Pukul delapan lewat tujuh menit, aku masih mencium aroma kopi yang menempel di lengan kemejaku.
Aku berlari menaiki tangga gedung lama Fakultas Komunikasi sambil menahan tas agar tidak memukul pinggang. Lift sudah lama mati. Menurut satpam, suku cadangnya belum datang sejak semester lalu. Bagi mahasiswa kelas malam, alasan seperti itu sudah menjadi bagian dari kurikulum tidak resmi: lampu lorong yang berkedip, AC yang hanya dingin di sudut tertentu, dan dosen yang sering menganggap kami tidak punya kehidupan sebelum pukul delapan.
Padahal dua puluh menit sebelumnya aku masih berdiri di balik mesin espresso Kafe Lentera, mengulang pesanan pelanggan yang berubah tiga kali.
“Es kopi susu, gulanya setengah, tapi tetap manis, Mbak.”
Keajaiban apa yang bisa memenuhi permintaan itu, aku tidak tahu.
Pintu Ruang 4.12 terbuka ketika aku sampai. Dua belas kepala menoleh bersamaan. Livia, yang duduk di baris kedua, mengangkat telunjuk ke bibir lalu menunjuk kursi kosong di sampingnya. Aku berusaha ma**k tanpa suara, tetapi sol sepatuku mencicit di lant**.
Lelaki di depan papan tulis berhenti menulis.
Ia bukan Dr. B**m Suryana.
Dosen kami biasanya datang dengan tumpukan map, suara keras, dan kemeja yang selalu tampak baru dikeluarkan dari plastik laundry. Lelaki ini hanya membawa laptop tipis dan satu spidol biru. Kemeja abu-abunya digulung sampai siku. Jam tangan hitam menempel rapi di pergelangan kiri. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang menghadapi satu kelas mahasiswa pekerja yang sudah kehabisan kesabaran.
“Maaf, Pak,” kataku.
Ia melihat jam dinding, lalu kembali menatapku. Tidak lama, tetapi c**up membuatku sadar apron hitam dari kafe masih menyembul dari dalam tas.
“Pukul delapan lewat tujuh,” katanya.
“Saya terlambat tujuh menit.”
“Pengamatan yang akurat.”
Beberapa orang tertawa kecil. Aku menahan napas, lalu duduk di samping Livia.
“Cakep,” bisiknya.
“Dosen kita hilang, yang kamu nilai muka penggantinya?”
“Justru karena dosen kita hilang.”
Lelaki itu menutup tutup spidol. Di papan tertulis: ETIKA KOMUNIKASI ORGANISASI. Di bawahnya ada satu kalimat: Setiap pesan membawa kepentingan.
“Nama saya Arga Mahendra,” ujarnya. “Selama enam minggu ke depan, saya menggantikan Dr. B**m untuk mata kuliah ini.”
Raka, ketua kelas, mengangkat tangan. “Pak, di portal belum ada perubahan jadwal.”
“Saya tahu.”
“Dr. B**m sakit?”
“Informasi yang bisa saya sampaikan hanya bahwa beliau sedang tidak mengajar.”
Nada suaranya datar, tetapi bukan dingin. Lebih seperti pintu yang ditutup pelan: tidak dibanting, tetap saja tidak boleh dibuka.
Ia menyalakan proyektor. Silabus yang tampil berbeda dari milik Dr. B**m. Tidak ada ujian akhir tertulis. Sebagai gantinya, ada presentasi ka**s, analisis komunikasi, dan tugas refleksi.
Keluhan langsung memenuhi ruangan.
“Pak, kami sudah bikin tugas sesuai silabus lama.”
“Bobot nilai bagaimana?”
“Kalau berubah mendadak, kami rugi.”
Aku membuka portal akademik di ponsel. Mata kuliah ini bernilai empat SKS dan menjadi syarat terakhir sebelum aku bisa mendaftar sidang. Nilai tugasku sejauh ini aman. A minus. Bukan sempurna, tetapi c**up untuk mempertahankan beasiswa semester akhir.
“Silabus lama tetap dihitung,” kata Arga. “Tidak ada pekerjaan kalian yang dibuang. Saya hanya mengubah metode evaluasi berikutnya.”
“Dengan dasar apa?” tanyaku sebelum sempat menahan diri.
Livia menyenggol lututku di bawah meja.
Arga menatapku. “Dengan dasar penugasan resmi dan kebutuhan audit pembelajaran.”
Kata audit membuat kelas hening sesaat.
“Audit apa?” Raka bertanya.
“Proses akademik. Bukan mahasiswa.”
Aku tidak puas. “Kalau prosesnya sedang diaudit, kenapa mahasiswa tidak diberi pemberitahuan tertulis?”
Ada jeda kecil. Arga menurunkan pandangan ke layar laptop, lalu kembali kepadaku.
“Nadira Pramesti,” katanya.
Jantungku seperti terantuk sesuatu.
Ia belum membuka daftar hadir.
Aku tahu karena halaman presensi masih tertutup di layar proyektor. Namaku juga tidak terpampang di meja. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Wajah seperti itu pasti akan kuingat, bukan karena Livia benar soal penampilannya, melainkan karena aku terbiasa mengingat orang yang berpotensi menjadi masalah.
