Denting sendok perak yang beradu dengan porselen terdengar seperti ledakan kecil di telingaku. Aku menatap uap yang mengepul dari sup asparagus di hadapanku, namun aromanya yang gurih mendadak terasa mual. Di seberang meja, Arsen duduk dengan tenang. Cahaya lampu gantung yang temaram menyapu rahangnya yang tegas, memberikan kesan hangat yang selama ini selalu berhasil meluluhkan pertahananku.
Namun malam ini, kehangatan itu terasa seperti kamuflase. Bayangan kartu identitas palsu dan lembaran foto Maya yang kulihat di b**nkas tersembunyinya tadi siang terus berputar di kepalaku, seperti rol film rusak yang tak bisa dihentikan.
"Kau tidak menyentuh supnya, Laras. Terlalu asin?" Suara Arsen lembut, sarat akan perhatian yang biasanya membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Aku tersentak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis. "Hanya... sedikit lelah. Deadline ilustrasi minggu ini c**up menguras energi."
Arsen meletakkan sendoknya. Ia tidak langsung merespons, melainkan menatapku dengan mata hazelnya yang dalam. Tatapan itu biasanya menenangkan, tapi kini aku merasa seperti sedang dipindai oleh predator yang sangat sabar.
"Kau berbohong," ucapnya pelan, namun nadanya tidak menuduh. Ia justru tampak prihatin. "Ada sesuatu yang mengganggumu sejak aku pulang kerja. Apa ini tentang Maya lagi?"
Jantungku mencelos. Sebutannya pada nama kakaku selalu terasa seperti sentuhan pada luka terbuka. Aku meremas serbet di bawah meja hingga buku-buku jariku memutih. Ini saatnya. Aku harus tahu siapa pria yang tidur di sampingku selama enam bulan terakhir ini.
"Arsen," suaraku sedikit bergetar, aku berdehem untuk memantapkannya. "Aku menyadari sesuatu tadi saat sedang merapikan rak buku di ruang kerjamu. Aku menemukan sebuah kotak tua yang... tidak sengaja terbuka."
Aku berbohong soal lokasi penemuannya. Aku belum berani mengaku bahwa aku telah membongkar b**nkas rahasianya. Aku ingin melihat reaksinya terlebih dahulu.
Arsen tidak bergeming. Ekspresinya datar, tapi aku menyadari otot rahangnya mengeras sesaat. "Kotak tua? Di ruang kerja?"
"Ya. Ada beberapa dokumen di sana. Nama-nama yang asing. Dan... foto-foto lama." Aku memberanikan diri menatap matanya langsung. "Ada satu foto yang terlihat seperti diambil sepuluh tahun lalu. Di latar belakangnya ada bangunan tua di Bandung yang kukenali. Tapi, kau bilang padaku kau menghabiskan masa mudamu di Surabaya dan tidak pernah ke Bandung sebelum kita bertemu."
Keheningan yang mencekik menyelimuti ruang makan. Detak jam dinding di ruang tamu seolah mengeras, menghitung detik-detik sebelum bom meledak.
Arsen menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti kelelahan yang amat sangat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya perlahan meredup, memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Laras..." Ia menjeda, suaranya serak. "Aku tidak menyangka kau akan menemukan itu. Aku sengaja menyimpannya rapat-rapat karena aku belum siap menghadapi masa lalu itu lagi."
"Apa maksudmu?" tanyaku, mencoba menahan getaran di suaraku.
Ia menunduk, memandangi tangannya yang tertaut di atas meja. "Namaku memang Arsen. Tapi masa laluku... tidak sebersih yang kau bayangkan. Foto di Bandung itu... itu adalah saat-saat tergelap dalam hidupku. Aku terlibat dalam sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa sahabat baikku. Aku melarikan diri ke Surabaya, mengganti identitas sosialku secara tidak resmi hanya untuk memulai hidup baru karena rasa bersalah yang menghancurkanku setiap hari."
Ia mendongak, dan aku tertegun melihat matanya yang kini berkaca-kaca. "Identitas palsu itu... itu adalah sisa-sisa pengecutnya aku di masa lalu. Aku merahasiakannya darimu bukan karena ingin menipumu, Laras. Tapi karena aku takut kau akan melihatku sebagai seorang kriminal, bukan sebagai pria yang mencint**mu."
Aku terdiam. Penjelasannya ma**k akal, namun ada sesuatu yang mengganjal. "Lalu kenapa ada foto Maya di sana? Kakakku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan di Bandung sepuluh tahun lalu."
Arsen terdiam sejenak. Ia tampak terkejut, namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi kebingungan yang tulus. "Foto Maya? Di kotak itu?"
"Jangan berpura-pura, Arsen. Aku melihatnya."
Arsen berdiri, berjalan perlahan mengitari meja, lalu berlutut di samping kursiku. Ia memegang tanganku. Tangannya terasa dingin, namun genggamannya sangat erat.
"Laras, dengarkan aku baik-baik," ucapnya dengan nada yang sangat emosional, seolah-olah hatinya baru saja hancur karena tuduhanku. "Aku mencari tahu tentang Maya sejak kita pertama kali bertemu. Aku menyewa detektif swasta karena aku ingin membantumu menemukan jawaban. Aku menyimpan foto itu untuk kuberikan pada informanku. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku tidak ingin memberimu harapan palsu sebelum ada hasil yang pasti."
Ia menatapku dengan tatapan yang begitu terluka, seolah-olah pertanyaanku adalah sebuah pengkhianatan besar. "Apakah kau benar-benar berpikir aku sanggup menyakiti kakakmu? Setelah semua yang kita lalui? Setelah bagaimana aku menjagamu dari setiap serangan panikmu?"
Aku merasa oksigen di sekitarku menipis. Air matanya kini jatuh satu tetes, membasahi punggung tanganku. Rasa bersalah mulai merayap di dadaku, mencekik kecurigaan yang tadi sempat membara. Apakah aku terlalu paranoiac? Apakah traumaku membuatku melihat monster di balik sosok pria yang telah menyelamatkanku dari kegelapan?
"Aku... aku hanya bingung, Arsen. Semuanya terasa begitu mendadak," bisikku, mulai ragu pada ingatanku sendiri.
Arsen membawa tanganku ke bibirnya, menciumnya dengan lembut namun posesif. "Aku mengerti. Traumamu membuatmu sulit memercayai orang lain, bahkan aku. Aku memaafkanmu, Laras. Tapi tolong, jangan pernah meragukan cintaku lagi. Itu satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku saat ini."
Ia memelukku erat. Wajahku terbenam di bahunya yang lebar. Di dalam pelukannya yang hangat, aku memejamkan mata, mencoba meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, saat aku memejamkan mata, memori fotografisku memutar kembali det**l kartu identitas palsu di b**nkas tadi. Arsen bilang identitas itu dari masa lalunya di Bandung sepuluh tahun lalu. Tapi, aku ingat dengan sangat jelas tanggal penerbitan yang tertera di kartu itu: *tiga tahun yang lalu.*
Tepat sebulan sebelum Maya menghilang.
Darahku mendadak dingin. Pelukan Arsen yang tadi terasa seperti pelindung, kini terasa seperti lilitan ular yang perlahan mulai mengencang di leherku. Aku tidak berani bergerak, bahkan tidak berani mengubah irama napasku, saat aku menyadari satu hal mengerikan: Pria yang sedang memelukku dengan penuh "cinta" ini baru saja berbohong tepat di depan wajahku.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!