Aroma kayu cendana dan kulit jok mobil Volvo milik Arsen biasanya selalu berhasil membuatku tenang. Di dalam kabin yang kedap suara ini, hiruk-pikuk Jakarta seolah tersaring menjadi film bisu yang jauh. Arsen mengemudi dengan tenang, satu tangannya berada di kemudi sementara tangan lainnya sesekali mengusap punggung tanganku yang beristirahat di konsol tengah.
"Kamu pucat sekali hari ini, Laras," suaranya lembut, rendah, dan penuh perhatian. "Proyek ilustrasi anatomi itu benar-benar menguras energimu, ya?"
Aku memaksakan sebuah senyuman kecil. "Hanya kurang tidur. Det**l pembuluh darah di paru-paru itu lebih rumit dari yang kubayangkan."
Arsen terkekeh, suara baritonnya bergetar menyenangkan. "Istirahatlah sebentar. Perjalanan ke restoran ini masih tiga puluh menit lagi kalau macetnya seperti ini."
Aku mengangguk dan merogoh tas tanganku untuk mengambil ponsel. Namun, saat menarik tanganku keluar, ponsel itu tergelincir dari jemariku yang licin karena keringat dingin dan jatuh ke celah sempit di samping kursi penumpang.
"Sial," gumamku.
"Butuh bantuan?" Arsen melirik sekilas, matanya yang teduh memancarkan kekhawatiran yang tulus.
"Tidak apa-apa, aku bisa ambil sendiri."
Aku membungkuk, meraba-raba karpet mobil yang bersih dan empuk di bawah kursi. Jariku menyentuh sesuatu yang keras dan dingin, tapi itu bukan ponselku. Objek itu terselip jauh di sudut dekat rel kursi. Aku menjepitnya dengan dua jari dan menariknya keluar bersama ponselku.
Darahku seakan berhenti mengalir saat aku melihat apa yang ada di telapak tanganku.
Itu adalah sebuah gantungan kunci resin berbentuk persegi kecil. Di dalamnya tertanam sebuah semanggi berdaun empat yang sudah mengering, warnanya hijau kecokelatan dimakan usia. Di sudut bawah resin itu, ada goresan kecil berbentuk huruf 'M' yang tidak sengaja kubuat dengan cutter saat kami masih remaja.
Napas menyangkut di tenggorokanku. Ini milik Maya. Aku ingat betul saat Maya menemukannya di pasar loak dan bersikeras bahwa ini adalah jimat keberuntungannya. Dia membawanya ke mana pun, menempel pada kunci apartemennya yang hilang bersamanya tiga tahun lalu.
Tanganku mulai gemetar hebat. Logikaku berteriak, mencoba mencari alasan mengapa benda ini bisa berada di mobil pria yang baru kukenal enam bulan lalu.
"Laras? Ketemu ponselnya?"
Aku tersentak. Aku berusaha menyembunyikan gantungan kunci itu dalam kepalan tangan, tapi Arsen sudah telanjur menoleh saat lampu merah menyala. Matanya turun ke tanganku yang terkunci rapat.
"Apa itu?" tanyanya ringan, namun ada nada penasaran yang tajam di sana.
Aku membuka telapak tanganku perlahan, menunjukkan benda itu seolah-olah itu adalah serpihan bom yang siap meledak. "Ini... ini punya kakakku, Arsen."
Arsen menghentikan mobil sepenuhnya. Ia mengambil benda itu dari tanganku, memutarnya di bawah cahaya lampu jalan yang ma**k melalui kaca depan. Ekspresinya tidak berubahβtetap tenang, tanpa ada kilatan panik sedikit pun. Ia mengerutkan kening sejenak, tampak berpikir keras.
"Gantungan kunci ini?" tanyanya tenang. "Oh, astaga, Laras. Jadi ini milik Maya?"
Aku menatapnya tajam, mataku mulai memanas. "Bagaimana bisa benda ini ada di bawah kursimu? Kamu bilang kamu tidak pernah mengenal Maya. Kamu bilang kita bertemu pertama kali di pameran seni itu secara tidak sengaja!"
