Cahaya biru dari layar laptop memantul di pupil mataku, terasa pedas dan menusuk, namun aku tidak bisa memalingkan wajah. Jariku yang gemetar menggulir tetikus, melewati baris demi baris dokumen digital yang tersembunyi di dalam folder terenkripsi pada diska lepas milik Arsenβbukan, pria itu punya banyak nama, tapi di sini, dalam catatan ini, dia hanyalah sebuah bayangan.
Napas bertalu-talu di dadaku. Di hadapanku, sebuah laporan otopsi independen yang tidak pernah dipublikasikan terpampang nyata. Ada foto lampiran yang membuat perutku mual. Itu Maya. Kakakku. Wajahnya yang dulu selalu ceria kini pucat pasi, membeku dalam keabadian yang mengerikan di atas meja logam dingin.
"Proyek *Lestari Hijau*," bisikku lirih, suaraku pecah di tengah kesunyian apartemen.
Semua potongan teka-teki yang selama tiga tahun ini berserakan di kepalaku tiba-tiba menghantam dengan kekuatan yang mematikan. Maya tidak melarikan diri. Dia tidak meninggalkan aku karena bosan dengan hidupnya. Dia dibunuh.
Laporan itu merinci penyebab kematiannya: asfiksia, tapi ada jejak zat kimia langka di paru-parunyaβlimbah industri yang coba disembunyikan oleh Amerta Group di balik kedok pengembangan kota mandiri ramah lingkungan. Maya, dengan idealisme jurnalisnya yang tak terbendung, telah menemukan titik pembuangan limbah beracun itu. Dia memiliki bukti foto, koordinat, dan daftar pejabat yang disuap.
Dan Arsen... Arsen ada di sana dalam catatan log keamanan sebagai 'pihak ketiga' yang ditugaskan untuk 'menetralkan situasi'.
Air mata panas mulai memba****i pipiku. Dadaku terasa seperti dihimpit beton raksasa. Pria yang memelukku saat aku terbangun dari mimpi buruk, pria yang menyentuh bekas luka di tanganku dengan begitu lembut, adalah bagian dari mesin yang menggiling nyawa kakakku. Apakah perhatiannya selama ini hanya cara untuk memantau seberapa banyak yang aku tahu?
Tiba-tiba, suara klik halus dari arah pintu depan menghentikan detak jantungku.
Itu bukan suara kunci yang diputar dengan kasar. Itu suara seseorang yang sangat ahli, seseorang yang tahu persis bagaimana cara ma**k tanpa mengundang perhatian. Aku membeku. Lampu meja adalah satu-satunya sumber cahaya di ruangan ini. Aku segera mencabut diska lepas itu, menggenggamnya erat hingga sudut-sudut tajamnya menusuk telapak tanganku.
"Laras?"
Suara itu berat dan tenang, tapi bukan milik Arsen. Ini adalah suara yang asing, namun membawa otoritas yang dingin.
Aku berdiri, menyenggol kursi hingga terjatuh ke lant** kayu dengan bunyi debum yang keras. Di ambang pintu yang remang-remang, berdiri seorang pria tinggi mengenakan jaket *windbreaker* gelap. Topi bisbol menutupi sebagian wajahnya, tapi aku bisa melihat kilatan matanya yang tajam di bawah cahaya lampu jalan yang ma**k dari jendela.
"Siapa kau?" suaraku bergetar hebat. Aku mundur hingga punggungku menab**k meja kerja.
Pria itu melangkah ma**k, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan yang sangat pelan, seolah dia sedang menidurkan bayi. "Kau menemukan sesuatu yang bukan untuk konsumsimu, Larasati. Maya dulu melakukan kesalahan yang sama. Dia tidak tahu kapan harus berhenti."
Darahku serasa membeku. "Kau... kau yang melakukannya?"
Dia tidak menjawab, tapi tangannya merogoh ke balik jaket. Aku melihat kilatan logamβsebuah pistol dengan peredam suara. Keberanian yang muncul dari rasa putus asa mendadak menyengat sarafku. Aku melempar lampu meja ke arahnya. Kegelapan langsung menelan ruangan saat kabelnya tercabut, menciptakan sepersekian detik kekacauan.
Aku berlari menuju dapur, berharap bisa mencapai pintu belakang, tapi dia jauh lebih cepat. Sebuah tangan kasar mencengkeram rambutku dari belakang, menyentak kepalaku hingga aku m****ik kesakitan. Aku meronta, menyikut ke belakang, menghantam rusuknya, tapi dia seperti tembok batu.
"Diska lepas itu," desisnya tepat di telingaku. Bau tembakau dan antiseptik menguar dari tubuhnya. "Berikan padaku, dan mungkin aku akan membuat akhirmu tidak sesakit kakakmu."
"Kau ba******!" aku berteriak, mencoba menendang kakinya. "Arsen akan datang! Dia tahu kau di sini!"
Pria itu terkekeh, suara parau yang mengirimkan getaran ngeri ke sekujur tulang belakangku. "Arsen? Siapa menurutmu yang mengirimku ke sini untuk membersihkan sisa kekacauannya? Dia tidak mencint**mu, Laras. Dia hanya memastikan kau tidak menjadi bom waktu bagi perusahaan."
Kebohongan itu menghantamku lebih keras daripada cengkeramannya. Logika dalam diriku berteriak bahwa ini mungkin taktik adu domba, tapi keraguan yang sudah ditanam Arsen dengan identitas palsunya membuat pertahananku runtuh.
Aku merasakan tusukan tajam di leherku. Sebuah jarum suntik.
Pandanganku mulai goyang. Lant** di bawah kakiku terasa seperti berubah menjadi air. Aku mencoba mempertahankan genggamanku pada diska lepas di saku celanaku, tapi jari-jariku mati rasa. Dingin mulai merayap dari ujung kaki hingga ke kepala.
"Tidurlah, Larasati," bisik pria itu saat tubuhku lemas dan dia menangkapku sebelum aku menghantam lant**. "Bos ingin bicara denganmu secara pribadi sebelum kau menyusul Maya."
Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan total menyergap adalah bayangan hitam pria itu yang menyeretku keluar apartemen, melewati pintu yang selama ini kupikir adalah gerbang menuju keamananku, menuju malam yang tidak menjanjikan fajar.
Dan di kejauhan, di ujung koridor yang mulai mengabur, aku melihat sesosok pria lain yang baru saja keluar dari lift. Arsen. Dia mematung, matanya melebar saat melihatku diseret. Namun, sebelum aku bisa memastikan apakah ekspresinya itu adalah rasa ngeri atau kepuasan karena rencananya berhasil, duniaku padam sepenuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!