Livia tidak pernah menganggap dirinya penyelidik.
Menurutnya, ia hanya orang yang terlalu mudah penasaran dan terlalu sulit membiarkan temannya difitnah. Namun malam itu ia datang ke Kafe Lentera membawa laptop, dua charger, dan sekotak donat seperti seseorang yang akan membongkar organisasi kriminal.
“Aku tidak meretas apa pun,” katanya sebelum duduk. “Aku ulangi: tidak meretas.”
“Aku belum menuduh.”
“Wajahmu menuduh.”
Ia membuka arsip halaman yang disimpan layanan cache publik. Akun Suara Cakrawala pernah memakai nama Bicara Kampus. Tujuh tahun lalu, akun itu menyebarkan unggahan tentang ayah. Metadata gambar yang tertinggal menunjukkan nama pengguna Dimas Prakoso.
“Bisa saja komputer dipakai orang lain,” kataku.
“Nah, akhirnya kamu belajar dari Pak Arga. Selalu curiga, jangan langsung menikah dengan teori.”
“Jangan pakai kata menikah.”
Livia tersenyum, lalu menjadi serius. “Ada hal lain. Unggahan tentang foto parkiran dijadwalkan dari jaringan fakultas. File aslinya ma**k ke folder server pukul 22.19. Saat itu kamu belum sampai rumah.”
“Artinya yang mengambil foto langsung mengunggah dari kampus.”
“Ya. Dan orang itu punya akses ke panel lama akun.”
“Dimas.”
“Belum tentu. Tapi namanya muncul di jejak lama.”
Kami mengirim semua temuan ke Bu Ratih melalui surel resmi. Lima menit kemudian ia membalas bahwa data akan diverifikasi tim TI dan meminta kami tidak menghubungi Dimas.
Livia menutup laptop. “Sekarang soal lain.”
“Apa?”
“Kenapa kamu tidak bilang Pak Arga sudah mengenal ayahmu?”
Aku menegang. “Aku baru tahu det**lnya beberapa hari lalu.”
“Tapi kamu tahu sebelum foto kedua.”
“Aku belum siap cerita.”
“Aku sahabatmu, Nad.”
“Justru karena itu. Aku tidak mau menyeret kamu.”
Livia tertawa tanpa lucu. “Jadi kamu dan dosenmu sepakat melindungi aku dengan menyimpan informasi?”
Kalimat itu membuatku terdiam.
“Aku tidak sepakat dengannya.”
“Tapi kamu melakukan hal yang sama.”
Ia benar. Aku merasa berhak marah ketika Pak Arga menentukan informasi apa yang bisa kutanggung, lalu melakukan hal serupa kepada Livia.
“Aku minta maaf.”
Livia menatap gelasnya. “Aku sempat dituduh membocorkan foto karena aku punya foto grup kelas dan sering mengunggah story. Raka bahkan bertanya apakah aku mengelola akun itu.”
“Raka menuduhmu?”
“Dia panik. Aku juga marah. Tapi yang paling bikin sakit, kamu tidak bilang apa-apa dan aku harus mencari sendiri supaya bisa membela kamu.”
Aku meraih tangannya di atas meja. “Aku salah.”
Ia membiarkan tanganku di sana. “Jangan ulangi.”
“Tidak.”
“Dan kalau nanti kamu pacaran sama Pak Arga setelah semua selesai, aku minta hak veto untuk kencan pertama.”
Aku menarik tangan. “Kita sedang membahas akun anonim.”
“Aku bisa multitugas.”
Kami tertawa untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.
Malam berikutnya, Bu Ratih mengumpulkan aku, Livia, Raka, dan Pak Arga di ruang rapat. Dimas tidak hadir. Tim TI sudah memverifikasi bahwa beberapa unggahan dijadwalkan dari jaringan fakultas, tetapi log pengguna telah dihapus.
“Apakah nama komputer ADM04 c**up?” tanya Raka.
“Tidak,” kata Pak Arga. “Nama perangkat bisa diubah.”
Livia menyodorkan arsip lama. “Tapi nama Dimas muncul sejak tujuh tahun lalu.”
“Bukti pendukung,” jawab Bu Ratih. “Belum bukti utama.”
Aku melihat Pak Arga. Ia tetap profesional, tidak mengambil alih rapat. Sejak peninjauan etik dimulai, ia berbicara hanya jika diminta.
Bu Ratih menampilkan peta jaringan. “Unggahan dibuat dari satu titik akses di lant** tiga, dekat ruang administrasi dan ruang server. Kamera koridor pada malam foto bocor sedang tidak aktif karena pemeliharaan.”
“Siapa yang mengajukan pemeliharaan?” tanyaku.
Ratih membuka dokumen. “Dimas.”
Raka mengumpat pelan.
“Sekali lagi,” kata Pak Arga, “itu menunjukkan kesempatan, belum tindakan.”
Ponsel Livia bergetar. Ia melihat layar lalu wajahnya memucat.
Akun Suara Cakrawala mengunggah foto baru.
Kali ini bukan aku dan Pak Arga.
Foto Livia sedang duduk di Kafe Lentera dengan laptop terbuka. Di layar tampak halaman arsip akun anonim.
Keterangan unggahan:
Teman paling dekat sering menjadi orang yang paling mudah menjual rahasia.
Komentar pertama sudah menuduh Livia sebagai admin akun.
Ia menatapku. “Mereka memotret kita tadi malam.”
Pak Arga berdiri. “Jangan pulang sendiri.”
Bu Ratih meminta keamanan kampus membuat laporan. Raka langsung menawarkan mengantar Livia bersama adiknya. Aku memegang bahu sahabatku.
“Aku percaya kamu,” kataku.
Livia menatapku lama, lalu mengangguk. “Bagus. Karena aku baru menemukan sesuatu sebelum unggahan ini ma**k.”
Ia memutar laptop ke arah kami.
Pada arsip akun lama, ada pengaturan jadwal yang hanya bisa diakses dari surel pemulihan. Alamatnya disamarkan, tetapi domain internal masih terlihat.
@fkom.cakrawala.ac.id
Dua huruf pertama nama pengguna muncul sebelum tanda bintang:
br********
B**m.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!