Dusta di Balik Hijau

Bab 5: Bab 5 - Laras mulai melakukan penyelidikan kecil-kecila...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar monitor adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar apartemen Laras yang temaram. Di luar, hujan rintik membasahi jendela, meninggalkan jejak-jejak air yang merambat pelan seperti air mata. Namun, perhatian Laras tersedot sepenuhnya pada kursor yang berkedip di kolom pencarian Google.

Jemarinya gemetar saat mengetikkan nama: *Arsenio Wijaya*.

Laras menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang memalu rusuk. Di kepalanya, bayangan kartu identitas palsu yang ia temukan di b**nkas Arsen tadi siang berputar-putar seperti kaset rusak. Nama di kartu itu bukan Arsenio. Wajahnya sama, senyumnya yang tenang itu sama, tetapi identitasnya berbeda.

Halaman hasil pencarian muncul. Laras menyipitkan mata, mencondongkan tubuh ke depan hingga helai rambutnya yang legam jatuh menutupi bahu.

"Ayo, berikan aku sesuatu," bisiknya parau.

Profil LinkedIn Arsen muncul paling atas. Foto profesional yang menampilkan Arsen dalam balutan kemeja biru muda, tampak cerdas dan berwibawa. Laras mengklik profil itu. Pengalaman kerjanya mengesankan: manajer senior di sebuah perusahaan logistik ternama, lulusan terbaik dari universitas bergengsi di Singapura. Semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna.

Sebagai seorang ilustrator medis, Laras dilatih untuk melihat det**l yang dilewatkan orang lain. Ia memperhatikan setiap gurat, setiap bayangan, setiap anomali. Matanya yang tajam mulai menyisir lini masa kehidupan digital pria itu.

Keanehan pertama mulai merayap di tengkuknya.

Laras menggulir riwayat aktivitas Arsen. Unggahan pertamanya di media sosial profesional itu berumur tepat tiga tahun yang lalu. Laras mengerutkan kening. Ia beralih ke Instagram, lalu Facebook. Arsen memiliki akun, foto-fotonya c**up banyak, memperlihatkan hobinya mendaki gunung dan kecintaannya pada kopi hitam. Namun, semua unggahan itu, tanpa terkecuali, dimulai pada pertengahan tahun yang sama.

Tiga tahun lalu. Bulan Juli.

Laras merasa seolah pasokan oksigen di ruangannya mendadak menipis. Tiga tahun lalu, di bulan Juni, kakaknya, Maya, menghilang setelah pamit untuk menemui seseorang di sebuah kafe. Selisih waktunya hanya satu bulan.

"Tidak mungkin ini kebetulan," gumam Laras. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiriβ€”kering dan penuh ketakutan.

Ia mencoba menggali lebih dalam. Ia mencari arsip berita universitas tempat Arsen mengaku menimba ilmu. Ia mencari nama 'Arsenio Wijaya' di daftar lulusan tahun 2015 hingga 2018. Hasilnya nihil. Ia mencoba variasi nama lain, mencari foto-foto lama organisasi kampus, atau setidaknya satu komentar dari teman lama yang menyapa, *"Hey, ingat tidak waktu kita...?"*

Kosong. Tidak ada satu pun jejak manusia sebelum tahun itu. Seolah-olah pria bernama Arsenio Wijaya baru saja dilahirkan ke dunia, lengkap dengan gelar dan riwayat kerja, tepat setelah Maya lenyap.

Ponsel Laras yang tergeletak di samping keyboard bergetar tiba-tiba, mengejutkannya hingga ia hampir menjatuhkan gelas kopi yang sudah dingin. Nama *Arsen* menyala di layar, disert** emot***n hati kecil yang biasanya membuat Laras tersenyum.

Laras membiarkan ponsel itu bergetar. Ia menatap layar itu dengan perasaan mual yang mulai naik ke kerongkongan. Pria yang mengirimkan pesan "Sudah tidur, Sayang?" itu adalah pria yang sama yang selalu memijat bahunya saat ia lelah menggambar. Pria yang sama yang membawakannya sup hangat saat ia demam, dan yang selalu berjanji bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Laras merasa kesepian lagi.

