Ujung jemari Larasati bergetar halus saat ia menggoreskan pena stylus di atas tablet grafisnya. Di layar, det**l anatomi jantung manusia terbentuk dengan presisi yang menyakitkan. Setiap katup, setiap pembuluh darah vena, ia gambar dengan ketelitian seorang ahli bedah. Baginya, anatomi adalah kepastian. Di dalam tubuh manusia, segala sesuatunya memiliki tempat dan fungsi yang jelas. Tidak ada yang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan, seperti yang terjadi pada Maya tiga tahun lalu.
Ketukan tiga kali yang teratur di pintu studionya memecah keheningan. Laras tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Hanya satu orang yang menghormati privasinya sedemikian rupa, bahkan ketika pintu itu sedikit terbuka.
"Aku membawakan amunisi," suara bariton yang lembut itu menyapa.
Arsen melangkah ma**k, membawa aroma kayu cendana dan kopi yang baru diseduh. Ia tidak langsung menghampiri meja kerja Laras, melainkan berhenti di jarak yang nyaman—jarak yang selalu ia jaga sejak mereka mulai bertemu enam bulan lalu. Arsen tahu benar bahwa ruang personal adalah tempat perlindungan bagi Laras.
"Teh kamomil dengan madu hutan, tanpa gula tambahan. Dan roti gandum isi alpukat dari kedai di ujung jalan yang selalu kau bilang aromanya enak," Arsen meletakkan nampan kecil itu di meja sudut, jauh dari peralatan elektronik Laras.
Laras menghela napas panjang, ketegangan di bahunya perlahan meluruh. Ia menoleh dan mendapati Arsen sedang tersenyum tipis. Pria itu mengenakan kemeja linen berwarna sage yang tampak tenang, selaras dengan pembawaannya.
"Bagaimana kau tahu aku sedang butuh ini?" tanya Laras, suaranya serak.
"Kau mengirim pesan singkat dua jam lalu, hanya satu kata: 'rumit'. Aku bera**msi itu bukan tentang gambar jantungnya, tapi tentang kepalamu yang mulai berisik lagi," jawab Arsen tenang. Ia berjalan mendekat, tapi tetap menjaga tangannya di saku celana. "Mau bicara? Atau kau ingin aku duduk di sini diam saja sampai kau selesai?"
Laras memutar kursinya, menatap Arsen lekat-lekat. Ketulusan di mata pria itu hampir terasa tidak nyata. Selama tiga tahun terakhir, orang-orang di sekitar Laras selalu menatapnya dengan rasa kasihan yang mengganggu atau ketidaksabaran yang disamarkan. Mereka ingin Laras "cepat sembuh," "merelakan," atau "berhenti mencari." Tapi Arsen berbeda.
"Maya menyukai alpukat," gumam Laras tiba-tiba. Ia menunggu reaksi Arsen—mungkin kerutan di dahi atau helaan napas lelah karena topik yang sama diulang lagi.
Namun, Arsen justru menarik kursi kayu di dekat jendela dan duduk dengan sant**. "Benarkah? Dia suka yang manis atau yang gurih? Karena tadi aku sempat bimbang ingin membelikanmu yang pakai cokelat."
Laras merasakan kehangatan yang asing menjalar di dadanya. Arsen tidak menghindar. Ia justru membuka pintu untuk kenangan itu ma**k. "Dia suka yang gurih. Katanya, alpukat adalah mentega alami dari bumi."
"Dia punya selera yang bagus," Arsen mengangguk pelan. "Laras, kau tidak perlu merasa bersalah karena masih mengingat det**l kecil tentangnya. Itu bukan beban, itu bukti bahwa dia pernah ada, dan dia sangat dicint**."
Laras menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia terbiasa dianggap paranoid atau terjebak masa lalu, tapi Arsen memperlakukan traumanya seolah itu adalah bagian dari lanskap jiwanya yang indah, bukan sebuah kerusakan yang harus diperbaiki dengan tergesa-gesa.
***
"Dia terlalu sempurna, Ras. Serius, tidak ada laki-laki sesempurna itu di dunia nyata."
Dini, sahabat sekaligus rekan kerja Laras, menyesap es kopinya dengan ekspresi skeptis saat mereka makan siang di kantin bersama keesokan harinya. Di meja seberang, Arsen sedang berbicara dengan salah satu kurator galeri, gerak-geriknya sopan dan penuh wibawa.
