadi pahlawan yang dibutuhkan korbannya, sampai korban itu benar-benar terisolasi dari dunia luar."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Tidak mungkin. Dia sangat menghargai batasanku. Dia bahkan tidak pernah memaksaku melakukan apa pun."
"Itu cara dia menjinakkanmu, Nak," ujar Pak Baskoro pahit. "Lihat foto ini." Ia menyodorkan sebuah foto buram hasil jepretan kamera pengawas yang diambil beberapa tahun lalu. Di sana, seorang pria yang sangat mirip dengan Adrian sedang berdiri di belakang sebuah mobil. Di bagasi mobil yang terbuka, aku bisa melihat ujung kain berwarna hijau lumut—warna favorit Maya. Warna jaket yang ia kenakan saat terakhir kali aku melihatnya.
Rasa mual seketika menghantam perutku. Aku membekap mulutku sendiri, berusaha tidak muntah di sana. Oksigen di ruangan itu seolah habis tersedot keluar.
"Saran saya, Laras," Pak Baskoro merendahkan suaranya hingga hampir berbisik, seolah-olah dinding ruangan itu memiliki telinga. "Jangan pulang ke apartemen itu. Jangan hubungi dia. Jangan tunjukkan kalau kamu tahu sesuatu. Pria ini sangat berbahaya. Dia tidak meninggalkan saksi hidup jika rencananya mulai tercium. Identitas 'Arsen' yang dia berikan padamu adalah jaring laba-laba, dan kamu sudah berada tepat di tengahnya."
"Tapi aku harus tahu di mana Maya!" seruku tertahan, air mata mulai menggenang. "Jika dia terlibat, dia tahu di mana kakakku berada. Aku tidak bisa pergi begitu saja."
Pak Baskoro memegang tanganku, genggamannya kasar namun mantap. "Kalau kamu kembali sekarang dengan kecurigaan yang tertulis jelas di wajahmu, kamu hanya akan menjadi nama berikutnya di database saya. Adrian bukan tipe orang yang bisa kamu ajak bernegosiasi."
Aku menarik tanganku kembali, merasa kedinginan meski cuaca di luar terik. Pikiranku berkecamuk antara logika yang menyuruhku lari dan insting seorang adik yang haus akan keadilan. Saat aku berdiri untuk pamit, ponselku di dalam tas bergetar.
Aku merogohnya dengan jantung berdebar kencang. Sebuah pesan ma**k dari Arsen.
*Sayang, aku sudah di depan gedung kantormu. Tadi lewat sini dan kepikiran untuk menjemputmu lebih awal. Aku buatkan pasta kesukaanmu untuk makan malam nanti. Cepat turun, ya?*
Darahku terasa membeku. Aku menatap keluar jendela kantor Pak Baskoro yang berada di lant** dua, menghadap ke jalan raya. Di seberang jalan, mobil SUV hitam milik Arsen terparkir dengan mesin yang masih menyala. Kaca filmnya yang gelap mencegahku melihat siapa yang ada di dalam, tapi aku bisa merasakan sepasang mata sedang mengawasi pintu keluar gedung ini.
Dia tidak seharusnya tahu aku ada di sini. Aku tidak pernah mengatakan pada Arsen bahwa aku menemui detektif swasta. Aku bahkan meninggalkan ponselku dalam mode senyap sejak tadi pagi.
"Ada apa?" tanya Pak Baskoro, menyadari perubahan ekspresiku.
Aku menoleh padanya dengan wajah pias. "Dia... dia ada di bawah. Dia menungguku."
Pak Baskoro segera berdiri, tangannya meraih laci meja, mungkin mencari sesuatu untuk perlindungan. Namun, sebelum ia sempat bertindak, pintu kantor yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka sedikit, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan. Seorang kurir ma**k membawa paket, namun pandanganku terpaku pada bayangan seseorang yang berdiri di lorong remang-remang di balik kurir itu.
Seseorang yang memakai jam tangan perak yang sangat kukenali—jam tangan yang baru saja kubelikan untuk hadiah ulang tahun Arsen bulan lalu.
Ia tidak menungguku di mobil. Ia sudah ada di dalam gedung ini. Dan dia tersenyum tipis ke arahku sebelum menghilang di balik tikungan lift.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!