Ruang komite etik selalu terlalu dingin.
Saya duduk di hadapan Ratih dan dua anggota senat fakultas. Di layar, rekaman akses menunjukkan kartu saya membuka ruang server pukul 21.47 pada malam sebelum log nilai dibersihkan. Kamera di lorong mati selama tujuh menit. Setelah akses itu, sebuah flashdisk hitam tercatat terhubung ke komputer utama.
“Di mana Anda pada waktu tersebut?” tanya anggota komite.
“Mengajar di Ruang 4.12 sampai pukul 21.42. Setelah itu saya berbicara dengan Raka di depan kelas hingga sekitar 21.55.”
“Bisa dibuktikan?”
“Raka dan beberapa mahasiswa melihat. Kamera lant** empat juga aktif.”
“Apakah kartu Anda pernah hilang?”
“Tidak.”
“Pernah dipinjamkan?”
“Tidak.”
“Siapa yang bisa menggandakannya?”
“Staf dengan akses encoder kartu.”
Nama Dimas tidak saya ucapkan. Bukan karena melindungi, tetapi karena komite membutuhkan fakta, bukan dugaan.
Ratih memutar dokumen lain. Daftar “nilai pesanan” memuat nama Nadira, dua belas mahasiswa, dan tanda tangan saya. Metadata palsu sudah diketahui, tetapi kini ada log yang seolah menunjukkan file dibuat dari laptop saya.
“Seseorang menanam salinan pada perangkat Anda,” kata Ratih.
“Atau komite menganggap saya membuatnya,” jawab saya.
Salah satu anggota senat menyandarkan tubuh. “Pak Arga, Anda memiliki motif pribadi untuk membersihkan nama Hendra Pramesti. Anda menerima kelas putrinya dengan sengaja. Anda mengantar mahasiswa tersebut pulang. Sekarang bukti digital mengarah ke kartu dan laptop Anda.”
“Saya memahami kesimpulannya.”
“Apakah Anda memiliki hubungan romantis dengan Nadira?”
“Tidak.”
“Perasaan pribadi?”
Saya menahan napas. Berbohong akan merusak semua yang saya coba lindungi. Mengaku bisa dipakai untuk menghancurkan Nadira.
“Saya memiliki keterikatan emosional yang saya sadari dan batasi. Karena itu penilaiannya dipindahkan sebelum ada keputusan akademik lebih lanjut. Tidak ada hubungan fisik, janji nilai, atau komunikasi yang tidak dapat diperiksa.”
Ratih menatap saya, tetapi tidak menyela.
“Apakah Nadira mengetahui?”
“Ia mengetahui saya menjaga batas. Tidak ada komitmen pribadi.”
Komite berunding singkat. Keputusannya dibacakan tanpa emosi: saya diskors sementara dari pengajaran dan akses kampus sampai pemeriksaan selesai.
Saya menyerahkan kartu identitas, laptop institusi, dan kunci ruang dosen.
Di lorong, Nadira menunggu bersama Livia. Saya tidak tahu siapa yang memberi tahu, mungkin Ratih. Wajahnya pucat ketika melihat kartu akses di tangan petugas.
“Mereka menskors Bapak?”
“Ya.”
“Karena log palsu?”
“Karena bukti perlu diperiksa.”
“Jangan bicara seperti surat edaran.”
Livia berdiri beberapa langkah di belakang, memberi ruang tetapi tetap menjadi saksi.
“Saya tidak boleh mengakses kampus untuk sementara,” kata saya. “Bu Ratih akan melanjutkan audit.”
“Kita punya surat ayah.”
“Surat itu membantu, tetapi tidak membuktikan siapa memakai kartu saya.”
“Bapak mengajar pada pukul 21.47. Satu kelas bisa bersaksi.”
“Benar.”
“Lalu kenapa diskors?”
“Karena proses harus bebas dari pengaruh saya.”
Nadira menahan air mata dengan marah. “Bapak akan menerima saja?”
“Saya akan menyerahkan pembelaan melalui jalur resmi.”
“Dan saya?”
“Kamu jangan membela saya.”
Wajahnya berubah. “Bapak masih menentukan pilihan saya.”
“Saya meminta, bukan menentukan. Kalau kamu tampil membela saya sekarang, B**m akan mengatakan semua bukti ayahmu dibangun karena hubungan pribadi.”
“Kalau saya diam, mereka menjadikan Bapak tersangka.”
“Nama ayahmu lebih penting daripada karier saya.”
“Jangan berani-berani memutuskan itu untuk saya.”
Kalimatnya bergema di lorong.
Saya ingin mengatakan bahwa ia lebih penting daripada semuanya. Tetapi itu akan menjadi beban, bukan hadiah.
“Baik,” kata saya. “Keputusan tetap milik kamu. Saya hanya minta pisahkan fakta tentang ka**s ayahmu dari pembelaan terhadap saya.”
Ia menghapus air mata. “Saya bisa melakukan keduanya.”
“Saya tahu.”
Petugas keamanan menunggu di ujung lorong. Saya harus pergi.
“Nadira,” kata saya. “Jangan cari ruang server sendiri.”
“Bapak tidak punya wewenang memerintah saya lagi.”
Hampir saja saya tersenyum. “Benar.”
Saya meninggalkan kampus tanpa menoleh, karena jika melihatnya sekali lagi, saya mungkin melupakan seluruh alasan untuk menjaga jarak.
Di luar gerbang, ponsel pribadi saya menerima surel anonim.
Lampiran: daftar nilai pesanan versi baru.
Nama Nadira berada di baris pertama, dengan keterangan:
PENERIMA KEUNTUNGAN — HUBUNGAN KHUSUS DENGAN ARGA MAHENDRA.
Di bawahnya ada ancaman:
Jika sidang dibuka, daftar ini dikirim ke seluruh penerima beasiswa dan media.
Saya meneruskan surel kepada Ratih tanpa menghubungi Nadira.
Lima menit kemudian, pesan dari Ratih ma**k:
Terlambat. Dokumen sudah tersebar. Beasiswa Nadira dibekukan sementara.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!