Lampu belakang mobil sedan perak milik Arsen tampak seperti sepasang mata merah yang mengejekku di tengah temaram senja. Aku menjaga jarak sejauh tiga mobil, memastikan tanganku yang gemetar tidak membuat kemudi oleng. Setiap kali Arsen berbelok, jantungku seolah ikut terpelintir. Pria yang selama ini menyeduhkan teh kamomil untukku saat aku bermimpi buruk, pria yang selalu memastikan aku mengunci pintu apartemen dengan benar, kini membawaku ke pinggiran kota yang bahkan tidak ada dalam peta mentalku.
Jalanan aspal yang mulus perlahan berganti menjadi kerikil dan tanah berlubang. Pepohonan rimbun di kiri dan kanan jalan seolah membentengi tempat ini dari peradaban. Bau tanah basah dan aroma pembusukan vegetasi menyeruak ma**k melalui celah ventilasi mobilku yang tua. Aku mematikan lampu depan, hanya mengandalkan sisa cahaya langit dan pendar redup dari mobil Arsen di depanku.
Arsen berhenti di depan sebuah kompleks gudang tua yang dikelilingi pagar kawat berkarat. Di sana, sebuah bangunan beton dengan atap seng yang sebagian sudah melesak ke dalam berdiri angkuh di antara ilalang yang setinggi pinggang manusia.
Aku memarkirkan mobil di balik rimbun pohon beringin besar, sekitar lima puluh meter dari gerbang. Paru-paruku terasa menyempit. *Laras, pulanglah. Ini bukan ide yang bagus,* bisikan itu bergema di kepalaku. Namun, bayangan kartu identitas palsu dengan wajah Arsen dan foto kusam Maya di dalam b**nkas itu jauh lebih keras berteriak. Aku harus tahu.
Aku keluar dari mobil dengan gerakan seringan kucing. Udara malam terasa menggigit kulit lenganku yang hanya terbalut kardigan tipis. Aku merunduk, melewati lubang di pagar kawat yang tajamnya nyaris merobek jeans-ku. Bunyi jangkrik yang bising sedikit menyamarkan suara langkah kakiku di atas daun-daun kering.
Di dekat pintu samping gudang, mobil Arsen terparkir dengan mesin yang sudah mati. Aku melihat bayangan bergerak di balik jendela kaca yang buram oleh debu bertahun-tahun. Dengan napas yang kutahan di tenggorokan, aku mendekat, menempelkan punggungku ke dinding beton yang dingin dan lembap.
Suara bariton yang sangat kukenal terdengar dari dalam. Namun, nadanya tidak lagi lembut dan menenangkan. Nada itu tajam, dingin, dan penuh otoritas yang belum pernah kudengar sebelumnya.
"Sudah kubilang, jangan hubungi aku lewat jalur biasa. Situasinya sedang sensitif," suara Arsen bergaung pelan namun tegas.
"Sensitif? Atau kau mulai menikmati peranmu sebagai pahlawan untuk adik gadis itu?" Suara lain menyahut. Suaranya serak, seperti gesekan amplas pada kayu. "Ingat, Arsen, atau siapa pun namamu sekarang. Kita punya kesepakatan. Barang itu harus ditemukan sebelum pihak lain mulai mencium baunya."
Aku memberanikan diri untuk sedikit mengintip melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. Cahaya dari lampu gantung yang bergoyang tertiup angin memperlihatkan Arsen berdiri membelakangiku. Di hadapannya, seorang pria bertopi pet dengan jaket kulit kusam sedang menyalakan rokok. Asapnya mengepul, menciptakan tirai tipis di antara mereka.
"Larasati tidak tahu apa-apa," desis Arsen. Namaku disebut, dan rasanya seperti disiram air es. "Dia hanya ilustrator medis yang sedang berduka. Jangan pernah menyentuhnya, atau kau akan berurusan denganku."
Pria misterius itu terkekeh, suara tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kau jatuh cinta padanya? Lucu sekali. Bagaimana kalau dia tahu bahwa pria yang memeluknya setiap malam adalah orang yangβ"
*Krak!*
Duniaku seakan berhenti berputar. Sepatuku baru saja menginjak sebuah botol kaca kosong yang tersembunyi di balik semak ilalang. Suaranya tidak keras, tapi di kesunyian gudang tua ini, bunyinya seperti ledakan meriam.
"Siapa di sana?!" bentak Arsen.
Langkah kaki berat langsung menuju ke arah pintu. Panik menyergapku seperti gelombang pasang. Aku tidak bisa lari ke arah mobil tanpa terlihat. Dengan sisa keberanian yang ada, aku menjatuhkan diri ke dalam ceruk gelap di bawah tumpukan drum karatan yang tertutup terpal plastik berlumut. Bau karat dan minyak mesin yang tajam menyerang indra penciumanku, tapi aku tidak berani bersin.
Pintu gudang terbuka dengan dentuman keras. Sinar senter yang kuat menyapu area di sekitarku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, meringkuk sekecil mungkin, menekan wajahku ke lengan agar suara napas jagaku tidak terdengar. Cahaya senter itu melewati celah terpal, nyaris mengenai ujung sepatuku.
"Hanya kucing, mungkin," suara pria serak itu terdengar tepat di sebelah tumpukan drum tempatku bersembunyi. "Atau tikus-tikus besar yang menghuni tempat sampah ini."
"Aku tidak suka gangguan," suara Arsen terdengar sangat dekat. Begitu dekat hingga aku bisa membayangkan ekspresi wajahnya yang mengeras. "Periksa area belakang. Aku akan memeriksa sisi pagar."
Aku mendengar langkah kaki Arsen menjauh, menuju ke arah mobilku yang tersembunyi di balik pohon. Jantungku berdegup sangat kencang hingga aku takut mereka bisa mendengarnya melalui dinding drum. Aku harus pergi sekarang, atau aku akan tertangkap basah.
Namun, saat aku mencoba menggeser tubuhku, tanganku menyentuh sesuatu yang dingin di lant** tanahβsebuah benda logam kecil yang berkilau terkena sisa cahaya dari dalam gudang. Aku memungutnya dengan hati-hati. Itu adalah sebuah pin perak berbentuk daun semanggi.
Napas kutahan. Pin itu milik Maya. Pin yang selalu ia kenakan di kerudungnya pada hari ia menghilang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berhenti tepat di depan tempat persembunyianku. Terpal plastik itu tersingkap sedikit. Aku mendongak dan melihat sepasang sepatu bot kulit hitam yang sangat kukenali. Sepatu yang kupilihkan untuk Arsen sebagai hadiah ulang tahunnya bulan lalu.
"Laras?"
Bisikan itu rendah, hampir menyerupai desahan kecewa, tapi c**up untuk menghancurkan seluruh sisa pertahananku. Aku mendongak, dan di balik kegelapan, mata Arsen tidak lagi memancarkan kehangatan yang biasa kulihat. Hanya ada kekosongan yang dingin dan berbahaya. Di tangannya, ia menggenggam sebuah ponsel yang layarnya masih menyala, menampilkan titik GPS yang tepat berada di lokasiku saat ini. Dia sudah tahu aku membuntutinya sejak awal.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!