Berkas bernama Pramesti dipindahkan ke ruang rapat yang memiliki kamera dan lemari tahan api.
Bu Ratih mengizinkanku membaca hasil pindai dengan syarat tidak memotret dokumen yang memuat data mahasiswa lain. Pak Arga tidak duduk di sampingku. Ia berada di ujung meja bersama staf audit, c**up dekat untuk menjawab pertanyaan, c**up jauh agar tidak terlihat membimbing.
Halaman pertama adalah laporan ayah.
Hendra Pramesti mencatat dua puluh tiga perubahan nilai dalam tiga semester. Beberapa mahasiswa membayar “biaya konsultasi” kepada pihak luar yang terhubung dengan staf fakultas. Nilai mereka berubah setelah formulir revisi dibuat mundur. Ayah melampirkan log waktu, percakapan, dan daftar akun.
Di margin, tulisannya masih kukenal: kecil, condong ke kanan, sering menekan pena terlalu keras.
Periksa akses BRS-04. Jangan percaya cetakan akhir tanpa log asli.
Aku menyentuh layar, lupa bahwa itu hanya hasil pindai.
“Dia tahu akun itu,” kataku.
Pak Arga mengangguk. “BRS singkatan dari Biro Revisi Sistem. Unit sementara yang dibentuk B**m saat migrasi portal.”
“Kenapa akun masih aktif?”
“Karena aksesnya tidak pernah benar-benar dicabut atau dibuat ulang dengan identitas lain.”
Halaman berikutnya adalah berita acara pemeriksaan ayah. Pertanyaan-pertanyaannya tidak mencari kebenaran. Semuanya dirancang agar ia mengakui telah mengakses data tanpa izin. Laporan tentang perubahan nilai berubah menjadi tuduhan pelanggaran prosedur.
Pada halaman keenam, status ayah berganti dari pelapor menjadi terperiksa.
Aku membaca satu kalimat berulang kali:
Saudara Hendra diduga memodifikasi salinan log untuk membangun narasi ketidakberesan akademik.
“Ini bohong,” kataku.
“Ya,” jawab Pak Arga.
“Bagaimana Bapak yakin?”
“Karena saya melihat log asli sebelum hilang.”
“Dan Bapak tidak bersaksi.”
Ia tidak menunduk kali ini. “Saya tidak bersaksi.”
Rasa marah datang, tetapi bentuknya berbeda. Tidak lagi seperti api yang ingin menghancurkannya. Lebih seperti luka yang akhirnya memiliki nama.
Aku melanjutkan membaca.
Di antara memo resmi, ada catatan tangan ayah tentang seorang mahasiswa yang menolak menarik kesaksian meski diancam. Inisialnya A.M. Pada baris terakhir, ayah menulis:
Arga masih muda. Jangan biarkan mereka menghancurkan masa depannya karena kesalahan saya membawanya terlalu dekat.
Aku berhenti.
“Dia melindungi Bapak.”
Pak Arga menutup mata sebentar. “Saya baru tahu catatan itu ada.”
“Jadi surat rekomendasi bukan karena ia sudah memaafkan. Ia memang memilih menanggung risiko.”
“Dan saya membiarkannya.”
Aku menatapnya. “Ayah juga memilih untuk tidak melibatkan Bapak penuh. Kalian berdua suka memutuskan atas nama orang lain.”
Senyum pahit muncul di wajahnya. “Kamu benar.”
Halaman terakhir sebelum daftar lampiran berisi ringkasan temuan. Di sana, ayah menulis bahwa otorisasi perubahan berasal dari koordinator unit, tetapi nama orangnya ditutup tinta hitam pada salinan resmi.
Aku memperbesar pindai. Di bawah tinta, bayangan huruf masih terlihat: B... Sury...
“B**m.”
Bu Ratih mendekat. “Jangan menyimpulkan hanya dari bayangan. Kita perlu dokumen asli dan teknik pemeriksaan.”
“Dokumen asli ada?”
“Yang ini salinan karbon. Aslinya terma**k dalam lampiran yang hilang.”
Daftar lampiran berhenti pada nomor delapan. Nomor sembilan sampai dua belas tidak ada. Bekas sobekan terlihat di jilid.
“Apa yang tercatat pada indeks?” tanya Pak Arga.
Staf audit membuka basis data lama. “Lampiran sembilan: log akses. Sepuluh: salinan surel. Sebelas: surat pernyataan saksi. Dua belas: bukti serah terima kepada M.P.”
M.P. Ibu.
Aku pulang lebih awal dan langsung ma**k ke kamar Ibu. Ia sedang melipat pakaian.
“Ibu menerima dokumen dari ayah sebelum ia diperiksa?”
Tangannya berhenti.
“Siapa yang bilang?”
“Berkas kampus.”
Wajahnya memucat. “Nadira, hentikan.”
“Halaman terakhir diserahkan kepada M.P. Itu Ibu, kan?”
Ia berdiri. “Kamu tidak tahu apa yang terjadi waktu itu.”
“Karena Ibu tidak pernah cerita.”
“Ayahmu pulang setiap malam dengan orang mengikuti. Telepon rumah berdering tanpa suara. Kamu masih sekolah. Ia bilang kalau sesuatu terjadi, aku harus menjaga kamu.”
“Dengan membiarkan semua orang percaya ia bersalah?”
“Dengan memastikan kita tetap hidup normal.”
“Ini bukan hidup normal. Saya memilih jurusan, kampus, bahkan cara bicara berdasarkan gosip yang tidak pernah kita lawan.”
Ibu menampar meja, bukan aku. “Karena aku kehilangan suamiku! Aku tidak mau kehilangan anakku untuk ka**s yang sama.”
Kami terdiam, sama-sama menangis tanpa ingin mengaku.
“Ada surat?” tanyaku pelan.
Ibu memalingkan wajah. “Tidak.”
Aku tahu ia berbohong.
Keesokan malam, aku kembali ke ruang arsip untuk memeriksa foto lama. Pada salah satu foto kegiatan, ayah berdiri bersama B**m dan Arga muda. Pak Arga memegang spidol biru. Di belakang foto, ada catatan tanggal dan satu kalimat:
Salinan terakhir diberikan kepada orang yang paling dekat agar tidak bisa dihapus dari kampus.
Saat membalik foto kedua, sebuah amplop tipis jatuh dari sela karton.
Kosong.
Namun pada bagian depan tertulis dengan tulisan ayah:
Untuk Mira. Buka hanya jika Nadira memilih mencari kebenaran sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!