Aroma kopi yang biasanya menenangkan kini terasa seperti bau busuk yang menyumbat tenggorokan. Aku duduk di meja makan, jemariku meremas pinggiran taplak meja hingga buku-buku jariku memutih. Di seberang meja, Arsen sedang mengoleskan mentega pada roti panggang dengan gerakan yang sangat presisi, seolah-olah dia sedang melakukan operasi bedah.
Sinar matahari pagi yang ma**k melalui jendela besar apartemennya menerangi wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas dan mata yang selalu tampak penuh perhatian. Namun, di mataku, cahaya itu kini mengungkap sesuatu yang berbeda. Aku tidak lagi melihat kekasih yang sempurna; aku melihat seorang pria yang memiliki b**nkas berisi foto kakakku yang hilang dan sederet identitas palsu.
"Kamu pucat sekali, Sayang. Kurang tidur lagi?" suara Arsen lembut, mengalir seperti madu yang menyembunyikan racun.
Aku memaksakan sebuah senyum, jenis senyum yang hanya mencapai bibir tapi tidak menyentuh mata. "Hanya... tenggat waktu ilustrasi yang menumpuk. Kamu tahu kan, anatomi jantung tidak pernah mudah digambar."
Arsen meletakkan pisaunya. Bunyi denting logam yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng peringatan di telingaku. Ia menjangkau tanganku, mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Sentuhan itu biasanya membuatku merasa aman. Sekarang, aku harus berjuang keras agar tidak menarik tanganku dengan kasar.
"Itulah sebabnya aku punya kejutan," katanya, matanya berbinar dengan sesuatu yang ia sebut sebagai kasih sayang. "Aku sudah mengosongkan jadwalku untuk akhir pekan ini. Kita akan pergi, Laras. Keluar dari kota ini, menjauh dari layar komputer dan sketsamu."
Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dadaku. "Pergi? Ke mana?"
"Vila milik keluargaku di kaki Gunung Salak," jawabnya tenang. "Tempat itu sangat terpencil, dikelilingi hutan pinus. Tidak ada sinyal yang mengganggu, hanya suara angin dan kita berdua. Kamu butuh udara segar untuk menjernihkan pikiranmu."
*Terpencil. Tanpa sinyal. Hanya kita berdua.*
Kata-kata itu berdentum di kepalaku. Apakah ini saatnya? Apakah dia sudah sadar bahwa aku telah membongkar b**nkasnya? Apakah liburan ini adalah caranya untuk melenyapkanku, seperti yang mungkin ia lakukan pada Maya?
Aku menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokanku yang kering. "Arsen, aku tidak tahu apakah aku bisa meninggalkan pekerjaan sekarang..."
"Aku sudah mengepak tasmu, Laras," potongnya halus. Senyumnya tidak luntur, tapi ada ketegasan di balik tatapannya yang membuat bulu kudukku berdiri. "Semua kebutuhanmu sudah di mobil. Kita berangkat satu jam lagi."
Dingin yang aneh merambat di tulang belakangku. Dia sudah mengepak tasku? Dia sudah merencanakan ini bahkan sebelum bertanya padaku. Ini bukan ajakan; ini adalah perintah yang dibungkus dengan pita romansa. Jika aku menolak secara terang-terangan, aku akan menunjukkan kartu as-ku. Aku akan menunjukkan bahwa aku tahu siapa dia sebenarnya.
"Vila itu... terdengar menyenangkan," kataku dengan suara yang bergetar tipis, berusaha keras mengendalikan napas. "Terima kasih, Arsen. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan."
***
Perjalanan itu terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Di dalam SUV peraknya yang kedap suara, Arsen memutar musik klasik yang mendayu-dayu. Sepanjang jalan, ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang betapa ia mencint** kesunyian hutan. Aku hanya menanggapi dengan gumaman singkat, mataku terus terpaku pada pemandangan di luar jendela.
Pohon-pohon beton Jakarta perlahan berganti menjadi rimbunnya pepohonan hijau yang semakin rapat. Jalanan yang tadinya mulus berubah menjadi aspal berlubang, lalu menjadi jalan setapak berbatu yang menanjak curam. Semakin jauh kami pergi, semakin sedikit tanda-tanda kehidupan manusia.
"Kita hampir sampai," ucap Arsen saat mobil berbelok ke sebuah jalan kecil yang tertutup tajuk pohon yang gelap.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kayu tua yang tampak megah namun terisolasi. Vila itu berdiri di pinggir tebing, menghadap lembah hijau yang tertutup kabut tebal. Tidak ada tetangga. Tidak ada rumah lain dalam jarak pandang mata. Hanya ada kabut, hutan, dan keheningan yang menyesakkan.
Arsen turun dan membukakan pintu untukku. Udara gunung yang dingin menusuk kulitku, tapi hawa dingin yang kurasakan di dalam jauh lebih hebat.
"Indah, bukan?" Arsen berdiri di sampingku, tangannya melingkar di pinggangku, menarikku mendekat.
Aku memandang ke arah lembah. Di bawah sana, hijau yang tampak subur itu seolah-olah menyimpan ribuan rahasia. Aku teringat foto Maya yang kutemukan di b**nkasnya. Di foto itu, Maya berdiri di depan latar belakang yang sangat mirip dengan tempat ini. Hutan yang sama. Pohon yang sama.
"Sangat indah," bisikku, tanganku meraba ponsel di saku jaketku, hanya untuk menyadari bahwa indikator sinyal di layarnya telah menunjukkan tanda silang merah. Nol sinyal.
Arsen mengambil kunci dari sakunya, lalu menoleh padaku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Di sini, tidak akan ada yang mengganggu kita, Laras. Tidak ada masa lalu, tidak ada trauma. Hanya ada kita."
Ia melangkah menuju pintu depan, meninggalkan aku berdiri sendirian di tengah kepungan hutan yang sunyi. Saat ia memutar kunci, suara gerendel pintu yang terbuka terdengar sangat keras di telingaku, seperti suara pintu sel yang mengunci mangsanya.
Aku melirik ke arah mobil, lalu ke arah hutan, dan terakhir ke punggung Arsen yang lebar. Aku tahu, jika aku ma**k ke dalam rumah itu, kemungkinanku untuk keluar dengan selamat sangatlah kecil. Namun, jika aku lari sekarang, aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Maya.
Arsen menoleh di ambang pintu, separuh wajahnya tertutup bayangan. "Ayo ma**k, Sayang. Di dalam jauh lebih hangat."
Aku menarik napas panjang, menguatkan hati, dan melangkah maju. Saat kakiku melewati ambang pintu, Arsen langsung menutupnya di belakangku. Suara kunci yang diputar dua kali membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.
Di atas meja kayu di ruang tamu, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Sebuah vas bunga berisi mawar putihβbunga favorit Mayaβyang masih segar, seolah-olah memang dipersiapkan untuk menyambut seseorang yang sudah lama dinanti.
"Aku sudah menyiapkan kamar di atas," suara Arsen berbisik tepat di belakang telingaku, hembusan napasnya terasa panas di leherku. "Kamar yang sama dengan yang dulu pernah disukai... tamu sebelum kamu."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!