Udara di dalam gudang tua di pinggiran pelabuhan itu terasa seperti timah cairβberat, panas, dan menyesakkan. Bau apak kayu yang membusuk bercampur dengan aroma amis garam dari laut yang hanya berjarak beberapa meter di luar sana. Larasati meremas sebuah *flash drive* di saku jaketnya; benda kecil yang berisi rekaman suara dan salinan dokumen yang membuktikan keterlibatan Baskara dalam sindikat perdagangan manusia yang melenyapkan Maya.
Di depannya, Baskara berdiri dengan wajah yang tak lagi menunjukkan sisa-sisa wibawa seorang pengusaha sukses. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan tangan kanannya gemetar hebat saat mengacungkan moncong pistol ke arah Laras.
"Berikan benda itu, Laras," geram Baskara. Suaranya serak, seperti gesekan amplas di atas beton. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Kau hanya seorang ilustrator yang terlalu banyak berimajinasi. Maya hilang karena dia terlalu penasaran, jangan sampai kau menyusulnya."
Laras merasakan lututnya lemas, tetapi memori fotografisnya mendadak berputar cepat. Ia mengingat setiap det**l di ruangan itu: letak tumpukan palet kayu di sebelah kiri, genangan oli di dekat kaki Baskara, dan Arsen yang berdiri tiga meter di samping kanannya.
Arsen. Pria yang selama ini ia anggap sebagai malaikat pelindung, namun ternyata adalah pria dengan seribu identitas. Saat ini, Arsen tampak hancur. Kemeja birunya yang biasa rapi kini kotor oleh debu dan noda darah. Ekspresinya bukan lagi ketenangan yang palsu, melainkan ketakutan yang murni.
"Baskara, hentikan!" Arsen melangkah maju, tangannya terangkat ke udara, mencoba menenangkan. "Polisi sudah mengepung dermaga ini. Tidak ada jalan keluar. Berikan senjatanya padaku."
"Kau pengkhianat, Arsen! Atau siapa pun namamu!" teriak Baskara kalap. "Kau seharusnya menjaganya agar tetap diam, bukan malah jatuh cinta padanya dan menyerahkan semua bukti itu!"
Laras menoleh ke arah Arsen. Jantungnya berdenyut nyeri. *Jatuh cinta?* Apakah semua ini benar-benar didasari cinta, atau sekadar penebusan dosa karena Arsen adalah orang yang menjemput Maya di malam kakaknya itu menghilang?
"Laras, lari ke belakang palet itu!" perintah Arsen pelan, matanya tidak lepas dari telunjuk Baskara yang menempel di pelatuk.
"Aku tidak akan pergi tanpa penjelasan, Arsen!" suara Laras bergetar, air mata mulai mengaburkan pandangannya. "Kau berjanji akan membawaku pada Maya!"
"Aku akan menjelaskannya, aku janji. Tapi sekarang, lari!"
Tepat saat itu, suara sirene polisi memecah keheningan malam, meraung-raung dari kejauhan namun terasa sangat dekat. Baskara tersentak. Kepanikan menyulut matanya menjadi api yang liar. Ia menyadari waktunya telah habis.
"Kalau aku harus hancur, kau juga harus hancur!" raung Baskara.
Ia mengalihkan bidikannya tepat ke arah dada Laras. Waktu seolah melambat dalam pandangan Laras. Ia melihat jari Baskara menekan pelatuk. Ia melihat kilatan api yang keluar dari moncong senjata. Ia memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang akan mengakhiri pencariannya selama tiga tahun ini.
*DOR!*
Suara ledakan itu m****akkan telinga, bergema di dinding-dinding seng gudang. Namun, Laras tidak merasakan sakit. Sebaliknya, ia merasakan sebuah hantaman keras dari samping yang melemparkannya ke lant** semen yang dingin. Tubuh yang berat menindihnya, mendekapnya erat seolah ingin menyatukan dua raga agar tak terpisahkan oleh maut.
