Hujan turun tipis-tipis, menyulap udara malam di pinggiran kota menjadi selimut lembap yang menyesakkan paru-paru. Aku berdiri di balik bayang-bayang gudang tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon akasia. Aroma tanah basah dan besi berkarat menusuk indra penciumanku, memicu memori lama yang ingin kukubur dalam-dalam. Di tanganku, berat dingin pistol Glock-17 terasa seperti beban dosa yang menolak dimaafkan.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen dingin itu menenangkan debar jantungku yang tidak beraturan. Tiga tahun lalu, aku membiarkan kegelapan menelan Maya. Aku adalah bagian dari mesin yang menghancurkannya, seorang eksekutor yang menyamar di balik senyum ramah dan kemeja rapi. Kini, saat aku menatap siluet Laras yang terikat di kursi di tengah ruangan remang-remang itu, aku tahu ini bukan sekadar operasi penyelamatan. Ini adalah penebusan.
Laras. Wajahnya yang biasanya penuh binar keingintahuan kini pucat pasi. Rambutnya yang sering kuselipkan di belakang telinga kini berantakan, menutupi sebagian matanya yang memerah karena air mata. Melihatnya seperti itu membuat dadaku seperti diremas tangan tak kasatmata.
"Kau datang juga, Adrian. Atau haruskah aku memanggilmu 'Arsen' si pria idaman?"
Suara berat dan serak itu memecah kesunyian. Aku melangkah keluar dari bayang-bayang, ma**k ke dalam lingkaran cahaya lampu bohlam yang berayun pelan. Di sana, duduk dengan tenang di sofa kulit yang sudah terkelupas, adalah pria yang dulu kupanggil 'Tuan'. Romli.
Pria itu tidak berubah. Rambut peraknya disisir rapi ke belakang, dan matanya yang sedingin es menatapku dengan tatapan merendahkan. Di sampingnya, dua orang pria berbadan tegap berdiri dengan tangan siap di balik jas mereka.
"Lepaskan dia, Romli," kataku, suaraku datar meski ada badai yang mengamuk di dalam sana.
Romli tertawa pelan, suara yang menyerupai gesekan amplas pada kayu. "Setelah semua investasi yang kuberikan padamu? Kau adalah aset terbaikku. Dan sekarang, kau mempertaruhkan segalanya demi adik dari gadis yang... yah, kau tahu sendiri bagaimana akhirnya."
Laras tersentak. Matanya yang lebar menatapku dengan kengerian yang baru. Aku bisa melihat kehancuran di sanaβkenyataan bahwa pria yang dicint**nya adalah orang yang sama yang terlibat dalam hilangnya kakaknya. Setiap inci harga diriku runtuh di bawah tatapannya.
"Ini urusan kita. Dia tidak ada hubungannya dengan bisnis ini," aku menggeram, melangkah satu tindak lebih dekat.
"Dia adalah a**ransiku, Arsen," Romli berdiri, berjalan pelan mengitari kursi Laras. Jemarinya yang keriput menyentuh pundak Laras, membuat gadis itu gemetar hebat. "Kau pikir kau bisa keluar begitu saja? Kau pikir foto-foto lama dan identitas palsu yang kau simpan di b**nkas itu bisa menghapus jejak darah di tanganmu?"
"Aku sudah memberikan semua yang kau minta. Uang, data, koneksi. Biarkan dia pergi," desisku.
Romli berhenti tepat di depan Laras, lalu menatapku dengan senyum tipis yang memuakkan. "Masalahnya, kau mulai memiliki hati. Dan dalam bisnis kita, hati adalah kec****an produksi. Aku harus membuang bagian yang c**** itu."
Dalam sekejap mata, salah satu anak buah Romli menarik senjatanya. Namun, memoriku bekerja lebih cepat. Insting yang telah diasah selama bertahun-tahun di bawah tekanan pecah. Aku menjatuhkan diri ke balik pilar beton sambil melepaskan dua tembakan beruntun. Suara letusan itu m****akkan telinga, bergema di dinding gudang yang kosong.
"Laras, merunduk!" teriakku.
Peluru berseliweran, memecahkan kaca-kaca jendela di atas kami. Aku merayap, memanfaatkan bayangan dan tumpukan peti kayu. Amarahku mendidih, bukan pada Romli, tapi pada diriku sendiri. Aku telah membangun istana dari dusta untuk melindunginya, namun justru debu dari reruntuhan istana itu yang kini mencekiknya.
Aku muncul dari balik peti, membidik pria kedua yang mencoba mendekati Laras. Satu tembakan tepat di bahunya membuatnya tersungkur. Romli sudah bergerak mundur menuju pintu belakang, wajahnya yang tenang kini digantikan oleh kemarahan yang meluap.
"Kau pengkhianat, Adrian! Kau tidak akan pernah bisa mencuci tanganmu!" teriak Romli sebelum menghilang ke dalam kegelapan lorong.
Aku tidak mengejarnya. Fokusku hanya satu. Aku berlari menerjang ke arah Laras, menjatuhkan senjataku untuk melepaskan ikatan talinya dengan tangan gemetar.
"Laras, kau tidak apa-apa? Katakan padaku kau tidak apa-apa," bisikku serak.
Saat ikatan itu lepas, Laras tidak jatuh ke pelukanku. Dia justru mendorongku menjauh dengan sisa tenaganya. Dia terhuyung berdiri, napasnya tersengal, menatapku seolah-olah aku adalah monster yang lebih menakutkan daripada Romli.
"Jangan sentuh aku," suaranya bergetar, parau karena tangis. "Siapa... siapa kau sebenarnya?"
"Laras, dengarkan aku, aku akan menjelaskan semuanya, tapi kita harus pergi sekarang. Tempat ini tidak aman," aku mencoba meraih tangannya, namun dia mundur satu langkah lagi, punggungnya menab**k meja kayu yang penuh dengan peralatan medis tua.
Matanya yang tajamβmata seorang ilustrator yang tidak pernah melewatkan det**l sekecil apa punβmenatap ke arah dadaku. Di sana, di bawah jaket yang tersingkap karena baku hantam tadi, sebuah tato kecil di tulang selangkanganku terlihat. Tato yang sama dengan yang ada di foto lama Maya yang ia temukan.
"Kau ada di sana," bisik Laras, air mata baru jatuh membasahi pipinya. "Di malam Maya hilang... kau adalah orang terakhir yang bersamanya. Bukan untuk menyelamatkannya, tapi untuk membawanya pergi."
Di kejauhan, suara sirine polisi mulai terdengar meraung-raung, bercampur dengan suara langkah kaki banyak orang yang mendekati gudang. Aku membeku. Romli tidak lari untuk bersembunyi; dia telah menjebakku.
"Laras, kumohon, ikutlah denganku. Aku akan menceritakan segalanya tentang Maya. Semuanya," pintaku dengan nada putus asa.
Laras menatap ke arah pintu yang mulai didob**k, lalu kembali menatapku. Tangannya meraih sebuah skalpel tua yang tergeletak di meja di sampingnya, menggenggamnya erat seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki dariku.
"Jika kau ingin menebus dosamu," suara Laras mendadak dingin, seolah seluruh kehangatan yang pernah kami bagi menguap begitu saja, "beritahu aku sekarang. Di mana mereka membuang mayat kakakkku?"
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada peluru mana pun. Tepat saat pintu gudang jebak terbuka dan cahaya lampu senter yang menyilaukan membutakan pandangan kami, aku menyadari bahwa aku bukan sedang menyelamatkannya. Aku sedang menyerahkannya pada kebenaran yang mungkin akan membunuh kami berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!