“Bapak tahu nama saya dari mana?”
Ia tidak langsung menjawab. Tangan kirinya merapikan ujung lengan kemeja, gerakan kecil yang nyaris tidak terlihat.
“Data kelas.”
“Daftar hadir belum dibuka.”
“Nama mahasiswa bukan informasi rahasia.”
“Itu bukan jawaban.”
Raka berdeham. Livia kini menatapku dengan mata membesar. Orang-orang di belakang mulai saling berbisik.
Arga berjalan mendekati meja paling depan, tetapi berhenti pada jarak yang aman. “Kita akan membahas bagaimana informasi dipilih, disusun, dan digunakan untuk memengaruhi orang lain. Pertanyaan kamu relevan. Simpan keberanian itu untuk diskusi, bukan hanya untuk menguji dosen pengganti.”
Aku seharusnya tersinggung. Anehya, aku justru merasa ia sedang memberiku peringatan yang hanya bisa dipahami kami berdua.
Kelas dimulai.
Arga tidak mengajar seperti Dr. B**m. Ia tidak membaca slide. Ia memberi kami ka**s perusahaan yang menyembunyikan kecelakaan kerja, lalu meminta setiap kelompok menentukan siapa yang memegang kuasa atas narasi. Ketika jawaban kami terlalu aman, ia memotong dengan pertanyaan pendek.
“Siapa yang dirugikan?”
“Siapa yang diuntungkan jika semua orang diam?”
“Kalau dokumen resmi berkata A, tetapi fakta lapangan berkata B, mana yang kalian percaya?”
Pertanyaan terakhir membuat jariku berhenti di atas keyboard.
Aku teringat map cokelat di lemari rumah. Map yang dilarang Ibu kubuka. Map berisi salinan surat pemeriksaan ayah, potongan berita internal kampus, dan satu kartu akses lama dengan nama Hendra Pramesti.
Ayah pernah menjadi dosen di universitas ini. Tujuh tahun lalu, namanya dikaitkan dengan perubahan nilai beberapa mahasiswa. Ia mengundurkan diri sebelum proses selesai. Dua tahun lalu ia meninggal, masih dengan gosip yang tidak pernah benar-benar dibantah.
Aku memilih kuliah di Universitas Cakrawala karena beasiswa, bukan karena ingin menghidupkan masa lalu. Setidaknya itu yang selalu kukatakan pada diri sendiri.
“Saudari Nadira?”
Aku tersentak. Arga berdiri di dekat papan.
“Menurut kamu?”
Aku menatap ka**s di layar. “Dokumen resmi bisa dibuat oleh pihak yang punya akses. Fakta lapangan juga bisa dimanipulasi. Saya akan cari jejak perubahan: siapa yang ma**k, kapan diubah, dan siapa yang punya alasan.”
Untuk pertama kalinya, ekspresinya bergeser. Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan bahwa jawaban itu telah ia tunggu.
“Bagus,” katanya. “Jejak lebih sulit berbohong daripada orang.”
Kelas berakhir pukul sembilan lewat empat puluh. Mahasiswa berhamburan keluar. Raka mendekati Arga untuk membahas jadwal, sementara Livia menarik lenganku.
“Jangan pulang dulu,” bisiknya. “Aku mau tahu kenapa dosen baru itu hafal nama kamu.”
“Aku juga.”
Aku membuka portal akademik lagi. Entah kenapa, kebiasaan mengecek nilai muncul setiap selesai kelas. Mungkin karena beasiswa membuat angka terasa seperti denyut nadi: selama stabil, hidupku aman.
Layar memuat lambat.
Mata kuliah Etika Komunikasi Organisasi muncul di urutan pertama.
Aku berhenti berjalan.
Nilai tugasku bukan lagi A minus.
Di sana tertulis C.
Aku menekan det**l penilaian. Tugas analisis yang minggu lalu mendapat 87 kini tercatat 58. Tidak ada komentar. Tidak ada notifikasi revisi.
“Liv.”
Livia menoleh. “Kenapa?”
Aku menunjukkan layar.
“Lho, bukannya kemarin nilaimu tinggi?”
Aku mengambil tangkapan layar lama dari galeri. Tanggalnya jelas. Nilainya 87. Kini portal menunjukkan 58.
Di depan kelas, Arga sedang menutup laptop. Aku melangkah kembali sebelum pikiranku sempat menyusun cara yang lebih sopan.
“Pak.”
Ia menoleh.
Aku meletakkan ponsel di atas meja, menampilkan dua angka yang berbeda.
“Nilai saya berubah.”
Arga tidak terlihat terkejut. Itulah hal pertama yang membuat tengkukku dingin.
Ia membandingkan kedua layar, lalu mengangkat pandangan kepadaku.
“Jangan kirim ini ke grup kelas dulu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau ini yang saya pikirkan, orang yang mengubahnya perlu percaya bahwa kita belum melihat apa pun.”
Livia berhenti bernapas di sampingku.
Aku menatap lelaki yang bahkan belum satu jam menjadi dosenku. “Kita?”
Arga memegang spidol birunya terlalu erat, lalu melepaskannya.
“Nadira,” katanya pelan, “saya mengenal nama itu jauh sebelum malam ini.”
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!