"Dia bukan karakter fiksi, Dini. Dia nyata," bela Laras, meski dalam hati ia sering memikirkan hal yang sama.
"Justru itu masalahnya! Dia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus memberimu ruang. Dia ingat semua alergi makananmu, dia mendukung pencarian kakakmu tanpa menghakimi, bahkan dia tidak pernah menuntut fisik darimu. Di dunia medis, kalau ada hasil tes yang semuanya terlihat hijau tanpa c****, biasanya itu indikasi ada yang salah dengan alat tesnya."
Laras terkekeh pelan, berusaha mengabaikan peringatan Dini. "Mungkin aku hanya beruntung? Setelah semua kemalangan ini, bukankah aku pantas mendapatkan satu hal baik?"
Dini meletakkan gelasnya, tatapannya melembut namun tetap tajam. "Tentu kau pantas, Laras. Sangat pantas. Tapi waspadalah pada sesuatu yang terlalu rapi. Orang yang tidak punya celah biasanya adalah orang yang paling pandai menyembunyikan retakan."
Laras terdiam. Ia memandang Arsen lagi. Pria itu seolah merasakan tatapannya, lalu menoleh dan melempar senyum tipis—sebuah senyum yang hanya ditujukan untuk Laras. Begitu hangat, begitu menenangkan.
***
Malam itu, Arsen mengantar Laras pulang. Mereka berdiri di depan pintu apartemen Laras dalam keremangan lampu koridor.
"Terima kasih untuk hari ini, Arsen. Dan untuk tehnya kemarin," ucap Laras tulus.
Arsen mengangguk. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat sederhana. "Aku menemukan ini di toko buku tua dekat kantorku. Aku teringat kau bilang Maya sering mengoleksi pembatas buku dari kulit."
Laras menerima kotak itu dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat sebuah pembatas buku kulit berwarna hijau lumut dengan ukiran inisial 'M' di sudut bawahnya. Desainnya sangat antik, sangat... Maya.
"Bagaimana kau bisa menemukan yang ada inisialnya?" tanya Laras, terpana.
"Mungkin kebetulan yang manis?" Arsen menjawab ringan, tapi matanya menatap Laras dengan intensitas yang sulit dijelaskan. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku bersamamu dalam pencarian ini, Laras. Kau tidak sendirian lagi."
Laras merasakan gelombang emosi yang meluap. Tanpa sadar, ia maju selangkah dan memeluk Arsen. Ini adalah pertama kalinya Laras memulai kontak fisik terlebih dahulu. Tubuh Arsen sempat menegang sekejap—sepersekian detik yang hampir tak terasa—sebelum tangannya melingkar lembut di punggung Laras, mengusapnya dengan ritme yang menenangkan.
Di pelukan itu, Laras merasa aman. Wangi cendana dari tubuh Arsen seperti benteng yang melindunginya dari dunia luar yang kejam.
Namun, saat Laras memejamkan mata, indranya yang tajam menangkap sesuatu yang ganjil. Di saku kemeja Arsen yang menempel di pipinya, ia merasakan bentuk benda yang keras dan tipis. Seperti sebuah kartu. Tapi ukurannya sedikit lebih besar dari kartu kredit biasa.
Dan di tengah keheningan malam itu, ponsel di dalam saku Arsen bergetar. Arsen tidak mengangkatnya, tapi getaran itu berlangsung lama. Laras bisa merasakan getaran itu di wajahnya, berulang-ulang, seolah ada sesuatu yang mendesak untuk keluar dari kegelapan.
"Kau tidak mau mengangkatnya?" bisik Laras, masih dalam pelukan.
"Hanya spam," jawab Arsen lancar, suaranya tetap selembut sutra.
Namun, Laras yang memiliki memori fotografis tidak bisa mengabaikan satu det**l kecil. Saat pelukan mereka terlepas dan Arsen berpamitan, Laras sempat melihat layar ponsel Arsen yang menyala sesaat di balik saku kemeja yang tipis.
Bukan nomor telepon yang muncul di sana. Melainkan sebuah notifikasi pengingat kalender dengan teks singkat yang membuat jantung Laras berdegup kencang: *3 Tahun - Selesai.*
Laras terpaku di depan pintu yang tertutup, menatap punggung Arsen yang menjauh di lorong. Tiga tahun. Tepat waktu yang sama dengan hilangnya Maya. Kebetulan macam apa yang sedang dimainkan takdir bersamanya? Atau, apakah Dini benar bahwa alat tesnya memang sedang rusak?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!