Laras membuka mata dan menemukan wajah Arsen hanya beberapa senti dari wajahnya. Arsen meringis, matanya terpejam rapat, dan sebuah erangan tertahan keluar dari sela giginya yang terkatup.
"Arsen?" bisik Laras.
Bau logam yang tajam segera menyeruak. Laras merasakan sesuatu yang hangat dan basah merembes ke jaketnya. Saat ia menggerakkan tangannya, jemarinya tenggelam dalam cairan kental berwarna merah pekat yang keluar dari punggung Arsen. Peluru terakhir Baskara telak mengenai bahu belakang hingga menembus dekat tulang rusuk Arsen saat pria itu melompat melindunginya.
"Arsen! Tidak, tidak, tidak!" Laras menjerit, mencoba menahan tubuh Arsen yang mulai terkulai lemas.
Di saat yang sama, pintu gudang didob**k terbuka. Pa**kan polisi bersenjata lengkap merangsek ma**k. "Angkat tangan! Jatuhkan senjata!"
Baskara mencoba melarikan diri ke arah pintu belakang, namun dua tembakan peringatan dan kepungan petugas membuatnya tersungkur tak berdaya. Ia diringkus, wajahnya ditekan ke lant**, sementara borgol mengunci pergelangan tangannya.
Laras tidak peduli pada Baskara lagi. Ia memangku kepala Arsen, air matanya jatuh membasahi pipi pria itu. "Kenapa kau lakukan ini? Kau pembohong, Arsen... kau seharusnya tidak perlu melakukan ini!"
Arsen membuka matanya sedikit, senyum tipis yang getir tersungging di bibirnya yang mulai pucat. Darah terus mengalir, menciptakan genangan di bawah mereka. "Aku... aku memang berbohong tentang namaku," bisiknya terbata-bata. "Tapi... melindungimu... itu satu-satunya hal jujur yang pernah kulakukan."
Seorang petugas medis berlari mendekat, berteriak meminta tandu. Laras merasakan seseorang menariknya menjauh agar petugas bisa bekerja, namun ia menolak melepaskan tangan Arsen.
"Tunggu!" Laras merogoh sakunya, mengeluarkan *flash drive* itu dan menyerahkannya kepada seorang detektif yang berdiri di dekatnya dengan tangan gemetar. "Ini. Semua buktinya ada di sini. Lokasi Maya, nama-nama mereka... semuanya."
Detektif itu mengangguk tegas, mengambil bukti itu seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
Arsen mulai diangkat ke atas tandu. Oksigen dipasangkan ke wajahnya. Matanya sayu, menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikanβantara penyesalan mendalam dan kelegaan yang aneh. Saat tandu itu didorong menjauh, Laras berdiri mematung di tengah gudang yang kini riuh oleh kilatan lampu kamera forensik dan instruksi polisi.
Ia melihat tangannya sendiri yang berlumuran darah Arsen. Di sudut matanya, ia melihat detektif tadi membuka sebuah map yang disita dari tas Baskara yang terjatuh. Detektif itu mengernyit, memanggil rekannya, dan menunjuk sebuah foto yang terselip di dalamnya.
Laras mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa syoknya. Memori fotografisnya menangkap gambar itu dalam sekejap. Itu adalah foto Maya, namun di belakang Maya, di latar belakang yang buram, ada sosok pria lain yang wajahnya sangat ia kenali.
Jantung Laras seakan berhenti berdetak. Pria di foto itu bukan Arsen, dan bukan pula Baskara.
"Siapa dia?" bisik Laras pada dirinya sendiri, sementara rasa dingin yang baru mulai merayap di tengkuknya. Ternyata, kebenaran di balik hilangnya Maya masih menyisakan satu lapisan gelap yang belum terjamah, dan Arsen mungkin baru saja membawanya ke liang lahat.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!