Lant** semen ini terasa sedingin es yang merambat melalui pori-pori kulit jins yang kukenakan. Bau apak, perpaduan antara lumut lembap dan besi berkarat, memenuhi rongga hidungku setiap kali aku mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantung yang berdentum liar. Cahaya temaram dari lampu bohlam yang berkedip di langit-langit setinggi tiga meter hanya mampu memperlihatkan betapa buruknya situasi kami saat ini.
"Laras, kau harus membantuku. Aku tidak bisa menggeser lemari besi ini sendirian."
Suara Arsen memecah keheningan yang menyesakkan. Suaranya rendah, tenangβterlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diculik dan disekap di gudang bawah tanah antah-berantah. Aku menoleh padanya, menatap punggungnya yang tegap meski kemeja birunya kini kotor oleh debu dan noda minyak.
Tanganku gemetar. Aku menatap telapak tanganku sendiri, lalu beralih ke tangan Arsen yang memegang pinggiran lemari besi itu. Tangan yang sama yang pernah menggenggam tanganku dengan lembut saat aku menangis merindukan Maya. Tangan yang sama yang memberiku cokelat panas saat aku mengalami serangan panik. Dan mungkin, tangan yang sama yang menyembunyikan identitas palsu serta foto kakaku di b**nkasnya.
"Laras?" Arsen menoleh, matanya yang tajam menatapku dengan kilatan kecemasan yang tampak begitu tulus. "Kita tidak punya banyak waktu. Aku mendengar langkah kaki di atas tadi. Mereka akan kembali."
"Kenapa aku harus percaya padamu?" bisikku, suaraku parau. "Kenapa aku harus membantumu, sementara kepalaku penuh dengan pertanyaan tentang siapa kau sebenarnya?"
Arsen mengembuskan napas panjang, bahunya merosot sesaat. Ia melangkah mendekat, namun aku segera mundur hingga punggungku menab**k dinding beton yang kasar. Rasa sakit menusuk tulang belikatku, namun itu tidak sebanding dengan rasa sakit di dadaku.
"Aku tahu kau punya ribuan alasan untuk membenciku sekarang," kata Arsen, suaranya melembut, persis seperti Arsen yang kukenal selama ini. "Tapi jika kita tidak keluar dari sini dalam sepuluh menit ke depan, kau tidak akan pernah mendapatkan jawaban itu. Kau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada Maya. Tolong, Laras. Kali ini saja, lupakan siapa aku. Fokuslah pada cara kita bertahan hidup."
Aku memejamkan mata sejenak. Wajah Maya terlintas di benakkuβsenyumnya yang lebar, tahi lalat kecil di bawah matanya. Jika aku mati di sini, rahasia tentang Maya akan terkubur selamanya bersamaku. Aku harus hidup. Meski itu berarti aku harus bekerja sama dengan pria yang mungkin adalah monster di balik hilangnya kakakku sendiri.
"Apa yang harus kulakukan?" kataku akhirnya, membuka mata dan menatapnya lurus.
Arsen tampak sedikit lega, meski ketegangan belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. "Gunakan batang besi itu," ia menunjuk ke sebuah potongan pipa berkarat di sudut ruangan. "Ma**kan ke celah di bawah lemari ini. Saat aku mengangkatnya dari sisi kiri, kau tekan pipa itu sekuat tenaga untuk mengganjalnya. Ada lubang ventilasi di belakang lemari ini. Itu satu-satunya jalan keluar kita."
Aku berjalan menuju pipa itu, merasakan beratnya besi dingin di genggamanku. Kami bergerak dalam sinkronisasi yang aneh. Arsen menempatkan dirinya di sisi lemari, otot-otot lengannya menegang saat ia mulai mendorong. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol akibat beban yang luar biasa berat.
"Sekarang!" teriaknya tertahan.
Aku mendorong pipa itu ke bawah lemari dengan seluruh berat tubuhku. Suara decitan besi yang bergesekan dengan semen menimbulkan bunyi memilukan yang membuat gigiku ngilu. Lemari itu bergerak beberapa sentimeter.
"Lagi, Laras! Sedikit lagi!"
Keringat dingin bercucuran di pelipisku. Napas kami saling memburu di ruangan sempit itu. Di tengah usaha fisik yang menguras tenaga, pikiranku terus berputar. Bagaimana jika Arsen sengaja membawaku ke sini? Bagaimana jika ini semua adalah bagian dari sandiwaranya untuk membuatku semakin bergantung padanya?
Tiba-tiba, kaki Arsen terpeleset di lant** yang licin oleh lumut. Lemari itu miring ke arahnya.
"Arsen, awas!" teriakku tanpa sadar.
Aku melepaskan pipa dan menerjang ke arahnya, mendorong bahunya agar ia tidak tertindih beban berat itu. Kami berdua jatuh terguling ke lant** saat lemari itu menghantam dinding dengan dentuman keras yang mengguncang ruangan. Debu beterbangan, membuatku terbatuk-batuk.
Untuk sesaat, kami terbaring bersisian, terengah-engah dalam kegelapan yang semakin pekat karena lampu di atas kami akhirnya padam total. Aku bisa merasakan panas tubuh Arsen di sampingku. Keheningan setelah suara dentuman itu terasa lebih menakutkan.
"Kau menyelamatkanku," bisik Arsen di tengah kegelapan. Tangannya bergerak di atas lant**, mencari tanganku.
Aku menarik tanganku sebelum ia sempat menyentuhnya. "Aku tidak menyelamatkanmu. Aku menyelamatkan peluangku untuk tahu di mana Maya."
"Laras, akuβ"
Kalimatnya terputus oleh suara kunci yang berputar di pintu besi di ujung tangga. Suara langkah sepatu bot yang berat bergema menuruni anak tangga semen. Cahaya senter yang kuat menyapu ruangan, membelah kegelapan seperti pisau bedah.
Aku menahan napas, menyusut di balik bayangan lemari yang kini sudah bergeser sedikit, memperlihatkan celah kecil menuju lubang ventilasi. Arsen menarik lenganku, memaksaku merangkak ma**k ke celah sempit di belakang lemari.
"Ma**k," bisiknya di telingaku, napasnya terasa hangat namun membuat bulu kudukku meremang. "Jangan bersuara apa pun yang terjadi."
Saat aku meringkuk di dalam celah sempit yang gelap dan berdebu itu, aku melihat Arsen berdiri, sengaja menempatkan dirinya di depan celah agar tubuhnya menghalangi pandangan siapa pun yang ma**k.
Pintu terbuka lebar dengan dentuman keras. Sinar senter itu kini berhenti tepat di wajah Arsen.
"Di mana dia?" sebuah suara berat dan serak bertanya. Suara yang terasa tidak asing di telingaku, namun aku tidak bisa mengingatnya.
"Dia sudah pergi," jawab Arsen dingin. "Kalian terlambat."
Aku menutup mulut dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis yang hampir pecah. Dari posisiku, aku bisa melihat bayangan orang yang berdiri di depan pintu. Orang itu memegang sesuatu yang panjang dan meng***t di tangannyaβsebuah belati.
Namun, yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak bukanlah senjata itu, melainkan sebuah benda yang jatuh dari saku orang asing itu saat ia melangkah maju. Sebuah gantungan kunci berbentuk kura-kura kecil berwarna hijau.
Gantungan kunci yang kuberikan pada Maya di ulang tahunnya yang terakhir.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!