Arsen menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar penuh penyesalan. Ia menggenggam tanganku, jari-jarinya yang hangat kontras dengan kulitku yang sedingin es.
"Sayang, dengarkan aku dulu," ucapnya lembut, menatap tepat ke mataku dengan kejujuran yang menghanyutkan. "Kamu ingat minggu lalu saat aku membantumu mengangkut beberapa kardus barang lama dari gudang ibumu ke apartemenmu? Salah satu kardus itu robek di bagasi mobilku. Aku sudah mencoba membersihkannya, tapi mungkin benda kecil ini terjatuh dan terselip sampai ke depan saat aku mengerem mendadak."
Aku tertegun. Kepalaku pening mencari celah dalam ceritanya. Minggu lalu. Kardus-kardus Maya. Memang benar Arsen membantuku pindahan. Memang benar ada satu kardus yang terbuka karena lakbannya sudah rapuh.
"Tapi..." suaraku tercekat. "Gantungan kunci ini seharusnya ada di dompet kunci Maya. Dia tidak pernah melepaskannya."
Arsen tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa ia gunakan untuk menenangkanku saat aku terserang serangan panik. "Mungkin dia melepaskannya sebelum... sebelum kejadian itu? Atau mungkin terselip di antara buku-buku lamanya? Laras, memori manusia dalam keadaan trauma sering kali menciptakan kepastian yang sebenarnya semu. Kamu sangat ingin menemukannya, sehingga setiap benda kecil miliknya terasa seperti petunjuk besar."
Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Aku mengerti ini mengejutkanmu. Tapi pikirkan secara logis, untuk apa aku menyimpan benda sekecil ini jika aku menyembunyikan sesuatu? Kalau aku memang terlibat, aku pasti sudah membuangnya jauh-jauh, bukan membiarkannya tergeletak di bawah kursi."
Penjelasannya ma**k akal. Sangat ma**k akal hingga membuatku merasa bodoh karena sempat mencurigainya. Arsen adalah pria yang merawatku, yang memegang tanganku saat aku menangis di tengah malam karena mimpi buruk tentang Maya. Dia adalah tempat amanku.
"Maaf," bisikku, menunduk malu. "Aku hanya... aku merindukannya."
"Aku tahu," Arsen mengecup keningku lama. "Simpanlah. Anggap ini tanda bahwa dia ingin kamu tetap mengingatnya, tapi jangan sampai pencarian ini menghancurkan hidupmu yang sekarang."
Ia kembali menjalankan mobil saat lampu berubah hijau. Aku menggenggam gantungan kunci itu erat-erat di dalam saku mantelku. Namun, saat aku memalingkan wajah ke arah jendela, kilasan ingatan fotografisku memicu sesuatu yang mengganggu.
Aku ingat kardus yang robek minggu lalu itu. Itu adalah kardus berisi koleksi novel-novel lama Maya yang selalu ia simpan di rak buku ruang tamu. Maya tidak pernah menaruh kunci atau gantungan kunci di sana. Dia selalu menaruh kuncinya di mangkuk keramik dekat pintu depanβmangkuk yang kutemukan kosong melompong di hari dia menghilang.
Dan yang lebih mengusikku... jika gantungan kunci itu jatuh dari kardus di bagasi, bagaimana mungkin benda itu bisa merangkak naik melompati pembatas kursi dan terselip jauh di bawah kursi penumpang depan?
Aku melirik Arsen dari sudut mataku. Dia sedang bersenandung pelan mengikuti lagu di radio, jemarinya mengetuk kemudi dengan irama yang sangat teratur. Terlalu teratur untuk seseorang yang baru saja dikonfrontasi tentang barang milik orang hilang.
Di balik profil wajahnya yang sempurna dan diterangi cahaya lampu kota yang melintas, aku mulai melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan yang selama ini kupuja. Ketakutan itu kembali, lebih dingin dan lebih nyata dari sebelumnya.
Jika Arsen benar-benar jujur, mengapa jantungku berdegup dengan ritme yang meneriakkan satu kata: *Lari*?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!