Gaun satin berwarna sage yang kupilih malam ini terasa sedikit lebih ketat di bagian dada, atau mungkin itu hanya perasaan sesak yang merayap naik sejak Arsen menjemputku satu jam lalu. Arsen terlihat luar biasa—seperti biasa. Jas abu-abu gelapnya memeluk bahu kokoh itu dengan sempurna, dan aroma kayu cendana yang menjadi ciri khasnya memenuhi kabin mobil, menciptakan ilusi keamanan yang selalu berhasil meluluhkan pertahananku.
"Kau melamun lagi, Laras," suara rendah Arsen memecah keheningan. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan Jakarta yang mulai basah oleh gerimis, tapi tangan kirinya meraih jemariku, mengusap punggung tanganku dengan ibu jari. Gerakan itu seharusnya menenangkan, tapi entah mengapa, kali ini terasa seperti sebuah klaim kepemilikan.
"Hanya sedikit gugup," jawabku, mencoba menyunggingkan senyum tipis. "Bertemu teman-teman lamamu... aku takut tidak bisa mengimbangi obrolan kalian."
Arsen terkekeh, suara baritonnya bergetar lembut. "Mereka hanya Rian dan Dion. Kami satu sekolah sejak SMP di Bandung. Mereka tidak semenakutkan klien-klien medis yang biasa kau temui."
Kami tiba di sebuah restoran privat di daerah Dharmawangsa. Pencahayaannya temaram, memberikan kesan eksklusif dan intim. Di sebuah meja pojok yang terlindung oleh tanaman merambat, dua pria sudah menunggu. Rian, yang bertubuh agak gempal, langsung berdiri dan memeluk Arsen dengan akrab, sementara Dion melambaikan tangan dengan seringai lebar.
"Jadi ini Larasati? Ilustrator hebat yang membuat si Arsen lupa jalan pulang ke *tongkrongan*?" goda Rian saat kami duduk.
Aku tertawa sopan, merasakan pipiku memanas. Selama satu jam pertama, suasana mencair dengan mudah. Arsen adalah tuan rumah yang sempurna; ia memesankan menu favoritku tanpa perlu bertanya, menuangkan anggur, dan sesekali menyisipkan pujian tentang pekerjaanku di tengah percakapan. Aku mulai merasa bodoh karena sempat merasa curiga. Arsen yang ini—pria yang tertawa lepas bersama kawan-kawannya—terlihat begitu nyata.
Namun, sebagai seorang ilustrator medis, mataku dilatih untuk memperhatikan det**l terkecil. Serat otot, gradasi warna pada jaringan tubuh, hingga anomali pada struktur tulang. Dan malam ini, memoriku mulai menangkap anomali dalam narasi yang sedang dibangun di hadapanku.
"Ingat tidak, Sen? Waktu kelas dua SMA, kau hampir dikeluarkan karena menyelinap keluar asrama untuk menonton konser di Jakarta?" Dion memulai, matanya berbinar karena pengaruh alkohol.
Arsen tersenyum tenang, menyesap wine-nya. "Ah, masa muda yang ceroboh. Ayahku mengamuk luar biasa waktu itu."
Dahiku berkerut halus. *Asrama?*
Dua minggu lalu, saat kami menghabiskan malam di beranda apartemennya, Arsen bercerita dengan nada melankolis tentang masa kecilnya. Ia bilang ia adalah anak rumahan yang menghabiskan waktu merawat ibunya yang sakit di sebuah rumah tua di pinggiran kota, jauh dari kebisingan sekolah berasrama. Ia bahkan menyebutkan betapa ia merindukan aroma masakan ibunya setiap kali ia pulang sekolah—sekolah negeri biasa yang berjarak sepuluh menit jalan kaki dari rumahnya.
"Tapi kau memang selalu jadi kesayangan Pak Baskoro, kan?" lanjut Rian. "Guru matematika yang paling galak itu saja tidak tega memberimu nilai merah, padahal kau bolos sebulan saat ibumu meninggal."
Gelas wine di tanganku terasa mendingin. "Tunggu," potongku, mencoba menjaga nada suaraku tetap ringan. "Arsen pernah bercerita padaku kalau ibunya meninggal saat ia sudah kuliah semester akhir. Benar kan, Sen?"
Suasana di meja itu mendadak hening selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Aku melihat rahang Arsen mengeras sekejap—sebuah kedutan mikro yang hanya akan tertangkap oleh orang yang benar-benar memperhatikannya—sebelum ia kembali tersenyum sant**.
"Ah, Laras, mungkin kau salah dengar," kata Arsen, suaranya tetap lembut, tapi matanya menatapku dengan intensitas yang sulit dibaca. "Maksudku saat itu adalah masa-masa sulit... mungkin aku mencampuradukkan ceritanya dengan sepupuku."
"Tapi Sen, ibumu kan—" Dion hendak bicara, tapi Arsen memotongnya dengan cepat.
"Dion, kau sudah terlalu mabuk. Ingat tidak waktu kau salah ma**k kelas karena terlalu banyak minum?" Arsen tertawa, mengalihkan pembicaraan dengan mahir. Rian dan Dion segera terbahak, kembali tenggelam dalam nostalgia baru yang dilemparkan Arsen ke tengah meja.
Aku terdiam, memutar-mutar batang gelas wine-ku. Memori fotografisku memutar kembali percakapan kami malam itu. *“Aku memegang tangannya di saat-saat terakhirnya, Laras. Itu terjadi di tahun terakhirku di universitas. Rasanya separuh duniaku runtuh.”* Kalimat itu diucapkan Arsen dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak mungkin salah dengar. Getaran suaranya, emosi yang ia pancarkan... semuanya terasa begitu tulus.
Namun malam ini, di depan teman-teman yang mengaku mengenalnya sejak kecil, garis waktu itu berantakan.
"Kau baik-baik saja?" Arsen berbisik di telingaku, tangannya bergerak ke bawah meja, menggenggam lututku. Remasannya sedikit lebih kuat dari biasanya, seolah memberi peringatan tersembunyi.
"Hanya pusing sedikit. Ruangannya agak panas," dustaku.
"Kita pulang sekarang kalau kau mau," tawarnya, penuh perhatian. Sangat penuh perhatian sehingga terasa seperti sebuah taktik untuk mengakhiri sesi interogasi tak sengaja ini.
Saat kami berpamitan, Rian menepuk bahu Arsen. "Sen, jangan lupa mampir ke rumah lama. Pak RT masih sering tanya soal keluargamu sejak rumah itu dikosongkan sepuluh tahun lalu."
Arsen hanya mengangguk singkat, lalu menuntunku keluar dengan langkah cepat. Di dalam mobil, keheningan kembali menyelimuti. Namun kali ini, aroma cendana itu terasa mencekik. Aku menoleh ke arah Arsen yang fokus menyetir, profil wajahnya yang tegas terlihat seperti pahatan marmer di bawah lampu jalanan yang remang.
"Arsen," panggilku pelan.
"Ya, Sayang?"
"Kenapa Rian bilang rumahmu sudah kosong sepuluh tahun? Bukankah kau bilang kau masih sering mengunjunginya sampai tahun lalu untuk membersihkan barang-barang ibumu?"
Arsen tidak langsung menjawab. Ia menepikan mobil di bahu jalan yang sepi, lalu mematikan mesin. Ia memutar tubuhnya menghadapku, wajahnya gelap karena minimnya cahaya.
"Larasati," suaranya merendah, lembut namun bergetar dengan sesuatu yang menyerupai ancaman terselubung. "Kenapa kau begitu fokus pada det**l masa lalu yang membosankan? Bukankah yang penting adalah pria yang ada di depanmu sekarang? Pria yang mencint**mu?"
Ia mendekat, tangannya membelai pipiku dengan ujung jari yang dingin. "Terkadang, ingatan orang bisa bias. Rian dan Dion sudah lama tidak bertemu denganku. Mereka hanya ingat apa yang ingin mereka ingat."
Aku menahan napas saat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Di matanya, aku tidak melihat kehangatan Arsen yang biasanya. Aku melihat sebuah labirin gelap yang tidak ada ujungnya.
"Kau benar," bisikku, meski jantungku berdegup kencang melawan tulang rusukku. "Mungkin aku yang terlalu teliti."
Arsen tersenyum, lalu mengecup keningku lama. Saat ia kembali menyalakan mesin, tanganku diam-diam merogoh tas tangan, menyentuh ponselku. Aku ingat kartu identitas palsu yang kutemukan di b**nkasnya kemarin—kartu yang kini mulai ma**k akal.
Jika Rian benar dan rumah itu sudah kosong sepuluh tahun, maka Arsen yang duduk di sampingku ini bukanlah Arsen yang tumbuh besar bersama mereka. Ia adalah seseorang yang mencuri identitas itu. Dan jika ia bisa memalsukan seluruh hidupnya, maka apa yang sebenarnya terjadi pada Maya—kakakku yang hilang setelah bertemu dengan pria yang memiliki ciri-ciri fisik yang sangat mirip dengan Arsen?
Aku menatap keluar jendela, pada hujan yang kini turun semakin deras, menyadari bahwa aku baru saja makan malam dengan seorang pria yang identitasnya hanyalah sebuah fiksi yang disusun dengan rapi. Dan sekarang, dia tahu aku mulai mencium baunya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!