Getaran ponsel berhenti, hanya untuk menyala kembali sedetik kemudian. Kali ini sebuah pesan teks ma**k.

*Arsen: Aku melihat lampu kamarmu masih menyala dari bawah. Belum bisa tidur? Mau aku bawakan cokelat panas dari kafe depan?*

Darah Laras serasa membeku. Ia bangkit berdiri dengan kaku dan berjalan perlahan menuju jendela. Ia menyingkap sedikit tirai tipisnya, hanya c**up untuk mengintip ke area parkir di bawah. Di sana, di bawah temaram lampu jalan, mobil sedan hitam milik Arsen terparkir. Arsen berdiri di samping pintu mobil, menengadah menatap jendela lant** tiga apartemen Laras.

Dalam kegelapan, Laras tidak bisa melihat ekspresi pria itu dengan jelas, tetapi ia bisa membayangkan tatapan matanya yang teduh dan penuh perhatian. Tatapan yang selama ini menjadi pelabuhan amannya. Namun sekarang, tatapan itu terasa seperti pengint**an.

Laras mundur selangkah, menjauh dari jendela. Ia kembali ke mejanya, tangannya bergerak cepat menutup semua tab pencarian di browser dan mematikan monitor. Kamar itu seketika tenggelam dalam kegelapan pekat.

Pikirannya melayang pada foto lama Maya yang ia temukan bersama kartu identitas palsu itu. Di foto itu, Maya tertawa lebar, memegang sebuah buket bunga mawar putih. Laras ingat hari itu. Itu adalah hari ulang tahun Maya yang terakhir sebelum ia hilang. Dan sekarang, Laras menyadari sesuatu yang sebelumnya ia abaikan dalam kepanikannya di depan b**nkas tadi.

Warna cat kuku Maya di foto itu adalah hijau lumut. Maya hanya menggunakan warna itu sekali seumur hidupnya, karena ia sedang terobsesi dengan tema hutan.

Laras menyalakan kembali layar monitornya dengan tergesa, membuka folder referensi pekerjaannya sendiri. Ia mencari foto Arsen yang pernah ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat pria itu sedang memasak di dapur bulan lalu. Ia memperbesar gambar pada pergelangan tangan Arsen.

Di sana, di balik jam tangan mewahnya, ada sebuah bekas luka kecil yang samar, berbentuk huruf 'M' yang tidak sempurna.

Jantung Laras berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia ingat Maya pernah bercerita tentang seorang pria yang ia temui, seorang pria yang menurut Maya memiliki "tanda kepemilikan" yang aneh.

Suara ketukan pelan terdengar di pintu depan apartemennya.

*Tok. Tok. Tok.*

"Laras? Kamu di dalam?" suara Arsen terdengar lembut, teredam oleh kayu pintu, namun tetap membawa getaran yang membuat bulu kuduk Laras berdiri. "Aku membawakan cokelatnya. Aku tahu kamu sedang gelisah."

Laras terpaku di kursinya. Bagaimana Arsen tahu ia gelisah? Apakah pria itu memasang kamera di dalam sini? Ataukah ketakutan Laras sudah begitu nyata hingga tercium dari balik pintu?

Laras melirik ke arah laci mejanya, di mana ia menyimpan cutter yang biasa ia gunakan untuk memotong kertas. Tangannya bergerak pelan, meraih gagang dingin benda tajam itu, sementara matanya tetap tertuju pada gagang pintu yang mulai bergerak turun perlahan.

Identitas Arsen baru berusia tiga tahun. Dan masa lalu pria itu, entah siapa pun dia sebenarnya, terkubur di tempat yang sama dengan hilangnya Maya. Laras menyadari satu hal dengan kepastian yang mengerikan: ia baru saja mengundang seorang asing yang sangat berbahaya untuk ma**k ke dalam hidupnya, dan sekarang, orang asing itu memiliki kunci pintu depannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca