Udara malam menusuk pori-pori kulitku, seolah ribuan jarum es mencoba menghentikan langkahku yang serampangan. Aku tidak menoleh lagi. Pintu vila yang baru saja kubanting masih menyisakan gema dentum di telingaku, menenggelamkan suara Arsen yang memanggil namaku dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnyaβcampuran antara keputusasaan dan peringatan yang tajam.
Lari, Laras. Jangan berhenti.
Tanganku gemetar hebat saat merogoh saku jaket, mencari kunci mobil. Di dalam sana, bayangan foto lama Maya dan kartu identitas palsu dengan wajah Arsen terus berputar-putar seperti komidi putar yang rusak. Pria yang selama ini memelukku, yang menghapus air mataku saat aku terbangun karena mimpi buruk tentang Maya, adalah pria yang menyimpan rahasia tentang hilangnya kakakku di dalam b**nkas besi yang dingin.
"Sial," bisikku, air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah, mengaburkan pandanganku.
Hutan pinus yang memagari vila ini terasa seperti labirin hijau yang siap menelanku hidup-hidup. Cahaya lampu teras vila semakin menjauh, digantikan oleh kegelapan pekat yang hanya dibelah oleh sinar rembulan yang pucat. Aku terus berlari menuju jalan setapak tempat mobilku terparkir di bawah pohon beringin besar, sekitar seratus meter dari gerbang utama.
Langkah kakiku yang menghantam dedaunan kering menciptakan suara berisik yang memicu adrenalin. Namun, saat aku berhenti sejenak untuk mengatur napas, aku menyadari sesuatu yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Ada suara langkah kaki lain.
Suara itu bukan datang dari arah vilaβbukan dari arah Arsen. Suara itu berasal dari semak-semak di sisi kiriku, sekitar sepuluh meter di balik barisan pohon yang rapat. Iramanya cepat, berat, dan disengaja.
"Arsen?" suaraku bergetar, hampir tak terdengar.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan, diikuti oleh derak ranting yang patah. Seseorang di sana sedang mengint**ku, bergerak sejajar denganku, bersembunyi di balik bayang-bayang pohon.
Ketakutan baru yang lebih murni merayap naik ke tenggorokanku. Jika itu Arsen, dia pasti akan memanggilku. Dia akan mencoba menjelaskan, memohon, atau bahkan mengancam. Tapi sosok ini diam. Sosok ini adalah pemangsa yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
Aku mempercepat langkah, mengabaikan rasa perih di telapak kakiku yang hanya beralaskan sandal rumah. Cahaya perak dari badan mobilku mulai terlihat di kejauhan. Sedikit lagi. Hanya sedikit lagi.
*Srak!*
Sesuatu melesat dari balik pohon, memotong jalanku. Aku tersentak, hampir jatuh terjungkal ke belakang. Di depanku, berdiri seorang pria tegap yang mengenakan jaket *outdoor* berwarna gelap dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Dia bukan Arsen. Postur tubuhnya lebih kaku, dan ada aura dingin yang memancar dari gerak-geriknya.
"Nona Larasati," suaranya parau, seperti gesekan amplas pada kayu. "Anda sebaiknya tidak pergi ke mana-mana."
"Siapa kamu?" teriakku, suaraku melengking karena panik. Aku mundur selangkah demi selangkah, tanganku meraba-raba tanah, mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata. "Apa maumu?"
"Kami sudah mengawasi kalian c**up lama. Arsen terlalu lembek," pria itu melangkah maju, tangannya merogoh sesuatu di balik jaketnya. "Dia pikir dia bisa menebus dosa dengan cara menjaga kamu? Naif sekali."
Darahku mendidih sekaligus membeku. *Menebus dosa?* Jadi benar, Arsen terlibat dalam apa yang terjadi pada Maya. Tapi pria di depanku ini... dia bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kebohongan Arsen.
"Pergi! Jangan mendekat!" aku memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya sekuat tenaga.
Batu itu mengenai bahunya, tapi dia bahkan tidak meringis. Ia justru mempercepat langkahnya. Aku berbalik dan berlari sekencang mungkin, tidak lagi menuju mobil, melainkan ke arah lereng bukit yang lebih curam, berharap rimbunnya semak bisa menyembunyikanku.
Paru-paruku terasa terbakar. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca. Aku bisa mendengar pria itu di belakangku, langkah sepatunya yang berat menghancurkan segala yang diinjaknya. Dia tidak mengejar seperti orang yang terburu-buru, melainkan seperti seseorang yang tahu betul bahwa mangsanya tidak akan punya tempat untuk lari.
Aku terperosok ke dalam lubang dangkal, lututku menghantam akar pohon yang keras. Rasa sakit menyengat, tapi aku memaksa diri untuk bangkit. Saat itulah, aku melihat kilatan cahaya senter dari arah yang berbedaβdari arah bawah bukit.
"Di sebelah sini!" sebuah teriakan asing menyahut.
Bukan satu orang. Ada orang lain.
Aku terjepit. Di belakangku adalah pria misterius itu, dan di depanku ada suara-suara lain yang terdengar sama mengancamnya. Aku merangkak di bawah rimbunan pohon pakis yang lebat, berusaha menekan isak tangisku agar tidak menimbulkan suara.
Dari tempat persembunyianku yang sempit, aku melihat pria bertopi itu berhenti tepat beberapa meter dari tempatku meringkuk. Dia mengeluarkan ponselnya, cahayanya menerangi wajahnya yang kasar dan penuh bekas luka.
"Target melarikan diri ke sektor selatan," ucapnya ke dalam telepon. "Arsen masih di vila, tampaknya dia tidak tahu kita bergerak sekarang. Habisi dia jika perlu, tapi bawa perempuan itu hidup-hidup. Dia satu-satunya saksi yang tahu di mana Maya menyembunyikan 'hijau' itu."
Jantungku berdegup begitu kencang hingga aku takut dia bisa mendengarnya melalui tanah. *Hijau?* Apa yang mereka bicarakan? Dan Maya... mereka menyebut nama Maya seolah kakakku masih menjadi bagian dari permainan ini.
Pria itu mematikan ponselnya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat yang berkilat tajam di bawah sinar bulan. Dia mulai mengendus-endus sekitar, mendekat ke arah semak pakisku.
Aku memejamkan mata, memeluk lututku erat-erat. Di saat-saat yang kurasa sebagai akhir hidupku ini, aku justru merindukan Arsen. Aku merindukan kebohongan yang terasa aman itu daripada kenyataan yang sedang memburuku sekarang.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar membekap mulutku dari belakang.
Aku nyaris berteriak jika saja aroma parfum cendana yang kukenal tidak menyeruak ma**k ke indra penciumanku. Arsen. Dia berada di belakangku, matanya yang gelap menatapku dengan intensitas yang mengerikan, sementara telunjuknya menempel di bibir, mengisyaratkan aku untuk diam.
Di depan kami, pria bertopi itu berhenti tepat di depan semak pakis, ujung pisaunya membelah dedaunan hanya beberapa inci dari wajahku.
"Aku tahu kamu di sini, Larasati," bisik pria itu, suaranya mengandung ancaman yang nyata.
Arsen mengeratkan dekapannya, lalu berbisik sangat rendah di telingaku, "Laras, kalau kamu ingin hidup, jangan lepaskan tanganku. Apa pun yang terjadi."
Sebelum aku sempat menjawab, suara tembakan memecah kesunyian hutan, dan Arsen menarikku terjun ke dalam kegelapan jurang di bawah kami.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!