Udara di dalam vila di kaki Gunung Salak ini selalu terasa dua derajat lebih dingin daripada di luar, seolah-olah dinding-dinding kayunya menyimpan es yang tidak pernah mencair. Bau pinus yang tajam biasanya menenangkan sarafku, tetapi malam ini, aroma itu terasa mencekik. Arsen sedang berada di luar, katanya ingin memastikan gerbang depan terkunci rapat sebelum badai benar-benar turun.
Aku berdiri di depan meja jati besar di ruang kerjanya. Jantungku berdentum keras, gema yang memantul di rongga dadaku, jauh lebih bising daripada suara angin yang melolong di luar. Tanganku gemetar saat meraba bagian bawah laci meja yang tampak solid. Berkat memori fotografis yang kumiliki, aku tidak bisa melupakan sedikit celah yang kulihat saat Arsen menutup laci itu dengan terburu-buru tadi siang.
Klik.
Sebuah kompartemen rahasia terbuka. Di dalamnya, tergeletak sebuah ponsel lama bermerek lawas yang layarnya sudah retak di sudut kiri atas. Benda itu tampak asing di antara barang-barang Arsen yang serba mutakhir dan elegan. Dengan napas tertahan, aku menekannya. Ponsel itu tidak terkunci.
Hanya ada satu folder di galeri musik. Isinya cuma satu berkas suara.
Jariku ragu sejenak. Aku tahu, begitu aku menekan tombol *play*, duniaku yang sudah retak mungkin akan hancur sepenuhnya. Namun, wajah Mayaβsenyumnya yang lebar dengan lesung pipi yang selalu kurindukanβterbayang di benakku. Aku menekan layar.
Suara desis statis memenuhi ruangan, diikuti oleh suara napas yang memburu. Kemudian, suara itu muncul. Suara yang kukenal lebih baik daripada suaraku sendiri.
*"Arsen... kumohon, lepaskan aku. Aku tidak akan bilang pada siapa pun. Aku janji."*
Itu Maya. Suaranya serak, gemetar karena ketakutan yang murni. Aku menutup mulut dengan tangan, menahan isak tangis yang meledak di tenggorokanku. Lututku terasa lemas, memaksa aku bersandar pada tepian meja yang dingin.
*"Kamu sudah tahu terlalu banyak, Maya,"* suara pria menjawab. Itu suara Arsen, tapi nadanya berbeda. Tidak ada kelembutan yang biasa ia tujukan padaku. Suara itu dingin, datar, dan penuh otoritas yang mematikan. *"Aku memberikanmu segalanya, tapi kamu malah memilih untuk menggali lubang kuburmu sendiri."*
*"Tolong... Laras menungguku. Dia tidak punya siapa-siapa lagi!"*
Mendengar namaku disebut dalam rekaman itu seperti hantaman godam tepat di ulu hati. Oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis. Maya memikirkanku. Di saat-saat terakhirnya, dia memikirkanku.
*"Laras akan baik-baik saja,"* suara Arsen di rekaman itu terdengar hampir seperti bisikan sayang yang mengerikan. *"Aku akan menjaganya. Sebagai penebusan karena telah kehilanganmu."*
Rekaman itu berakhir dengan suara benturan keras dan jeritan singkat yang terputus. Hening. Hanya ada suara angin yang semakin liar di luar sana.
Air mataku jatuh tanpa suara, membasahi layar ponsel yang masih menyala. Pria yang selama enam bulan terakhir memelukku saat aku terbangun dari mimpi buruk, pria yang menyeka air mataku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, adalah pria yang sama yang membuat kakaku memohon nyawanya.
"Suaranya masih sama, bukan? Merdu, tapi penuh drama."
Aku tersentak hebat hingga ponsel itu terlepas dari tanganku dan jatuh ke atas karpet tebal. Arsen berdiri di ambang pintu. Dia tidak lagi memakai jaketnya. Kemeja putihnya yang disingsingkan hingga siku tampak kontras dengan kegelapan koridor di belakangnya. Dia tidak tampak marah. Dia justru terlihat... tenang. Ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun yang pernah kulihat.
"Arsen..." suaraku tercekat, nyaris tidak terdengar.
Dia melangkah ma**k, gerakannya halus dan terukur seperti predator yang sudah tahu mangsanya tidak punya jalan keluar. Dia memungut ponsel itu dari lant**, menatap layarnya sejenak, lalu mema**kkannya ke saku celana.
"Aku berharap kamu tidak pernah menemukan ini, Laras," katanya lembut, sambil terus berjalan mendekat. "Aku sudah membangun segalanya dengan sangat rapi. Kehidupan kita, rumah ini, masa depanmu. Semuanya dirancang agar kamu tidak perlu lagi merasa sakit."
Aku mundur selangkah demi selangkah hingga punggungku menab**k rak buku. "Kamu membunuhnya? Kamu benar-benar membunuh Maya?"
Arsen berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma *sandalwood* dari tubuhnyaβaroma yang dulu membuatku merasa aman, tapi sekarang membuatku mual. Dia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang mengusap pipiku yang basah dengan ibu jarinya.
"Maya adalah sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki," bisiknya, matanya yang gelap menatap langsung ke dalam mataku, mencari kejujuran atau mungkin sisa-sisa cinta yang kini telah menguap. "Tapi kamu... kamu adalah tujuan utamaku. Kamu adalah alasan mengapa aku masih berusaha menjadi manusia, Laras."
Aku menepis tangannya dengan kasar. "Kamu monster! Kamu mendekatiku hanya karena rasa bersalah? Atau karena kamu takut Maya sempat memberitahuku sesuatu sebelum dia mati?"
Ekspresi Arsen berubah. Kelembutan di matanya meredup, digantikan oleh kilatan tajam yang membuat bulu kudukku berdiri. Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipisβsebuah senyum yang tidak mencapai matanya.
"Awalnya, mungkin memang begitu," Arsen melangkah maju lagi, mengurungku di antara rak buku dan tubuhnya yang tegap. "Tapi sekarang, ini bukan lagi soal Maya. Ini soal kita."
Dia merogoh saku jaketnya yang ia gantung di kursi dekat meja, mengeluarkan sebuah kunci perak kecil dan meletakkannya di atas meja dengan denting yang final.
"Badai di luar sedang buruk, Sayang. Listrik mungkin akan padam sebentar lagi," ucapnya sambil melirik ke arah jendela yang bergetar hebat ditiup angin. "Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun dalam keadaan sekacau ini. Kita perlu bicara. Benar-benar bicara."
Aku melirik ke arah pintu keluar, lalu kembali ke arah Arsen. Di matanya, aku tidak lagi melihat pria yang kucint**. Aku melihat seorang pria yang mampu melenyapkan seseorang tanpa jejak, dan kini, aku adalah satu-satunya orang yang memegang rahasianya.
Petir menyambar di luar, menerangi wajah Arsen yang kini tampak seperti orang asing yang paling berbahaya di hidupku. Saat lampu di ruangan itu berkedip dan akhirnya padam sepenuhnya, aku menyadari satu hal: di vila yang terisolasi ini, tidak ada yang bisa mendengarku jika aku berteriak.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!