Langit Jakarta sore itu seolah dicuci bersih oleh hujan yang baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang tajam dan menenangkan. Larasati berdiri mematung di depan sebuah nisan marmer putih yang masih tampak baru. Di sana, terukir nama yang selama tiga tahun terakhir hanya ia sebut dalam doa-doa penuh keputusasaan: *Maya Kirana*.
Laras mengusap permukaan nisan yang dingin itu dengan ujung jarinya. Sebagai seorang ilustrator medis, ia terbiasa mengamati det**l—tekstur kulit, alur otot, hingga retakan halus pada tulang. Namun, tidak ada det**l anatomis yang bisa menjelaskan rasa hampa yang kini mengerak di dadanya. Bunga krisan putih yang ia bawa tampak kontras dengan rumput hijau yang mulai tumbuh subur di atas pusara kakaknya.
"Aku sudah menemukanmu, Mbak," bisik Laras, suaranya parau tertiup angin sepoi-sepoi. "Meskipun tidak dengan cara yang aku inginkan."
Ia teringat bagaimana Arsen—pria yang sempat ia yakini sebagai pelabuhan terakhirnya—pernah membantunya menanam tanaman herbal di balkon apartemennya. Tangan pria itu begitu lembut saat menyentuh tunas hijau, sangat berbeda dengan tangan yang, menurut berkas penyidikan, telah menyeret Maya ke dalam kegelapan. Kebenaran itu seperti pisau bedah yang menyayat perlahan; bersih, namun mematikan.
Setelah satu jam yang sunyi, Laras bangkit. Kakinya terasa kaku, namun tujuannya sudah bulat. Ia harus menyelesaikan ini. Bukan untuk Arsen, tapi untuk dirinya sendiri.
***
Bau disinfektan yang menyengat menyambut Laras saat ia mema**ki ruang kunjungan di rumah sakit kepolisian. Langkah kakinya bergema di lorong yang sunyi, menciptakan ritme yang memacu detak jantungnya. Di balik pintu besi yang dijaga ketat, Arsen duduk di kursi roda dengan tangan terborgol ke pegangan besi.
Pria itu tampak jauh berbeda dari sosok sempurna yang selama ini Laras kenal. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya tampak seperti memar yang permanen. Saat pintu terbuka, Arsen mendongak. Ada kilatan harapan yang menyakitkan di matanya, sebuah binar yang dulu sempat membuat Laras merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
"Laras..." suara Arsen pecah, kering dan tipis.
Laras duduk di kursi kayu di hadapannya, dipisahkan oleh meja beton yang dingin. Ia tidak segera berbicara. Memori fotografisnya mendadak memutar ulang setiap momen mereka: cara Arsen tertawa, caranya memiringkan kepala saat mendengarkan Laras bercerita, dan cara pria itu menatapnya dengan penuh kasih sayang yang—ternyata—bercampur dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Aku membawakan ini," Laras meletakkan sebuah sketsa kecil di atas meja. Itu adalah gambar wajah Maya yang ia lukis dari ingatannya yang paling bahagia.
Arsen menunduk, bahunya gemetar. "Aku tidak pernah berniat menyakitinya, Laras. Segalanya... segalanya di luar kendali. Aku mendekatimu karena aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku ingin menebusnya."
"Dengan cara membohongiku setiap hari?" potong Laras pelan, namun tajam. "Dengan menciptakan identitas palsu dan membiarkanku jatuh cinta pada hantu?"
"Cintaku padamu tidak pernah palsu," Arsen memohon, matanya berkaca-kaca. "Hanya namaku, masa laluku, dan dosaku yang palsu. Perasaan itu nyata, Laras."
Laras menarik napas panjang, mencoba mengatur sesak yang kembali menghimpit. "Aku menghabiskan waktu berhari-hari untuk membencimu, Arsen. Atau siapa pun namamu yang sebenarnya. Aku ingin melihatmu menderita sebanyak aku menderita saat mencari Maya. Tapi kemudian aku sadar, kebencian itu hanya akan mengikatku padamu selamanya."
Arsen mencoba meraih tangan Laras, namun borgolnya bergeming, menciptakan bunyi denting logam yang menyedihkan. "Laras, tolong... beri aku satu kesempatan untuk memperbaikinya setelah semua ini selesai."
Laras menatap mata Arsen dalam-dalam. Di sana, ia melihat pria yang ia cint** sekaligus monster yang menghancurkan dunianya. Keduanya ada di sana, tumpang tindih dalam satu rupa.
"Aku memaafkanmu," kata Laras. Kata-kata itu terasa berat, seolah ia sedang memindahkan bongkahan batu besar dari punggungnya.
Mata Arsen membelalak, ada setitik kelegaan yang mulai muncul. "Kau... kau memaafkanku?"
"Ya," Laras mengangguk tenang. "Aku memaafkanmu agar aku bisa bernapas lagi. Aku memaafkanmu agar bayanganmu tidak lagi menghantuiku setiap kali aku memejamkan mata. Tapi, maaf bukan berarti kembali. Maaf bukan berarti penghapusan."
Senyum tipis yang mulai terbentuk di bibir Arsen mendadak luruh.
"Aku tidak bisa mencint** pria yang wajahnya mengingatkanku pada napas terakhir kakakku," lanjut Laras, suaranya kini lebih mantap. "Hari ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Aku akan melanjutkan hidupku. Tanpamu. Tanpa dusta yang kau bungkus dengan warna hijau itu."
Laras berdiri, tasnya tersampir di bahu. Ia tidak menoleh lagi saat Arsen mulai memanggil namanya dengan suara yang meratap. Ia berjalan keluar menyusuri lorong rumah sakit, melewati pintu-pintu besi yang tertutup rapat.
Saat ia mencapai gerbang luar, matahari mulai terbenam, menyemburkan warna jingga dan ungu ke cakrawala. Laras menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dadanya tidak terasa sesak.
Namun, saat ia merogoh saku mantelnya untuk mengambil kunci mobil, jemarinya menyentuh sesuatu yang asing. Sebuah amplop kecil berwarna cokelat tua yang sepertinya diselipkan seseorang ke dalam sakunya saat ia berada di kerumunan tadi atau mungkin di pemakaman.
Laras membukanya dengan kening berkerut. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kuno yang sudah berkarat dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tulisan tangan Maya.
*Jangan percaya pada akhir yang terlihat tenang, Laras. Hijau itu bukan hanya milik Arsen.*
Darah Laras seolah membeku. Ia menoleh ke sekeliling, ke arah jalanan yang mulai ramai. Di antara lalu lalang orang-orang, ia melihat sebuah mobil hitam dengan kaca gelap yang perlahan melaju pergi dari area rumah sakit. Di spion mobil itu, tergantung sebuah gantungan kunci berbentuk daun berwarna hijau yang identik dengan milik Arsen.
Laras mencengkeram kunci kuno itu hingga telapak tangannya sakit. Ternyata, akar dari dusta ini jauh lebih dalam dan menjalar lebih luas dari yang ia bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!