Saya menunggu Dimas di parkiran staf pukul enam sore.
Bukan untuk mengancam. Bukan juga untuk memaksa pengakuan. Saya hanya ingin melihat apakah seseorang yang merasa diawasi akan mengubah kebiasaannya.
Dimas keluar dari gedung membawa tas laptop dan satu map cokelat. Ketika melihat saya di dekat mobil, langkahnya melambat.
“Pak Arga belum pulang?”
“Belum.”
“Menunggu siapa?”
“Kamu.”
Ia tertawa kecil. “Saya bukan mahasiswa yang perlu konsultasi.”
“Nama perangkat ADM04 muncul pada dokumen palsu.”
Senyumnya hilang. “Komputer kantor dipakai banyak orang.”
“Nama kamu juga muncul pada arsip akun lama.”
“Metadata bisa dibuat.”
“Benar.”
Ia tampak terkejut karena saya tidak langsung menuduh.
“Saya ingin memberi kesempatan sebelum komite memanggil,” lanjut saya. “Kalau ada orang yang memakai aksesmu, sekarang waktu menjelaskan.”
Dimas menggenggam tali tas. “Bapak pikir saya bodoh?”
“Saya pikir kamu takut.”
“Takut kehilangan pekerjaan bukan kejahatan.”
“Tidak. Mengubah nilai dan mengintimidasi mahasiswa adalah kejahatan akademik.”
Ia mendekat satu langkah. “Bapak tidak tahu bagaimana sistem ini bekerja. Dosen bicara integritas, staf yang disuruh menekan tombol. Kalau ada masalah, staf juga yang dibuang.”
“Siapa yang menyuruh?”
Ia menatap gedung, bukan saya. “Saya tidak bilang ada yang menyuruh.”
“B**m?”
Wajahnya menegang.
Sebuah mobil putih ma**k ke parkiran. Dimas segera mundur.
“Saya harus pulang.”
“Dimas, kalau kamu menunggu sampai bukti lengkap, B**m akan menjadikanmu satu-satunya pelaku.”
Ia berhenti. Untuk sesaat, saya melihat seseorang yang ingin bicara.
Lalu ponselnya berdering. Nama B**M muncul di layar sebelum ia membalikkan perangkat.
Dimas pergi tanpa menjawab.
Malamnya, Ratih memberi tahu bahwa halaman lampiran mungkin berada di tangan Mira Pramesti. Nadira sudah mendatangi ibunya dan percakapan mereka berakhir buruk.
“Jangan hubungi Nadira,” kata Ratih. “Beri ruang.”
“Saya tahu.”
“Apakah kamu benar-benar tahu? Karena wajahmu mengatakan ingin pergi ke rumahnya.”
“Saya tidak akan.”
Ratih menyerahkan map pemeriksaan. “Komite menemukan tidak ada perubahan nilai yang dilakukan akunmu. Tetapi laporan konflik kepentingan tetap berjalan.”
“Wajar.”
“B**m akan memberi keterangan besok.”
“Saya ingin hadir.”
“Tidak. Kamu pihak terperiksa.”
Saya menerima keputusan itu, meski seluruh tubuh menolak diam.
Pukul sembilan, sebuah pesan dari Nadira ma**k melalui surel resmi, bukan aplikasi pribadi.
Subjek: Foto dan Amplop.
Ia melampirkan foto amplop kosong bertuliskan pesan Hendra untuk Mira. Isi surelnya singkat:
Ibu menyimpan surat asli. Ia belum mau menyerahkan. Saya akan mencoba bicara lagi tanpa menekan. Mohon ma**kkan foto ini ke berkas audit.
Tidak ada sapaan personal. Tidak ada pertanyaan. Itu cara Nadira menjaga dirinya ketika terluka.
Saya membalas melalui jalur yang sama:
Sudah diterima dan diteruskan kepada Bu Ratih. Jangan menemui siapa pun terkait ka**s ini sendirian. Keputusan untuk berbicara dengan Ibu tetap milik kamu.
Saya menghapus tiga kalimat lain sebelum mengirim: Saya minta maaf. Kamu tidak harus kuat sendiri. Saya ingin berada di sana.
Ketiganya benar. Ketiganya tidak pantas dikirim dari dosen kepada mahasiswa saat proses etik berlangsung.
Esok siangnya, B**m datang memberi keterangan. Saya tidak berada di ruang komite, tetapi melihatnya keluar dengan wajah sant**. Ia berhenti di depan ruang dosen tamu.
“Kamu sudah bicara dengan Dimas,” katanya.
“Dia yang memberi tahu?”
“Semua orang memberi tahu saya pada akhirnya.”
“Terma**k Mira?”
Senyumnya berubah tipis. “Hati-hati membawa nama keluarga ke urusan kampus.”
“Surat Hendra menyebut Anda?”
Untuk pertama kalinya, B**m tidak langsung menjawab.
Saya mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada pengakuan: ketakutan.
“Tidak ada surat,” katanya.
“Saya tidak bilang surat itu ditemukan.”
Ia menatap saya lama, lalu pergi.
Saya mengirim catatan percakapan kepada Ratih. Beberapa menit kemudian, alarm kebakaran gedung berbunyi. Semua orang keluar. Tidak ada api; hanya sensor di ruang arsip yang diaktifkan manual.
Ketika kami kembali, lemari tahan api masih tertutup. Namun komputer audit menyala dan satu folder pindai telah dicoba dihapus.
Akses gagal karena enkripsi.
Nama pengguna percobaan muncul di layar:
D.PRakoso.
Di saat yang sama, Nadira menelepon Ratih. Suaranya terdengar dari speaker.
“Ibu saya akhirnya mau bicara,” katanya. “Ia bilang surat ayah masih ada. Dan ada satu nama yang disebut langsung.”
Ratih bertanya, “Siapa?”
Sebelum Nadira menjawab, sambungan terputus.
Saya menelepon kembali melalui nomor kantor. Tidak tersambung.
Dua puluh menit kemudian, pesan ma**k dari ponselnya:
Jangan cari saya. Saya bersama Ibu. Kami aman.
Di bawahnya ada foto halaman pertama surat Hendra.
Kalimat pembuka terbaca jelas:
Mira, jika sesuatu terjadi pada saya, simpan bukti ini jauh dari B**m Suryana.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!