Ibu menyimpan surat ayah di dalam kaleng biskuit yang sudah bertahun-tahun kami pakai untuk menyimpan benang jahit.
Aku hampir tertawa ketika melihatnya. Selama ini aku membayangkan bukti rahasia berada di b**nkas atau kotak terkunci, padahal ia tinggal di lemari ruang tamu, di bawah gulungan pita dan kancing baju.
Ibu meletakkan kaleng itu di meja.
“Ayahmu bilang tempat paling aman adalah tempat yang terlalu biasa untuk dicurigai.”
Tangannya gemetar saat mengeluarkan amplop. Di dalamnya ada surat empat halaman, salinan log, dan kartu memori kecil.
“Apa isi kartu ini?”
“Rekaman percakapan. Aku tidak pernah berani membuka.”
“Kenapa sekarang?”
Ibu menatapku dengan mata merah. “Karena kamu sudah memilih mencari. Dan aku sadar diamku tidak membuatmu aman. Hanya membuatmu sendirian.”
Kami membaca surat bersama.
Ayah menulis bahwa B**m mengendalikan unit revisi sementara dan menggunakan staf untuk mengubah nilai. Ia mencatat Dimas sebagai operator muda yang sering diperintah, belum sebagai pengendali. Ia juga menulis tentang Arga—mahasiswa yang punya bukti tetapi menjadi sasaran ancaman.
Jangan salahkan Arga jika ia mundur, tulis ayah. Saya yang membawanya terlalu dekat. Tapi jika suatu hari ia kembali, pastikan ia tidak mengulang kesalahan saya: melindungi orang dengan mengambil keputusan dari mereka.
Aku menangis saat membaca kalimat itu.
Ayah mengenal kami berdua lebih baik daripada kami memahami diri sendiri.
Bu Ratih meminta surat asli dibawa ke kampus dengan pengamanan. Ibu ikut. Di ruang rapat, dokumen dipindai dan kartu memori disalin. Rekaman pertama hanya suara statis. Rekaman kedua memperdengarkan ayah dan B**m berdebat.
“Kamu pikir senat akan percaya pada log curian?” suara B**m berkata.
“Log bukan curian. Saya menerima akses resmi.”
“Akses bisa dicabut. Reputasi juga.”
“Nilai mahasiswa diperjualbelikan.”
“Jangan menjadi martir, Hendra.”
Rekaman berhenti sebelum ada pengakuan langsung, tetapi c**up untuk membuktikan ayah adalah pelapor.
Setelah Ibu pulang bersama Ratih, aku kembali ke ruang arsip untuk mencocokkan surat dengan berkas. Pak Arga sudah ada di sana bersama seorang staf. Ketika staf keluar mengambil scanner, kami tinggal beberapa menit dengan pintu terbuka.
“Bapak sudah dengar rekamannya?” tanyaku.
“Ya.”
“Ayah tidak menyalahkan Bapak.”
“Itu tidak menghapus pilihan saya.”
“Tidak. Tapi mungkin Bapak tidak perlu menghukum diri seumur hidup.”
Ia menatap surat di tanganku. “Kamu terdengar seperti beliau.”
“Aku—saya—tidak tahu apakah itu pujian.”
“Hampir selalu.”
Aku duduk di tepi meja. Hari itu terlalu panjang. Pertengkaran dengan Ibu, surat ayah, suara B**m, semua bercampur. Pak Arga berdiri di dekat rak, tampak sama lelahnya.
“Surat ini menyebut B**m langsung,” kataku. “Ka**s seharusnya selesai.”
“Surat membuktikan keyakinan ayahmu. Kita tetap perlu menghubungkannya ke perubahan nilai baru.”
“Selalu belum c**up.”
“Bukti yang kuat harus bertahan ketika diserang.”
Aku tahu ia benar, tetapi kelelahan membuat kesabaran tipis.
“Bapak pernah berpikir kita tidak akan menang?”
“Setiap hari.”
“Lalu kenapa lanjut?”
“Karena kamu lanjut.”
Kalimat itu membuatku menatapnya.
Jarak kami sekitar satu meter. Tidak ada meja di antara. Pintu terbuka, kamera lorong aktif, tetapi untuk sesaat semua aturan terasa sangat jauh.
“Aku tidak selalu kuat,” kataku, lupa memakai saya.
“Saya tahu.”
“Bapak tidak tahu. Bapak hanya melihat saya marah atau bertanya.”
“Saya melihat kamu menghitung benda saat takut. Saya melihat kamu tetap ma**k kelas ketika semua orang menatap. Saya melihat kamu meminta bukti bahkan ketika jawaban yang mudah akan membuatmu merasa lebih baik.”
Suara napasku terdengar terlalu keras.
“Jangan memperhatikan saya seperti itu.”
“Baik.”
“Tapi jangan berhenti.”
Ia menutup mata sesaat.
Aku turun dari meja dan melangkah mendekat. Bukan karena ingin menggunakan kelemahanku. Bukan karena ia dosen. Justru karena di ruangan itu, setelah membaca pesan ayah, aku ingin satu hal yang tidak berhubungan dengan bukti.
Pak Arga tidak bergerak.
Wajah kami dekat. Aku bisa mencium aroma kopi dan kertas tua. Tangannya terangkat, lalu berhenti di udara sebelum menyentuh siku.
“Nadira,” katanya, suaranya hampir berbisik.
“Apa?”
“Saya tidak akan mengambil sesuatu yang mungkin kamu sesali saat saya masih punya kuasa.”
“Aku tahu apa yang kulakukan.”
“Saya percaya. Tapi situasinya tetap tidak setara.”
Aku ingin membencinya karena mundur. Sebaliknya, rasa hormat datang begitu menyakitkan hingga mataku panas.
Ia menyentuh sikuku hanya untuk menstabilkan ketika kakiku mengenai kotak di lant**, lalu segera melepaskan.
“Maaf,” katanya.
“Jangan minta maaf karena melakukan hal benar.”
“Hal benar tidak selalu terasa baik.”
Staf audit kembali dari lorong. Kami menjauh sebelum ia ma**k.
Aku membuka halaman terakhir surat untuk mengalihkan napas. Ada catatan tambahan yang belum dibaca Ibu karena tintanya sangat kecil.
B**m tidak bekerja sendiri. Ia memakai akses Dimas, tetapi salinan log terakhir disimpan pada flashdisk hitam di ruang server. Kode cadangan: 2147.
Aku menunjukkan kepada Pak Arga.
“Dua satu empat tujuh,” katanya.
“Pukul 21.47?”
“Mungkin waktu.”
Ponselnya berdering. Pesan dari Ratih:
Arga, datang ke ruang komite sekarang. Ada bukti baru yang mengarah kepadamu.
Ia membaca, lalu menatapku.
“Apa?” tanyaku.
“Dokumen audit menunjukkan akses ke ruang server memakai kartu saya.”
“Bapak tidak ma**k.”
“Saya tahu.”
“Jadi seseorang menyalin kartu.”
“Orang itu sedang memastikan surat ayahmu tidak menjadi akhir.”
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!