Cahaya lampu meja yang temaram menciptakan bayangan panjang yang meliuk di dinding ruang kerja itu. Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit, membiarkan kegelapan di sudut ruangan mengepungku. Di depanku, sebuah gelas kristal berisi wiski yang belum kusentuh berkeringat, meninggalkan noda lingkaran air di atas meja m***gani yang mahal. Aku melepas kacamata—bingkai tipis yang selalu kukenakan untuk memberikan kesan intelektual dan hangat—lalu memijat pangkal hidungku.
Menjadi 'Arsen' adalah pekerjaan penuh waktu yang melelahkan.
Aku melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, beberapa ruangan jauhnya, Larasati mungkin sedang terlelap, atau mungkin dia sedang menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Aku bisa merasakan jarak yang mulai membentang di antara kami dalam beberapa hari terakhir. Ketelitiannya sebagai ilustrator medis bukan sekadar bakat seni; itu adalah kutukan bagiku. Dia memperhatikan det**l yang seharusnya luput dari mata orang biasa.
Tanganku bergerak secara mekanis menuju laci bawah meja yang terkunci ganda. Dengan bunyi klik yang halus, laci itu terbuka, menyingkap sebuah b**nkas baja kecil yang tertanam di dalamnya. Jemariku menari di atas tombol angka, mema**kkan kombinasi yang hanya kuketahui: tanggal yang seharusnya menjadi hari perayaan, namun justru menjadi hari di mana segalanya hancur.
Pintu b**nkas terbuka. Di sana, di antara tumpukan dokumen legal yang palsu, terselip sebuah foto polaroid yang sudah mulai menguning di bagian pinggirnya.
Maya.
Dalam foto itu, Maya sedang tertawa, rambutnya berantakan tertiup angin pant**. Matanya memiliki binar yang sama persis dengan mata Laras, namun dengan keberanian yang tidak pernah dimiliki adiknya. Maya adalah api, sedangkan Laras adalah air yang tenang namun dalam.
"Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi malam itu," bisikku pada keheningan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—bukan nada bariton lembut milik Arsen yang menenangkan, melainkan suara Adrian yang serak dan penuh penyesalan.
Tiga tahun lalu, aku bukan pria dengan setelan rapi dan bisnis investasi yang sukses. Aku adalah Adrian, pria yang terjebak dalam lingkaran hitam yang tidak seharusnya bersentuhan dengan gadis sebaik Maya. Aku gagal melindunginya. Saat mereka membawanya, saat aku melihat ketakutan di matanya untuk terakhir kali sebelum segalanya menjadi gelap, aku mati bersamanya. Yang tersisa hanyalah cangkang yang mencari cara untuk bernapas kembali.
Mendekati Larasati awalnya adalah sebuah misi penebusan. Aku melacaknya selama berbulan-bulan, mengamati bagaimana dia layu karena duka, bagaimana dia menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya sang kakak. Aku ingin memastikan dia aman. Aku ingin memberikan kehidupan yang tidak bisa kuberikan pada Maya.
Namun, rasa bersalah adalah pupuk yang aneh bagi cinta. Aku mulai tenggelam dalam peran yang kuciptakan. Arsen adalah pria impian Laras: sabar, pendengar yang baik, dan pelindung. Aku menciptakan tempat berlindung baginya, tanpa menyadari bahwa aku sedang membangun penjara emas yang dasarnya adalah kebohongan besar.
Aku mengusap permukaan foto Maya dengan ibu jariku. Kenangan malam itu kembali menghantamku—suara decit ban di aspal basah, bau mesiu yang menyengat, dan janji-janji kosong yang kuberikan pada Maya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku melarikan diri, mengganti namaku, merombak hidupku, dan mengubur 'Adrian' dalam-dalam.
Namun, Laras mulai menggali.
Tadi siang, aku melihat caranya menatapku. Ada kilatan kecurigaan yang tipis, seperti retakan pada kaca yang baru saja terbentuk. Dia menemukan kartu identitas itu, aku tahu itu. Aku melihat posisi b**nkas yang bergeser satu milimeter dari letak aslinya. Jantungku berdenyut kencang saat menyadari bahwa benteng yang kubangun dengan susah payah mulai runtuh.
Aku menutup b**nkas itu dengan dentuman pelan yang terasa seperti vonis mati.
Jika dia tahu siapa aku sebenarnya—bahwa pria yang memeluknya setiap malam adalah alasan mengapa kakaknya tidak pernah pulang—dia tidak akan hanya meninggalkanku. Dia akan hancur. Dan aku tidak bisa membiarkan Laras hancur untuk kedua kalinya karena kesalahanku.
Aku meneguk wiski dalam sekali telan. Rasa panas membakar tenggorokanku, namun tidak c**up untuk menghangatkan kedinginan yang merayap di dadaku. Aku harus bertindak. Aku harus memastikan dia berhenti mencari, atau aku harus melenyapkan semua bukti yang tersisa, bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster yang selama ini dia takuti.
Langkah kaki terdengar dari koridor. Ringan dan ragu-ragu.
Aku segera mengenakan kacamataku, menyesuaikan raut wajahku di pantulan gelas kristal. Dalam hitungan detik, Adrian menghilang. Yang tersisa adalah Arsen yang hangat dan penuh kasih.
Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Laras berdiri di sana, mengenakan piyama sutranya, memeluk tubuhnya sendiri seolah sedang menggigil. Matanya yang sembap menatapku, mencari kepastian di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti hubungan kami.
"Arsen?" suaranya bergetar, hampir tak terdengar. "Kenapa kamu belum tidur?"
Aku tersenyum—senyum yang telah kulatih di depan cermin selama ribuan jam. Aku berdiri dan melangkah mendekatinya, menyembunyikan tangan yang masih gemetar di balik saku celanaku.
"Hanya menyelesaikan beberapa pekerjaan, Sayang," kataku lembut, merengkuh bahunya yang tegang. "Ayo kembali ke kamar. Kamu tampak seperti baru saja melihat hantu."
Laras tidak menjawab. Dia membiarkan aku menuntunnya, namun aku bisa merasakan tubuhnya kaku di bawah sentuhanku. Dia tidak lagi melihatku sebagai pelindung. Dia mulai melihat bayangan pria lain di balik wajahku.
Dan saat kami berjalan melewati meja kerjaku, aku menyadari satu hal yang fatal. Aku lupa mengunci laci meja itu kembali. Di bawah sana, kunci b**nkas itu masih tergantung, berkilau terpapar cahaya lampu seolah memanggil Laras untuk kembali dan menyelesaikan apa yang telah dia mulai.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!