Aku mengembalikan payung abu-abu pada malam ketika kami sepakat untuk tidak saling menyentuh.
Kalimat itu terdengar lebih dramatis daripada kejadian sebenarnya. Tidak ada adegan hujan. Tidak ada musik. Hanya lorong gedung lama, lampu putih, dan payung yang kubawa selama seminggu karena tidak menemukan waktu yang aman untuk menyerahkannya.
Pak Arga berdiri di depan Ruang 4.12 setelah kelas. Bu Ratih masih di dalam mengumpulkan kertas. Aku mengulurkan payung.
“Terima kasih.”
Ia menerimanya tanpa membiarkan jari kami bertemu. “Sama-sama.”
Satu minggu lalu, kehati-hatian seperti itu terasa menghina. Sekarang aku memahami bahwa setiap sentuhan bisa diambil dari konteks, dipotong, dan diubah menjadi bukti palsu. Namun memahami bukan berarti tidak merasa apa-apa.
“Komite memeriksa Bapak?” tanyaku.
“Ya.”
“Karena laporan B**m?”
“Karena laporan dan foto. Pemeriksaan itu wajar.”
“Bapak selalu bisa membuat sesuatu yang buruk terdengar seperti prosedur kantor.”
“Kadang prosedur adalah satu-satunya hal yang mencegah keputusan dibuat dari gosip.”
Bu Ratih keluar membawa map. “Saya ke ruang administrasi. Kalian boleh bicara lima menit di lorong ini. Kamera aktif.”
Ia mengucapkannya tanpa senyum, lalu pergi.
Aku bersandar pada dinding. “Saya menemukan sesuatu tentang akun Suara Cakrawala.”
“Dari mana?”
“Livia. Ia melacak waktu unggahan. Semua posting tentang saya dijadwalkan beberapa menit setelah koneksi dari jaringan fakultas aktif.”
“Jangan melakukan peretasan.”
“Kami tidak meretas. Livia melihat metadata gambar dan pola waktu.”
“Bagikan kepada Ratih, bukan hanya saya.”
“Sudah.”
Ia mengangguk, seolah bangga tetapi tidak mau menunjukkannya.
“Bapak bertemu B**m lagi?”
“Tidak langsung.”
“Dia mengirim pesan?”
“Dua. Semuanya sudah diteruskan.”
“Bagus.”
Kami berdiri dalam diam. Di luar, suara kendaraan dari jalan raya terdengar jauh.
“Apa keputusan komite?”
“Belum ada. Selama pemeriksaan, saya tetap mengajar tetapi tidak menilai kamu dan tidak boleh bertemu sendirian.”
“Bukankah itu sudah kita lakukan?”
“Sekarang tertulis.”
Aku menatap ujung payung di tangannya. “Saya marah waktu Bapak mengalihkan nilai.”
“Saya tahu.”
“Saya pikir Bapak menjauh karena takut.”
“Saya memang takut.”
“Terhadap apa?”
Ia mengangkat pandangan. “Bahwa perasaan saya akan dipakai untuk menghapus kerja keras kamu. Bahwa niat baik saya berubah menjadi bentuk kuasa yang tidak kamu pilih. Bahwa saya mengulang cara orang lain memutuskan hidup keluarga Pramesti tanpa melibatkan kalian.”
Dada terasa terlalu penuh.
“Dan sekarang?”
“Sekarang saya tetap takut. Bedanya, saya tidak akan memakai takut untuk diam.”
Aku menghitung empat ubin di lant**. “Kalau semua ini tidak terjadi—nilai, foto, ayah—apakah Bapak tetap akan memperhatikan saya?”
Pertanyaan itu melanggar wilayah yang kami jaga. Aku tahu. Ia juga tahu.
Pak Arga merapikan lengan kemeja. “Saya tidak bisa menjawab tanpa mengubah hubungan ini.”
“Hubungan apa? Dosen dan mahasiswa?”
“Ya.”
“Enam minggu lagi selesai.”
“Penilaian, audit, dan status resmi harus selesai. Bukan hanya jadwal kelas.”
Aku tertawa kecil, pahit. “Bapak membuat daftar syarat bahkan untuk perasaan.”
“Karena perasaan bukan alasan untuk mengabaikan konsekuensi.”
Aku hendak pergi. Ia memanggil namaku.
“Nadira.”
Aku menoleh.
“Saya tidak meminta kamu menunggu. Saya juga tidak mengharapkan apa pun setelah ini.”
“Lalu?”
“Saya menunggu sampai saya tidak punya kuasa apa pun atas kamu. Setelah itu, kalau kamu tidak ingin melihat saya lagi, saya akan menerima.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti rayuan. Justru karena itu, ia ma**k lebih dalam.
Aku berdiri di antara ingin mendekat dan ingin menjaga diri. Akhirnya aku hanya mengangguk.
“Baik. Selama menunggu, kita selesaikan yang lain.”
“Yang lain?”
“Akun anonim, berkas ayah, halaman hilang.”
Pak Arga membuka map. “Ada perkembangan. Dokumen kotak Pramesti menunjukkan halaman lampiran terakhir diserahkan kepada saksi keluarga.”
“Ibu?”
“Tidak ada nama. Hanya inisial M.P.”
Mira Pramesti.
Aku merasakan rasa bersalah datang lebih dulu daripada marah. Ibu sudah kehilangan ayah. Mungkin ia menyimpan bukti karena takut. Tapi jika halaman itu bisa membersihkan nama ayah, mengapa membiarkan aku tumbuh dengan setengah kebenaran?
“Jangan langsung menekan ibumu,” kata Pak Arga.
“Saya tahu cara bicara dengan Ibu.”
“Saya tidak meragukan itu.”
“Bapak baru saja memberi perintah.”
“Saran.”
“Dengan suara perintah.”
Untuk sesaat, senyum kecil muncul di wajahnya.
Bu Ratih kembali dari ujung lorong. Lima menit selesai. Aku berjalan ke tangga, lalu berhenti ketika ponsel bergetar.
Livia mengirim satu foto layar.
Ia berhasil menemukan arsip unggahan Suara Cakrawala yang sudah dihapus. Salah satunya dibuat tujuh tahun lalu, ketika akun itu masih memakai nama berbeda.
Judulnya: DOSEN IDEALIS ATAU PEMALSU NILAI?
Foto ayah muncul di bawahnya.
Di bagian informasi file tertulis bahwa unggahan dijadwalkan melalui komputer fakultas dengan nama pengguna:
DIMAS.PRAKOSO.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!